Oleh: Aril (Ari Loru)
“Berdiri tegak di depan aku, cium keningku tuk yang terakhir.”
Bait itu seakan merobek sunyi, ciptaan Mario G Klau, maestro galau dari Timur Indonesia yang puisinya dinyanyikan penuh emosi oleh Lyodra Ginting, juara Indonesian Idol 2020. Lagu berjudul Pesan Terakhir yang dirilis pada 16 Juli 2021 ini bukan sekadar lagu patah hati ia menjelma doa perpisahan, yang dalam setiap nadanya menaruh luka, cinta, dan kerelaan.
Bagi sebagian orang, Pesan Terakhir adalah kisah dua insan yang saling mencinta tapi tak bisa bersama. Namun bagi saya, ia adalah percakapan sunyi antara seorang anak dan ayahnya. Tentang pertemuan yang berakhir, tapi kasih yang tak pernah selesai.
Baca Juga: Air Mata Garuda di Pelupuk Mata Jay Idzes
Mario G Klau, penyanyi sekaligus penulis lagu asal Timur, punya kekuatan merangkai kehilangan menjadi keindahan. Banyak karyanya dibawakan Lyodra, Keisya Levronka, dan Anggi Marito adalah bentuk refleksi dari keikhlasan manusia menerima takdir. Ia menulis dengan hati yang berani melepaskan.
Hari ini, 12 November, Indonesia memperingati Hari Ayah Nasional. Sebuah momen yang sering luput dari ingatan publik, kalah pamor dari Hari Ibu. Padahal, di balik wajah tegas dan suara yang jarang berucap sayang, tersimpan kasih yang sama besarnya tidak bisa di bandingkan dengan isi dunia sekali pun.
Saya menulis ini sambil menatap segelas kopi hitam yang mulai dingin. Aromanya menembus pagi, getir tapi menenangkan. Seperti cinta seorang ayah tak manis, tapi membuat kita kuat menghadapi hari.
Baca Juga: Sumpah Pemuda dan Negeri Agraris
Kopi dan ayah sama-sama mengajarkan keteguhan. Tak semua yang pahit perlu dijauhi, karena kadang pahitlah yang menumbuhkan kedewasaan. Ayah tak selalu memeluk, tapi dari diamnya kita belajar bertahan.
“Berdiri tegak di depan aku…” begitu kata lagu itu. Dalam benak saya, itu seperti pesan seorang ayah sebelum anaknya pergi jauh: tetap tegak, jangan tunduk pada keadaan, karena dunia tak selalu ramah pada orang lembut. Kalimat sederhana yang mengandung keberanian.
Lalu bait selanjutnya, “Cium keningku tuk yang terakhir.” Di situ air mata berhenti di tenggorokan. Ada perpisahan yang tak perlu kata-kata seperti isyarat cinta yang disampaikan dalam diam. Setiap anak, cepat atau lambat, akan tiba pada momen itu: ketika ayah menatapnya untuk terakhir kali.
Baca Juga: Hijau Adalah Masa Depan
Hari Ayah Nasional bukan hanya perayaan, tapi ruang perenungan. Seberapa sering kita menatap ayah kita? Menyapanya lebih dulu? Atau sekadar menanyakan kabarnya tanpa alasan? Banyak dari kita baru memahami cinta ayah saat kursi makannya sudah kosong.
Ayah tak pernah menuntut ucapan terima kasih. Ia hanya ingin melihat anaknya bertahan, tumbuh, dan tidak menyerah. Dalam diamnya, ia berdoa agar setiap langkah kita tidak salah arah. Ia adalah kompas yang diam, tapi selalu menunjuk pulang.
Kisah cinta dalam Pesan Terakhir bisa jadi kisah siapa saja yang kehilangan figur ayah. Lagu itu bukan hanya tentang melepaskan kekasih, tapi juga mengikhlaskan sosok yang membesarkan kita tanpa pamrih. Lagu itu adalah doa, dan doa adalah bentuk cinta paling tulus.
Baca Juga: Belum Move On dengan STY
Ketika musik berhenti, kenangan tentang ayah tetap bermain di kepala. Suaranya mungkin sudah tak terdengar, tapi petuahnya masih menuntun kita menembus hari-hari yang berat. Karena ayah tidak pernah benar-benar pergi, ia hanya berpindah tempat dalam setiap keberanian kita.
Di ujung pagi ini, saya kembali menyeruput kopi yang kini benar-benar dingin. Tapi setiap tegukan membawa rasa hangat rasa yang tidak pernah berubah masih sama seperti genggaman tangan ayah dulu, saat saya belajar berjalan, jatuh, lalu bangkit lagi.
Hari ini, mari kita kirim “pesan terakhir” kepada para ayah, bukan dalam bentuk duka, tapi syukur dan doa. Terima kasih karena telah mengajarkan arti tangguh, arti tenang, arti ikhlas. Karena lewat mereka, kita belajar bahwa cinta sejati terbalut lirih lewat munajat di setiap sujud kita.
Selamat Hari Ayah Nasional, 12 November.
Untuk semua ayah di dunia: terima kasih telah berdiri tegak untuk kami, meski dunia tak selalu adil pada pundakmu. (*)





