DONGGALA – Eksploitasi sumber daya alam terus berlangsung tanpa kendali. Di banyak daerah, termasuk di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, perusahaan diberi ruang terlalu luas untuk beroperasi tanpa mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan.
Kondisi itu mulai terlihat jelas di Kecamatan Balaesang Tanjung, Kabupaten Donggala. Sejumlah kawasan hutan mulai gundul akibat aktivitas eksploitasi yang berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga: Banjir Rendam Desa Tosale Donggala, Warga Panik Selamatkan Diri
Untuk mencegah kerusakan lebih jauh dan menumbuhkan kesadaran menjaga ekosistem pesisir, Yayasan Matahari Bangsa menggelar Konsultasi Hukum Gratis dan Penanaman Mangrove pada Jumat–Minggu, 21–23 November, di Desa Pomolulu.
Sebanyak 400 bibit mangrove ditanam di sepanjang garis pantai desa itu. Langkah ini menjadi upaya jangka panjang untuk memulihkan lingkungan.
Penanaman mangrove diharapkan mampu memperkuat ekosistem pesisir dan menjadi pelindung alami bagi permukiman warga yang berada di dekat laut.
Baca Juga: Vera Laruni Diberi Waktu 10 Hari Rampungkan Kepengurusan PAN Donggala
Pada sesi konsultasi hukum gratis, warga berdiskusi tentang berbagai persoalan. Mulai dari administrasi pertanahan, bantuan sosial, hingga masalah lingkungan yang mereka hadapi sehari-hari.
Suasana berlangsung interaktif dan warga tampak antusias menyampaikan keluhan untuk mendapatkan arahan hukum yang tepat.
Dalam kesempatan itu, warga juga menyampaikan aspirasi terkait kondisi sosial di desa mereka. Salah satu yang paling mendesak adalah perbaikan akses jalan. Jalan penghubung antardesa sudah lama rusak dan sulit dilalui.
Baca Juga: Kabupaten Donggala Terus Berbenah dan Bersolek
Kondisi ini menghambat aktivitas ekonomi, sosial, hingga pendidikan masyarakat. Warga berharap pemerintah dan perusahaan yang beroperasi di Pomolulu bisa bekerja sama menghadirkan solusi nyata dan berkelanjutan.
Natsir Said, pendiri Yayasan Matahari Bangsa mengatakan, aktivitas eksploitasi kini sudah masuk hingga pelosok desa. Karena itu, menurutnya, dibutuhkan kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan.
“Masyarakat harus punya peran dalam melindungi ruang hidup mereka,” ujarnya saat menjadi narasumber konsultasi hukum.
Baca Juga: Donggala Cetak Sawah Baru 800 Ha, Sebarannya di Delapan Kecamatan
Ahmad, warga Pomolulu, menyampaikan apresiasinya atas kehadiran Yayasan Matahari Bangsa. Ia menilai kegiatan itu membuka ruang komunikasi baru antara warga dan pihak luar yang peduli pada kemajuan desa.
“Ini awal yang baik. Kami berharap yayasan tetap menjadi mitra dalam memajukan Pomolulu,” katanya.
Baca Juga: Warga Sojol Donggala Terima Pembagian Ribuan Paket Olahan Ikan
Direktur Yayasan Matahari Bangsa, Jasrin, mengucapkan terima kasih atas sambutan hangat masyarakat. Ia berharap kerja sama ini bisa berlanjut hingga tahap yang lebih konkret.
“Kami ingin terus menjembatani pemenuhan hak-hak dasar masyarakat lewat program-program berikutnya,” ujarnya. (*)





