Air Mata di Pelepuk Mualem (Muzakir Manaf)

Air Mata di Pelepuk Mualem (Muzakir Manaf)
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem (kanan) saat menemani Presiden Prabowo Subianto saat meninjau bencana Aceh, Senin (8/12/2025) lalu. (Foto: Setkab RI).

Oleh : Ari Loru

“Jadi waktu itu dingin, kuberi kau hangat. Walaupun ku juga beku, tapi ku aman saat kau nyaman. Jadi waktu itu panas, ku beri kau angin. Walau pun ku juga gerah, tapi ku penuh saat kau teduh” – Idgitaf

Bacaan Lainnya

Ini janjiku
Untuk hadir
Dan mencintaimu
Di hari baikmu
Dan di hari burukmu.

Baca Juga: Arsenal: Rumah Lama, Luka Baru, Pertarungan Menuju Masa Depan

Sedia aku sebelum hujan, lagu yang relate dengan kondisi negeri kita di penghujung akhir tahun. Single terbaru Idgitaf yang rilis 8 Oktober 2025 itu terasa seperti amplop doa yang dibuka di waktu yang paling genting.

“Jadi waktu itu dingin, kuberi kau hangat…” penggalan itu tiba-tiba bukan lagi tentang dua manusia yang jatuh cinta, tetapi tentang kasih seorang pemimpin yang kembali menatap tanah kelahirannya yang luka. Seperti doa yang menetes ke nakhoda hati Aceh, Muzakir Manaf Mualem.

Di tengah musim yang tak lagi ramah, hujan yang menggila, dan daratan Sumatera yang koyak oleh bencana, sosok itu berdiri. Bukan sebagai mantan kombatan, bukan sebagai ketua partai, bukan sebagai tokoh politik melainkan seorang anak Aceh yang menyaksikan rumahnya kembali tenggelam.

Baca Juga: Fery Irwandi, Suara Yang Tak Pernah Padam

Mualem menangis. Air mata itu jatuh, jujur, tanpa penyangga. Di depan publik. Tanpa ditahan. Tanpa disembunyikan. Air mata yang meruntuhkan ratusan dada yang menyaksikan.

“Air mata lelaki bukan tanda lemah, tapi tanda bahwa hatinya masih hidup.”

Di hari itu, ketika banjir bandang menyapu pemukiman seperti lembaran kertas basah, Mualem mengucap kalimat yang mengguncang: “Ini lebih parah dari tsunami 2004.” Bukan sebagai pembanding, tetapi sebagai alarm keras bahwa Aceh kembali berada dalam menit-menit darurat.

Data resmi BNPB per 9 Desember 2025 mencatat 964 jiwa meninggal, 264 orang masih hilang, dan lebih dari 894 ribu warga mengungsi di tiga provinsi: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Baca Juga: FALDY BHUCEK, King Tarkam dari Sigi

Aceh menjadi provinsi dengan korban terbanyak. Ratusan nyawa melayang, ribuan rumah rusak, dan desa-desa terputus dari dunia.

Ribuan bukan angka. Ribuan adalah wajah. Wajah yang kehilangan rumah, kehilangan keluarga, kehilangan pegangan. Ketika data naik dari 914 korban menjadi 964 dalam hitungan hari, kita sadar: bencana ini bukan berhenti, ia masih berlangsung, masih mengganas, masih mengancam.

Mualem tidak datang membawa retorika. Ia datang dengan langkah cepat, mata sembab, suara pecah. Orang mengenangnya sebagai mantan Panglima GAM keras, kokoh. Namun hari itu, yang terlihat hanyalah seorang lelaki Aceh yang runtuh oleh derita bangsanya.

Riwayat panjangnya lulusan Akademi Militer Myanmar, panglima perang, perunding damai, ketua partai, penjaga MoU Helsinki tidak membuatnya kebal dari duka.

Baca Juga: Pesan Terakhir

Justru semua itu membuat air matanya punya bobot sejarah. Ia pernah melihat lebih banyak derita daripada yang mampu ditampung manusia biasa.

Di lokasi pengungsian, ia menunduk lama. Tangan-tangan kecil yang menggigil menyentuh lengannya. Mereka tak mengenal pangkat atau masa lalu. Mereka hanya tahu satu hal: mereka butuh pelindung. Dan hari itu, Mualem berdiri untuk menjadi itu.

Sumatera tidak menangis hanya karena hujan. Ia menangis karena kerakusan manusia. Hutan digunduli. Sungai dipaksa memikul lebih dari yang mampu. Lereng dipotong. Alam yang selama ini menjadi penyangga hidup kini menagih janji yang kita khianati.

Aceh dan Sumatera tidak meminta banyak. Hanya ingin dijaga. Tetapi keserakahan para cukong, pembiaran pejabat, dan lemahnya penegakan hukum membuat bencana seperti ini seakan rutin. Seakan normal. Seakan takdir. Padahal ini murni ulah manusia.

Baca Juga: Hijau Adalah Masa Depan

Mualem bukan sosok sempurna. Ia bukan Nabi. Tetapi menangisnya seorang pemimpin adalah tanda bahwa sesuatu telah melampaui batas. Bahwa grafik keserakahan ini harus diputus sebelum semuanya terlambat.

Karena 964 korban itu bukan statistik. Mereka manusia. Mereka yang kehilangan rumah, ladang, kenangan, harapan. Mereka menatap pemimpin bukan untuk dipuja, tetapi untuk diselamatkan. Dan hari itu, air mata Mualem adalah pengakuan bahwa ia memahami beban itu.

Baca Juga: Sumpah Pemuda dan Negeri Agraris

Di tengah ambruknya alam, politik, dan akal sehat, musibah datang sebagai surat cinta dari Sang Maha Kuasa: agar kita berhenti pongah, berhenti serakah, dan kembali menjadi manusia. (*)

Sumber Data:

*BNPB – Update korban bencana Sumatera per 9 Desember 2025 (964 meninggal, 264 hilang, 894.101 mengungsi) CNBC Indonesia

*Rekapitulasi korban sebelumnya (914 meninggal per 6 Desember 2025) Antara News

*Data tambahan korban hilang & kerusakan wilayah Liputan6, MetroTV, CNN Indonesia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *