Rekor Deforestasi di Morowali saat Anwar Hafid Bupati, 16 Ribu Ha Hutan Lenyap

Rekor Deforestasi di Morowali saat Anwar Hafid Bupati, 16 Ribu Ha Hutan Lenyap
Anwar Hafid saat meninjau lokasi tambang emas Poboya, Kota Palu. Kritik Anwar Hafid terhadap penebangan satu pohon di depan Rujab Gubernur di Jalan Moh Yamin Palu, kini berbuntut dengan terkuaknya jejak kepemimpinan masa lalunya. (Foto: IST).

MOROWALI – Laju deforestasi di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, terus menjadi perhatian. Terlebih lagi di era kepemimpinan Anwar Hafid saat menjabat Bupati Morowali dua periode.

Ini terungkap berawal dari kemarahan Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) itu atas penebangan satu pohon di depan rumah jabatan di Jalan Prof Moh.Yamin, Palu. Jejak masa lalu kerusakan hutan pun mencuat ke permukaan.

Bacaan Lainnya

Baca Juga: Kemarahan Anwar Hafid soal Pohon Rujab Ditebang seperti ‘Senjata Makan Tuan’

Sikap terbuka Anwar Hafid yang mengkritik penebangan satu pohon di depan rujab, berbanding terbalik dengan laju deforestasi saat dirinya menjabat Bupati Morowali pada 2007 – 2018.

Data Auriga Nusantara menyebutkan, di bawah kepemimpinan Anwar Hafid, Morowali justru mencatatkan puncak deforestasi terparah mencapai 16.035 hektare.

Baca Juga: Morowali 26 Tahun, Gubernur Tegaskan Lingkungan Harus Dijaga Tanpa Kompromi

Bila dibanding-bandingkan, angka tersebut jauh melampui bila dengan periode kepemimpinan bupati sebelum dan sesudahnya di Bumi Tepe Asa Maroso tersebut.

Pada masa Bupati Andi Muhammad AB yang dilanjutkan Datlin Tamalagi (2002-2007), hutan Morowali menyusut 3.973 hektare.

Setelah Anwar Hafid tidak lagi Bupati Morowali, tren deforestasi di Morowali berlanjut mencapai 9.021 hektare di era Taslim (2018-2023).

Baca Juga: Perampok Bersenjata Api di Ungkaya Morowali Ditangkap, Kerap Terlibat Curi Sawit

Meskipun demikian, gabungan periode kepemimpinan Andi Muhammad, Datlin Tamalagi, dan Taslim, tidak mampu melebihi “prestasi” Anwar Hafid dalam urusan pembabatan hutan.

Rekor deforestasi di Morowali tetap berada di tangan Anwar Hafid hingga saat ini. Ada selisih berkisar 3 ribu hektare ketimbang akumulasi ketiga bupati tersebut yang menyentuh angka 12.994 hektare.

Baca Juga: Pengawasan Kendaraan ODOL di Lokasi Tambang Morowali dan Morut Diperketat

Apa tanggapan Gubernur Sulteng Anwar Hafid? Beberapa kali dikonfirmasi tim media, mantan Bupati Morowali itu masih enggan menjawab konfirmasi wartawan. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *