PALU – Warga lingkar tambang di Kelurahan Poboya, Kota Palu, Sulawesi Tengah, memblokade akses menuju area operasional PT Citra Palu Minerals (CPM), pada Kamis sore (29/1/2026).
Aksi blokade jalan sebagai bentuk protes terhadap langkah perusahaan yang melaporkan aktivitas pertambangan tanpa izin (PETI) ke Direktorat Jenderal Penegakan Hukum (Gakkum) ESDM Kementerian ESDM di Jakarta.
Baca Juga: CPM Melapor ke Ditjen Gakkum ESDM soal Poboya, Agus Walahi: Melanggar Kesepakatan
Melalui suratnya bernomor 007/CPM-LGL/I/2026 tertanggal 7 Januari 2026, CPM meminta dilakukan penertiban aktivitas penambangan rakyat di lokasi kontrak karya mereka. Bahkan CPM menyebut aktivitas itu PETI.
Blokade dilakukan dengan menutup jalur keluar-masuk menuju kawasan tambang.
Mereka berasal dari kalangan penambang rakyat dan warga sekitar, yang selama ini menggantungkan hidup dari aktivitas pertambangan emas di wilayah Poboya.
Baca Juga: Gelombang Massa Penambang Poboya Demo DPRD, Tegaskan Penciutan Lahan Harga Mati
Warga menyebut, aktivitas penambangan rakyat berlangsung di sejumlah titik. Antara lain di Blok I Poboya, Blok II, Blok III, kawasan Kijang, Mangu, dan beberapa lokasi lain.
Titik-titik tersebut telah lama menjadi sumber penghidupan penambang lokal.
Laporan CPM ke Gakkum ESDM dinilai sebagai bentuk kriminalisasi terhadap penambang rakyat. Warga pun menolak pelabelan PETI terhadap aktivitas tambang rakyat. Karena itu telah mereka lakukan secara turun-temurun.
Baca Juga: Dukung Tambang Rakyat, Fraksi PKS DPRD Palu Berdiri di Garda Depan
“Yang kami lakukan ini bukan kejahatan. Kami hanya mencari nafkah di wilayah yang menjadi tempat hidup kami,” teriak salah satu warga sembari menyusun batu di tengah badan jalan.
Selain menolak laporan perusahaan ke Ditjen Gakkum ESDM, warga juga mendesak pemerintah dan CPM untuk menata ulang wilayah konsesi. Sebagian area konsesi CPM diciutkan dan dialokasikan sebagai Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR). Supaya aktivitas warga memiliki kepastian hukum.
Baca Juga: Kapan Realisasi Penciutan Lahan? Hari Ini Ribuan Penambang Rakyat Poboya Turun ke Jalan
Wilayah konsesi perusahaan terlalu besar. Itu mempersempit ruang hidup masyarakat sekitar. Kondisi inilah menjadi pemicu utama konflik berkepanjangan, antara penambang rakyat dan perusahaan.
Aksi blokade berlangsung dengan pengawalan aparat keamanan. Warga menyatakan akan bertahan hingga ada kepastian penyelesaian dari pemerintah dan pihak perusahaan. (*)





