Marhaban Yaa Ramadan: Pelukan Allah untuk Hamba yang Ingin Kembali

Marhaban Ya Ramadan: Pelukan Allah untuk Hamba yang Ingin Kembali
Ilustrasi keberkahan sambut Bulan Suci Ramadan. (Ilustrasi AI).

Oleh: Ari Loru

Marhaban yaa Ramadan. Selamat datang bulan mulia, bulan ampunan, bulan mubarrok, bulan ibadah, bulan seribu bulan di dalamnya kebaikan tidak ada hentinya dan rahmat Allah mengalir tanpa batas.

Bacaan Lainnya

Engkau datang bukan sekadar pergantian waktu. Engkau hadir sebagai cahaya di tengah gelapnya hati manusia, sebagai panggilan lembut dari langit agar kita kembali sebelum semuanya benar-benar terlambat.

Baca Juga: Kedepankan Toleransi Sikapi Penetapan Awal Ramadan 1447 Hijriah

Ramadan adalah bulan ketika langit terasa lebih dekat. Ketika doa lebih cepat naik. Ketika air mata taubat jatuh tanpa bisa ditahan. Di bulan ini, hati yang keras pun bisa luluh.

Bahkan orang-orang yang telah wafat memohon kepada Rabb-nya agar dikembalikan ke bumi walau hanya satu menit saja untuk beribadah di bulan Ramadan. Satu menit sujud. Satu menit istighfar. Satu menit yang bagi kita terasa biasa, namun bagi mereka lebih berharga dari dunia dan seisinya.

Kini tinggal menghitung jam, kita akan berjumpa dengan tamu agung itu. Tamu mulia yang selalu dinantikan oleh orang-orang beriman, oleh jiwa-jiwa yang lelah oleh dosa, oleh hati yang ingin diampuni.

Baca Juga: Ramadan dengan Mobil Baru, Program Tukar Tambah Kalla Toyota Banyak Untungnya

Mereka menyambut Ramadan seperti menunggu sang kekasih ketika belasan tahun tidak berjumpa. Ada rindu yang menggetarkan dada. Ada doa yang tak pernah berhenti dipanjatkan agar dipertemukan kembali dalam keadaan iman.

Ramadan datang membawa kesempatan. Kesempatan memperbaiki yang retak, menambal yang bocor, membersihkan yang kotor. Ia datang untuk mengangkat derajat, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga.

Bersyukurlah mereka yang masih merasakan santapan sahur dari tangan manusia mulia ibu kita. Dari tangannya yang penuh cinta, dari doanya yang lirih di sepertiga malam, terhidang bukan hanya makanan, tetapi kasih yang tak pernah meminta balasan.

Baca Juga: Sambut Ramadan 1447 H, Warga Kolonodale Serbu Pasar Sembako Murah Ketua DPRD Morut

Sambil tersenyum melihat ayah sebagai pelipur lara. Sosok yang mungkin tak banyak bicara, namun setiap langkahnya adalah perjuangan, setiap lelahnya adalah pengorbanan. Ia adalah anugerah terindah dari Allah untuk kita syukuri selagi masih ada.

Namun tidak semua masih memiliki dua sosok mulia itu di meja sahurnya. Ada yang membangunkan dirinya sendiri. Ada yang menahan rindu di antara suapan sahur yang terasa hambar tanpa kehadiran mereka.

Teruntuk yang menyambut Ramadan tanpa ibu dan ayah di sisi, jangan biarkan kesedihan memadamkan cahaya Ramadanmu. Angkat tanganmu lebih lama. Panjangkan sujudmu lebih dalam.

Baca Juga: Sempat Tertunda Tujuh Bulan, Jembatan IV Palu Akhirnya Diresmikan Wagub

Mohonkanlah ampunan bagi mereka. Karena doa anak yang sholeh dan sholehah tidak ada pembatasan antara dirinya dan Sang Khalik. Doa itu melesat menembus langit, menjadi cahaya di alam kubur, menjadi penolong saat mereka tak lagi mampu beramal.

Ramadan juga mengajarkan kita untuk peduli. Di saat kita menyambutnya dengan sukacita, ada saudara-saudara kita di Gaza, Palestina, yang menyambutnya di tengah luka dan air mata.

Ya Allah, di bulan yang penuh rahmat ini, lindungilah saudara-saudara kami di Gaza, Palestina. Kuatkan hati mereka, selamatkan anak-anak mereka, sembuhkan yang terluka, lapangkan kesabaran para ibu, dan turunkan kedamaian serta kemenangan bagi mereka.

Baca Juga: MOHAMMAD IRWAN IS BACK

Ramadan adalah tentang syukur bagi yang masih memiliki, dan tentang doa bagi yang telah kehilangan. Tentang yang masih diberi kesempatan, dan tentang yang telah menyesal karena waktu tak bisa diputar kembali.

Marhaban yaa Ramadan. Jika ini adalah Ramadan terakhir kami, jadikan ia yang paling menggetarkan. Jangan biarkan kami keluar darinya dengan dosa yang masih melekat. Jangan biarkan kami menyesal di kemudian hari seperti mereka yang hanya bisa berharap satu menit untuk kembali.

Dan ketika takbir pertama Ramadan menggema, tanyakan pada dirimu sendiri apakah ini pertemuan biasa, atau pertemuan terakhir? Jika ini yang terakhir, sudahkah kita menyambutnya dengan taubat yang sungguh-sungguh?

Baca Juga: Jum’at Bersih, Pemdes Sibalaya Utara Minta Plat Deker Jalan Palu–Kulawi Segera Diperbaiki

Sudahkah kita meminta maaf kepada orang tua, mendoakan mereka yang telah tiada, dan memohon ampunan atas dosa-dosa yang selama ini kita simpan rapat-rapat? Jangan sampai Ramadhan berlalu sementara hati kita tetap beku.

Jangan sampai ia pergi, dan yang tertinggal hanyalah penyesalan yang tak bisa ditebus, meski hanya dengan satu menit kehidupan. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *