Oleh: Ari Loru
MEMBACA arah politik di Sulawesi Tengah tidak cukup hanya dengan melihat baliho dan deklarasi. Ia harus dipahami melalui denyut sosialnya: identitas, kedekatan emosional, persepsi kinerja, hingga harapan masa depan.
Di sanalah posisi Mohammad Irwan atau yang lebih dikenal dengan Iwan Lapatta, menarik untuk diuji. Resmi meninggalkan Partai Golkar, kini ia bergabung dengan sayap Partai Gerindra, SATRIA (Satuan Relawan Indonesia Raya).
Baca Juga: MOHAMMAD IRWAN IS BACK
Sulawesi Tengah masih menyimpan ikatan kultural yang kuat. Kesamaan latar belakang sosial sering kali menjadi pintu masuk kepercayaan politik. Dukungan tidak selalu lahir dari program, tetapi dari rasa memiliki. Dalam konteks ini, figur yang tumbuh dari lingkungan sosial tertentu memiliki modal awal yang tidak kecil.
Namun ruang publik daerah ini juga religius. Masyarakat memberi tempat pada figur yang dianggap mencerminkan nilai moral dan kesalehan sosial. Politik tidak hanya dinilai dari kemampuan administratif, tetapi juga dari kesesuaian sikap dengan norma keagamaan yang hidup di tengah masyarakat.
Meski demikian, yang paling terasa adalah sentimen kedaerahan. Representasi wilayah menjadi pertimbangan dominan. Publik ingin memastikan bahwa suara daerahnya benar-benar diperjuangkan.
Baca Juga: ‘Naik Turun’ Hubungan Irwan Lapatta – Rizal Intjenae di Golkar Sigi, Batal Fight di Musda IV
Sebagai mantan Bupati Sigi dua periode, Iwan Lapatta memiliki jejak geografis yang jelas. Tetapi semakin luas gelanggang politiknya, semakin besar pula tuntutan untuk melampaui batas asalnya.
Di sisi lain, kesadaran politik masyarakat mulai berubah. Sebagian pemilih kini lebih mempertimbangkan manfaat nyata dari pilihan mereka.
Mereka ingin tahu apa yang bisa diperjuangkan di tingkat pusat, seberapa kuat jaringan yang dimiliki, dan sejauh mana pengalaman dapat diterjemahkan menjadi akses anggaran dan kebijakan.
Dalam konteks psikologis, Iwan Lapatta dikenal sebagai figur yang pernah dekat dengan rakyat. Dua periode kepemimpinan membentuk relasi personal yang tidak bisa diabaikan. Namun kedekatan bukanlah warisan abadi. Ia harus terus dipelihara melalui komunikasi dan kehadiran yang konsisten.
Baca Juga: Sah, Arus Abdul Karim Nakhodai Golkar Sulteng untuk Ketiga Kalinya
Citra publik terbentuk dari memori kolektif. Apa yang diingat masyarakat sering kali lebih berpengaruh daripada apa yang sebenarnya terjadi. Jika yang tertanam adalah gambaran pemimpin stabil dan responsif, maka itu menjadi energi politik. Tetapi jika yang muncul adalah kritik lama, persepsi bisa berbalik arah.
Faktor kendaraan politik juga ikut memengaruhi persepsi. Karakter partai yang menaunginya akan memberi warna tambahan pada citra pribadinya. Kesesuaian antara kepribadian figur dan identitas partai, dapat menjadi kunci dalam memperluas dukungan lintas segmen.
Ketika publik menimbang manfaat memilihnya sebagai wakil di tingkat nasional, pertanyaan menjadi lebih konkret: apakah ia mampu membawa perubahan? Apakah ia punya akses dan daya tawar? Dalam politik modern, pengalaman masa lalu hanya bernilai jika mampu dikonversi menjadi solusi masa depan.
Baca Juga: Menguat, Warda Masih Diinginkan Pimpin Golkar Morut
Rekam jejak selama memimpin menjadi landasan evaluasi. Pembangunan infrastruktur, pelayanan publik, serta respons terhadap krisis akan selalu diingat. Jika masyarakat merasa hidupnya pernah terbantu, maka itu menjadi legitimasi kuat. Tetapi jika manfaatnya terasa terbatas, skeptisisme akan muncul.
Tak kalah penting adalah persepsi tentang siapa yang paling menikmati hasil kekuasaan. Politik selalu melahirkan lingkaran manfaat. Publik peka terhadap apakah keuntungan kekuasaan tersebar luas atau hanya berputar pada kelompok tertentu.
Di tengah semua itu, narasi yang dibangun oleh elite lain ikut memainkan peran. Cara seorang tokoh digambarkan apakah sebagai simbol pengalaman atau sebagai representasi masa lalu sangat menentukan arah opini. Politik adalah pertarungan membentuk makna.
Baca Juga: 3 Daerah di Sulawesi Tengah Berhasil Keluar dari Kategori Tertinggal
Ke depan, ruang digital akan menjadi arena utama. Generasi muda semakin menentukan arah suara. Mereka lebih kritis, lebih cepat mengakses informasi, dan tidak mudah terikat pada pola dukungan tradisional. Figur yang gagal berbicara dalam bahasa zaman berisiko tertinggal.
Dengan seluruh dinamika itu, Iwan Lapatta berada pada titik krusial. Ia memiliki pengalaman, basis sosial, dan memori kolektif yang masih hidup.
Namun ia juga menghadapi perubahan lanskap politik yang menuntut adaptasi. Jika mampu menyelaraskan identitas, manfaat konkret, dan pengelolaan persepsi, ia tetap relevan. Jika tidak, politik akan bergerak tanpa menunggu. (*)





