Oleh: Ari Loru
SYEIKH Abdul Qadir al-Jailani: “Doa itu laksana kayuhan sepeda; teruslah mengayuh, suatu saat ia akan membawamu sampai ke tujuan yang engkau harapkan.”
Telah tiba kita di etape pertama di bulan suci Ramadan, yaitu 10 hari pertama di bulan yang mubarok. Perlombaan menggapai ridho, ampunan, serta taqwa-Nya telah dimulai. Ia bukan sekadar hitungan hari, tetapi perjalanan ruhani yang menuntut kesungguhan. Ini adalah babak sistem gugur mereka yang lalai akan tertinggal, dan mereka yang istiqamah akan terus melaju.
Tanjakannya lebih tinggi dari tanjakan cinta di Gunung Semeru. Nafsu melelahkan, rasa malas mengintai, dan bisikan syaitan laknatullah mencoba menggerus semangat yang di awal begitu membara. Banyak yang goyah kadar keimanannya. Target khatam Al-Qur’an mulai tertunda. Shalat malam yang semula tegak, perlahan rebah.
Baca Juga: Ramadan Baru Dimulai, Jangan Kendor Apalagi Berbalik Arah
Di titik inilah kita sadar, bahwa tanpa rahmat, pertolongan, dan kasih sayang Allah, kita bukanlah siapa-siapa.
Bulan Ramadan adalah bulan perlombaan dalam ketaatan. Dan salah satu intisari ibadah yang harus kita perbanyak adalah doa. Doa bukan pelengkap, bukan pula rutinitas tanpa ruh. Doa adalah napasnya ibadah, denyutnya penghambaan, pengakuan total bahwa kita lemah dan Allah Maha Kuasa.
Rasulullah ﷺ, Muhammad, menegaskan bahwa doa merupakan bentuk pengabdian yang paling utama. Dalam sebuah hadits disebutkan: “Doa itu senjata orang mukmin, tiang agama, serta cahaya langit dan bumi.” (HR. Al-Hakim).
Namun ada satu ayat yang begitu indah, begitu lembut, yang Allah letakkan di tengah-tengah perintah puasa. Di sela ayat-ayat tentang kewajiban shaum, Allah seperti berbisik lirih kepada hamba-hamba-Nya.
Baca Juga: Marhaban Yaa Ramadan: Pelukan Allah untuk Hamba yang Ingin Kembali
Dalam Al-Baqarah ayat 186, Allah berfirman:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.”
Perhatikanlah, ayat ini hadir di sela-sela perintah berpuasa. Seakan Allah ingin menegaskan bahwa puasa tanpa doa adalah tubuh tanpa ruh. Puasa tanpa doa seperti ikan yang berenang di tepian—ia bergerak, tetapi tidak menyelam ke kedalaman makna.
Allah tidak mengatakan, “Katakanlah Aku dekat.” Tetapi Allah langsung berfirman, “Aku dekat.” Tanpa perantara. Tanpa jarak. Tanpa sekat. Ini adalah ayat kedekatan. Ayat cinta. Ayat pengharapan.
Baca Juga: Kedepankan Toleransi Sikapi Penetapan Awal Ramadan 1447 Hijriah
Apatah lagi saat berpuasa, potensi diijabahnya doa sangat terbuka. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa orang yang berpuasa termasuk dalam tiga golongan yang doanya tidak tertolak oleh Allah:
“Tiga orang yang doanya tidak tertolak: (1) pemimpin yang adil, (2) orang yang berpuasa sampai ia berbuka, (3) doa orang yang dizalimi.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).
Bayangkan, sejak fajar hingga terbenam matahari, setiap detik lapar dan dahaga yang kita tahan adalah peluang emas untuk mengetuk pintu langit. Setiap rasa lelah adalah penguat doa. Setiap sabar adalah pengangkat harap.
Romadhan bukan hanya tentang menahan diri dari makan dan minum. Ia tentang menahan amarah, menundukkan ego, dan mengangkat kedua tangan lebih sering dari biasanya. Ia tentang memperbanyak istighfar di sepertiga malam, membasahi lisan dengan doa untuk orang tua, keluarga, negeri, dan saudara-saudara kita yang tertindas.
Baca Juga: SEMMI Sulteng Dukung Polri Cegah Potensi Gangguan Keamanan Selama Ramadan
Mari gaungkan Ramadan dengan doa. Doakan agar iman kita tidak gugur di tengah jalan. Doakan agar kita bukan hanya kuat di 10 hari pertama, tetapi juga perkasa hingga 10 hari terakhir. Doakan agar Ramadan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan titik balik kehidupan.
Teruslah mengayuh doa itu. Meski pelan. Meski terseok. Sebab di setiap kayuhan, ada harapan. Dan di setiap harapan, ada Allah yang Maha Mendengar.
Di antara doa yang paling lirih, namun paling dalam di bulan Ramadan, adalah doa untuk kedua orang tua yang telah mendahului kita.
Saat kita masih bisa bersujud, sementara mereka telah lebih dulu terbaring di alam barzakh, maka jangan biarkan nama mereka hilang dari setiap munajat kita.
Ya Allah, ampunilah dosa ayah dan ibu kami, lapangkan kubur mereka, jadikan pusara mereka taman dari taman-taman surga, terangilah dengan cahaya-Mu yang tak pernah padam. Jika dahulu mereka mengangkat tangan mendoakan masa depan kita, kini gantilah peran itu ya Rabb.
Baca Juga: Razia Penginapan di Palu, Sejumlah ‘Pasutri Bodong’ Digelandang Polda Sulteng
Biarlah anak-anaknya yang mengangkat tangan untuk keselamatan dan kemuliaan mereka di sisi-Mu. Ramadan adalah momentum bakti yang tak lagi bisa kita balas dengan pelukan, kecuali dengan doa yang tulus dan air mata yang jatuh dalam sujud panjang.
Semoga kami menjadi orang yang pertama mengamalkan apa yang telah kami ucapkan. Jangan jadikan tulisan ini sekadar rangkaian kata, tetapi jadikan ia saksi bahwa kami pernah berharap, pernah menangis, dan pernah bersungguh-sungguh mengetuk pintu-Mu. (*)





