Oleh: Ari Loru
BISIKAN lirih hamba kepada Rabbnya di penghujung Ramadan adalah bukti bahwa dia yang bertahan bukanlah sosok yang kuat. Dia yang bertahan ialah murni hamba pilihan Allah, yang tenggelam dalam munajat, dalam lautan samudera manisnya iman.
Ramadan menjadikan hati lebih hidup. Ayat-ayat Allah yang dibaca dan didengar membuat dada bergetar, iman bertambah kuat dari hari ke hari.
Baca Juga: Ramadan Telah Pergi, Semoga Kita Bukan Termasuk Orang yang Celaka
Allah berfirman bahwa orang-orang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka, dan ketika dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka.
Mereka orang-orang yang ketika mendengar ayat Allah bergetar dan bertambah keimanannya. Hati mereka hidup, lembut, dan penuh harap kepada Rabbnya.
Apatah lagi sejak doa qunut di rakaat terakhir shalat witir mulai dipanjatkan. Ia menjadi tanda bahwa perjumpaan kita dengan Ramadhan segera berakhir.
Baca Juga: Ramadan: Madrasah Kita Menghadapi Krisis Dunia
Ada pesan dengan sesak dada yang terasa begitu dalam. Seakan Ramadan sendiri berbisik pelan kepada hati yang mencintainya.
Ia berkata dengan kalimat yang sederhana namun sangat dalam: “Aku akan pergi.”
Kalimat sederhana, tetapi mampu memecahkan qalbu salim yang berusaha menggenggamnya agar tetap tinggal.
Baca Juga: Gaungkan Ramadan Dengan Berdoa, Karena Doa Adalah Intisari Ibadah
Ia pergi membawa malam mulia yang lebih baik dari seribu bulan. Malam yang nilainya melampaui panjangnya umur manusia dalam ibadah.
Ia juga membawa maghfirah, membawa rahmat, membawa keutamaan yang tidak akan kita jumpai pada bulan selain dirinya.
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya amalan itu tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari). Maka seorang mukmin tidak ingin amal Ramadhannya berakhir dengan kelalaian.
Baca Juga: Ramadan Baru Dimulai, Jangan Kendor Apalagi Berbalik Arah
Para ulama mengingatkan agar seorang hamba memperbaiki penutup amalnya. Imam Hasan Al-Bashri berkata, “Perbaikilah apa yang tersisa dari hidupmu, maka Allah akan mengampuni apa yang telah berlalu.”
Karena itu di penghujung Ramadan ini seorang mukmin justru semakin bersungguh-sungguh. Seperti kuda pacuan yang semakin dekat dengan garis akhir, semakin kencang pula larinya.
Di atas sajadah, pada malam yang sunyi, seorang hamba menengadahkan tangan dengan hati yang penuh harap.
Baca Juga: Memaknai Puasa sebagai Perjalanan Eksistensial
Di penghujung Ramadan ini kami titipkan doa kepada-Mu ya Allah. Sehatkanlah yang sakit di antara kami, permudahlah segala urusan kami, mudahkanlah jalan bagi mereka yang ingin melengkapi separuh agamanya.
Ampunilah orang-orang yang telah mendahului kami. Lapangkan kubur mereka, dan rahmatilah mereka dengan kasih sayang-Mu yang luas.
Baca Juga: Ketua DPRD Morut Serukan Spirit Persaudaraan di Momen Buka Puasa Bersama
Dan golongkanlah kami termasuk orang-orang yang Engkau terima amalnya hingga akhir. Dengan mata yang basah kami berbisik lirih:
“Ramadan, maafkan diriku yang telah menelantarkanmu, wahai tamu agung.”





