AMERIKA – Dua puluh lima tahun setelah mengguncang dunia metal, album Iowa milik Slipknot kembali menjadi sorotan.
Sebuah buku tidak resmi berjudul Somewhere Between Screaming And Crying: Slipknot, Nu Metal And 9/11 akan dirilis pada 6 Agustus 2026, mengupas secara mendalam perjalanan band asal Iowa tersebut dan proses lahirnya salah satu album paling berpengaruh dalam sejarah heavy metal modern.
Baca Juga: Krisis Yamaha Berlanjut, Quartararo Pulang Tanpa Poin Setelah Dua Penalti Beruntun
Ditulis oleh penulis musik metal Dan Franklin, buku ini diterbitkan oleh Little, Brown Book Group, bagian dari Hachette UK, bertepatan dengan peringatan 25 tahun perilisan album Iowa yang pertama kali dirilis pada 2001.
Mengupas Album yang Mengubah Wajah Metal
Buku ini disebut sebagai karya pertama yang secara khusus membahas perjalanan Slipknot menuju era Iowa, album yang dianggap sebagai titik balik penting dalam karier band bertopeng asal Des Moines tersebut.
Melalui wawancara eksklusif, laporan langsung, dan riset mendalam, Franklin menggambarkan bagaimana sembilan personel Slipknot menghadapi tekanan luar biasa saat berusaha menciptakan album yang lebih brutal, lebih gelap, dan lebih ekstrem dibanding debut mereka pada 1999.
Baca Juga: Masa Depan Tidak Pasti! Ronald Araujo Masuk Daftar Jual Barcelona
Tak hanya membahas proses kreatif di studio, buku ini juga menyoroti dampak ketenaran, konflik internal, kecanduan, hingga tekanan psikologis yang membayangi para personel selama masa produksi album.
Iowa dan Generasi yang Dipenuhi Kemarahan
Salah satu daya tarik utama buku ini adalah bagaimana Iowa ditempatkan dalam konteks sosial dan budaya yang lebih luas.
Franklin menghubungkan kebangkitan Slipknot dengan runtuhnya optimisme akhir era 1990-an, mulai dari kontroversi Woodstock ’99 hingga perubahan besar yang terjadi setelah tragedi 11 September 2001.
Baca Juga: Bagikan Kabar Mengharukan, Air Mata Bahagia Jessie J Usai Dinyatakan Bebas Kanker
Menurut buku tersebut, musik Slipknot menjadi saluran bagi generasi muda yang mengalami kemarahan, keterasingan, frustrasi, dan krisis identitas pada awal abad ke-21.
Dengan kembalinya popularitas nu metal dalam beberapa tahun terakhir, tema-tema yang diangkat Iowa dinilai kembali relevan bagi generasi baru pendengar musik keras.
Corey Taylor: Kami Tidak Ingin Mengulang Kesuksesan Lama
Dalam kutipan wawancara yang dimuat kembali dari Metal Hammer, vokalis Corey Taylor mengungkapkan bahwa Slipknot sejak awal tidak memiliki keinginan untuk membuat album yang sekadar mengulang formula sukses debut mereka.
Baca Juga: Ribuan Transaksi dalam Waktu Sembilan Jam, Rp3,3 Miliar Uang Nasabah BNI 46 Parigi Diduga Raib
Menurut Taylor, banyak pihak saat itu berharap Slipknot menciptakan lagu-lagu baru yang serupa dengan hit Wait And Bleed. Namun band memilih mengambil arah yang berbeda.
“Semua orang ingin kami membuat sepuluh lagu seperti Wait And Bleed. Tapi kami sudah melakukannya. Mengapa harus mengulanginya lagi?” kata Taylor.
Ia menjelaskan bahwa tujuan Slipknot saat itu adalah menciptakan album yang benar-benar destruktif dan tanpa kompromi.
Baca Juga: MTQ ke-31 di Sigi Dibuka Gubernur Sulteng: Mari Bumikan Nilai-nilai Alqur’an
Hasilnya adalah Iowa, album yang kemudian melahirkan sejumlah lagu ikonik seperti People = Shit, The Heretic Anthem, Disasterpiece, dan Left Behind.
Album Terberat yang Menembus Arus Utama
Taylor juga percaya bahwa Slipknot berhasil melampaui target awal mereka saat merekam Iowa.
Menurutnya, album tersebut bukan hanya menjadi karya paling agresif dalam katalog Slipknot, tetapi juga salah satu album terberat yang pernah diterima pasar musik arus utama.
Baca Juga: Festival Lalampa, Kini Toboli Jadi Ikon Wisata Kuliner Sulteng
Energi kemarahan, kegelisahan, dan semangat memberontak yang terekam dalam album itu membuat Iowa tetap dianggap sebagai salah satu rilisan metal paling berpengaruh sepanjang masa.
Dan Franklin Lanjutkan Trilogi Heavy Metal
Penulis Dan Franklin bukan nama asing di dunia literatur musik keras.
Sebelumnya ia telah merilis buku Heavy: How Metal Changes The Way We See The World dan Come My Fanatics: A Journey Into The World Of Electric Wizard.
Somewhere Between Screaming And Crying menjadi bagian ketiga dari trilogi longgar yang mengeksplorasi pengaruh budaya dan sosial musik heavy metal terhadap dunia modern.***





