Dari Cedera ke Cahaya: Dembele dan Pelajaran Politik Kesabaran

Ousmane Dembele, pemain PSG dan Timnas Prancis.

Oleh: Aril (Ari Loru), penulis lepas

Seperti secangkir kopi hitam yang terlalu panas untuk segera diteguk, perjalanan Ousmane Dembélé penuh jeda dan kesabaran. Cedera yang berulang-ulang seakan menjadi “masa tunggu” yang panjang, membuat banyak orang tak sabar dan memilih meninggalkannya.

Bacaan Lainnya

Namun malam di Paris membuktikan, kesabaran yang dulu dicibir justru berubah jadi cahaya: Ballon d’Or kini ada di tangannya.

Kisah ini bukan hanya tentang sepak bola. Ia juga tentang politik kehidupan: bahwa setiap luka butuh waktu, setiap jatuh butuh bangun, dan setiap janji butuh kesabaran.

Baca Juga: Pemprov Sulteng Menang Comeback Lawan Jurnalis Palu FC, Anwar Hafid Cetak Hattrick

Dalam ruang publik yang sering gaduh—baik stadion maupun parlemen—Dembélé memberi pesan sederhana: kekuatan tidak selalu datang dari kecepatan, tetapi dari keteguhan hati menunggu momen yang tepat.

Di ruang ganti, para rekannya menyambut dengan sukacita. Kylian Mbappé menyebutnya “simbol kesetiaan pada mimpi.” Lionel Messi, yang pernah menemaninya di Barcelona, mengaku sudah melihat bakat besar itu sejak awal.

Luis Enrique menambahkan, “Ia contoh bahwa stigma bisa ditaklukkan dengan kerja keras.” Dukungan itu membuat kemenangan terasa bukan hanya milik individu, melainkan juga milik sebuah kolektivitas.

Baca Juga: Perebutkan Bonus Rp75 Juta, Asnawi Rasyid Cup di Sibalaya Utara Resmi Bergulir

Namun, kemenangan ini juga membawa pesan sosial yang lebih dalam. Dembélé lahir dari keluarga imigran, tumbuh dengan identitas ganda yang kerap diragukan di tanah kelahirannya.

Politik Eropa tak jarang menjadikan isu imigran sebagai bahan pertarungan: diterima atau ditolak, dipeluk atau dijauhi. Kini, seorang anak dari keluarga pinggiran justru mengangkat martabat bangsanya di panggung dunia. Sebuah sindiran manis bagi politik yang masih suka membeda-bedakan.

Ballon d’Or yang biasanya singgah di tangan Messi, Ronaldo, atau Mbappé, kini terasa lebih “manusiawi.”

Dembélé bukanlah ikon sempurna yang bebas dari kritik. Ia rapuh, sering jatuh, penuh keraguan. Tetapi justru itulah yang membuat trofi ini berharga: ia mengingatkan kita bahwa sistem, baik dalam sepak bola maupun dalam politik, tak bisa terus mengandalkan wajah lama. Terkadang yang dianggap rapuh justru bisa jadi penopang masa depan.

Musim Baru yang Menjanjikan, Inter Milan “Hancurkan” Tamunya Torino

Jika sepak bola adalah secangkir kopi, maka kemenangan Dembélé adalah aroma manis yang muncul setelah pahitnya terlalui. Para penggemar yang dulu mencibir kini ikut menitikkan air mata haru. Mereka sadar, pahit dan manis memang harus berpasangan agar hidup terasa utuh. Sama halnya dengan bangsa yang sedang diuji: krisis dan luka adalah bagian dari perjalanan menuju kedewasaan politik.

Di luar stadion, euforia ini menyebar laksana arus politik menjelang pemilu. Kemenangan Dembélé menjadi simbol bahwa rapuh bukan berarti kalah, jatuh bukan berarti tamat. Negeri-negeri yang tersandung pun bisa bangkit, asal ada kesabaran dan arah yang jelas.

Sepak bola, seperti demokrasi, butuh pemain yang berani menanggung luka agar kolektivitas tetap hidup.

Baca Juga: Hasil La Liga Selasa 26 Agustus: Bilbao dan Getafe Menang Tipis

Sejarah selalu memberi ruang bagi kejutan. Siapa sangka pemain yang dulu dianggap “beban” justru kini menorehkan tinta emas? Sama seperti dalam politik: yang diremehkan bisa jadi pemimpin, yang dianggap pinggiran bisa jadi pusat. Inilah politik kehidupan, tempat kejutan seringkali lebih indah daripada prediksi.

Kini, Dembélé tidak hanya menang di panggung Ballon d’Or, tapi juga di mata dunia. Ia memberi pelajaran bahwa setiap manusia berhak atas kesempatan kedua, ketiga, bahkan kesepuluh.

Hidup, sebagaimana demokrasi, tidak berhenti pada satu periode saja. Masih ada waktu tambahan, masih ada ruang untuk membalikkan keadaan.

Baca Juga: Luka Affan, Adalah Luka Seluruh Rakyat yang Percaya pada Keadilan

Dan pada akhirnya, nama Dembélé akan dikenang bukan hanya karena piala emas yang ia pegang, tetapi karena kisah yang ia tulis: dari cedera ke cedera, dari pahit ke manis, hingga menjadi cahaya yang indah.

Seperti kopi di meja pagi, ia mengingatkan kita: pahit bukan untuk ditakuti, pahit adalah jalan menuju manis. Dan Dembélé baru saja membuktikannya di panggung paling megah sepak bola dunia. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *