Belum Move On dengan STY

Belum bisa Move on dengan STY
Mantan pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong atau STY.

Oleh: Ari Loru – penulis lepas

“Total Politik” adalah salah satu podcast yang paling rajin menyeduh isu-isu politik nasional dengan rasa yang pekat dan jujur. Di tangan Arie Putra dan Budi Adiputro, politik tak lagi sekadar obrolan elitis, tapi menjadi secangkir kopi yang bisa dinikmati di warung pinggir jalan.

Bacaan Lainnya

Dua anak muda ini tahu betul bagaimana mengulik isu sampai ke dasar ampasnya, membuat setiap narasi liar jadi tercerahkan.

Dari ruang “Total Politik” itu, kita belajar bahwa politik bisa dikelola dengan cerdas dan terbuka. Bahwa perdebatan bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk membangun pemahaman. Sayangnya, kesadaran semacam ini belum menetes sampai ke dunia sepak bola kita — dunia yang juga sedang berusaha menemukan jati dirinya.

Baca Juga: Hasil Liga Champions: Dortmund dan Arsenal Meyakinkan, Juara Bertahan dan Napoli Menang Tipis

Di warung kopi “Revolusi”, tempat Kang Len menjadi barista sekaligus pengamat sepak bola setengah serius, aroma kopi arabica bercampur dengan panasnya perdebatan usai kekalahan Indonesia dari Arab Saudi.

“Rasa pahitnya pas,” katanya sambil menepuk meja, “tapi pahitnya kekalahan malam ini lebih dalam dari robusta Flores.”

Kenung Aryo, sahabatnya yang selalu optimis, menimpali dengan nada penuh harapan: “Santai, Kang. Kita masih bisa lolos. Masih ada Irak, masih ada asa.” Dalam tiap tegukan, optimisme dan realisme bercampur seperti gula yang tak sepenuhnya larut.

Baca Juga: Luka Affan, Adalah Luka Seluruh Rakyat yang Percaya pada Keadilan

Namun Syekh Bola — pengamat bola lokal yang lebih suka statistik ketimbang perasaan — memotong optimisme itu. Baginya, langkah Jay Idzes dan kawan-kawan ke Piala Dunia 2026 ibarat mendaki Rinjani tanpa bekal cukup.

“Memaksakan total football melawan Irak itu seperti bunuh diri di puncak gunung,” katanya. Pandangannya getir, tapi ada kejujuran di dalamnya.

Lalu datang Ahli Cinta, si penikmat bola karismatik yang selalu menulis dengan hati. Ia tak setuju pada keputusan Patrick Kluivert yang mencoret beberapa pemain era Shin Tae-yong. “Bola itu bukan sekadar taktik,” ujarnya lirih, “bola itu cinta.”

Baca Juga: Dari Palu ke New York: Refleksi atas Suara Indonesia di PBB

Bagi dia, mencoret pemain tanpa mempertimbangkan semangat dan loyalitas adalah kehilangan rasa — kehilangan yang membuat seluruh stadion sepi meski penontonnya penuh.

Dan memang, di balik semua statistik dan taktik, ada ruang yang lebih dalam dari sekadar kemenangan: cinta. Cinta yang membuat kita, para suporter, belum bisa benar-benar move on dari sosok Shin Tae-yong. Ia bukan hanya membangun fondasi sepak bola Indonesia yang lama porak-poranda; ia menanamkan keyakinan, bahwa kerja keras dan disiplin adalah bentuk cinta paling konkret bagi bangsa ini.

Shin Tae-yong bukan sekadar pelatih; ia adalah metafora tentang ketulusan di tengah sistem yang sering pincang. Ia datang bukan untuk memanjakan, tapi untuk mengubah — dengan cinta yang keras kepala. Maka, setiap kali timnas kalah, nama STY kembali disebut, seperti kenangan yang tak mau disesap sampai habis.

Baca Juga: Don Carlo Lupakan Lima Nama Masuk Timnas Brasil, Satu Pemain Punya Pengaruh Besar

Di warung kopi “Revolusi” itu, para politikus lokal dan bandit sepak bola duduk satu meja. Kopi arabica dan robusta bercampur dalam cangkir-cangkir kecil, membentuk aroma yang sama dengan konstelasi politik nasional — manis, pahit, tapi selalu bikin candu. Dari warkop semacam itu, sering lahir diskusi yang lebih jujur daripada yang kita dengar di televisi.

Percakapan sepak bola di negeri ini seharusnya tumbuh seperti politik di tangan Arie dan Budi: jernih dan berbasis pengalaman. Bukan dikuasai bandit amplop yang bicara tanpa dasar.

Di Inggris, pengamat bola adalah mantan pemain profesional yang tahu betul asam garam lapangan. Karena itu, percakapan publik mereka terarah, tidak sekadar koar-koar demi rating.

Mungkin, sudah saatnya kita meniru “Total Politik” — menyeduh sepak bola dengan ilmu dan empati, bukan dengan emosi sesaat. Karena seperti kopi, bola juga butuh takaran seimbang antara rasa dan logika. Dan selama keseimbangan itu belum tercapai, wajar jika kita masih belum bisa move on dari STY. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *