PALU – Tokoh masyarakat Sulawesi Tengah, Abdul Rachman Thaha (ART), menyatakan keprihatinannya terkait dugaan adanya konflik kepentingan dalam pengadaan barang dan jasa di RSUD Undata Palu.
ART menilai, rumah sakit seharusnya fokus meningkatkan kinerja dan pelayanan kesehatan bagi masyarakat, bukan justru disibukkan dengan urusan proyek.
Baca Juga: Apa Kabar Kasus Korupsi Proyek Jalan Parigi Moutong? ART Minta Kejati Sulteng Tetapkan Tersangka
“Saya prihatin. Saat Gubernur dan Wakil Gubernur berusaha membenahi RSUD Undata, justru ada pihak-pihak yang sibuk mencari keuntungan pribadi. Ada apa ini?” kata ART dalam keterangan resminya, Senin (22/9/2025).
Ia mengaku mendengar informasi soal adanya oknum yang mencoba menyingkirkan rekanan lama dan menggantinya dengan yang baru, hanya karena keinginannya tidak dipenuhi.
“Saya minta praktik seperti ini dihentikan. Jangan bikin gaduh, apalagi sampai menurunkan simpati masyarakat,” tegas mantan anggota DPD RI periode 2019–2024 itu.
Baca Juga: KPK Pasang Mata, Wagub Sulteng Minta Pengadaan Barang dan Jasa Harus Jelas Kronologinya
Menurut ART, keluhan publik terhadap pelayanan RSUD Undata justru mulai berkurang. Kondisi ini harus dijaga, bukan diganggu dengan kepentingan proyek.
“Kalau ada pejabat yang hanya sibuk urus pengadaan alat kesehatan, lebih baik dibersihkan saja dari manajemen. Untuk apa diberi jabatan, kalau kerjanya hanya mikir proyek,” kritiknya.
Ia juga mendesak aparat penegak hukum mengusut dugaan keterlibatan oknum ASN yang bermain proyek di RSUD Undata.
Baca Juga: Uang Negara Terus Mengucur, KPK Diminta Usut Proyek Jalan Kebun Kopi
“Jangan merasa berkuasa. Bekerjalah sesuai tupoksi. Perbaiki layanan dan manajemen rumah sakit. Jangan sampai ada praktik palak, minta fee ke rekanan. Kalau menolak, lalu diancam diganti, itu sudah keterlaluan,” tegas ART.
Pihak RSUD Undata Palu yang berusaha dikonfirmasi untuk dimintai tanggapannya belum berhasil. (*)





