Oleh: Aril (Ari Loru)
Di warung kopi pinggir jalan, layar televisi menayangkan wajah Jay Idzes yang tak lagi bisa menahan tangis. Matanya basah, bibirnya bergetar, tapi tangan kirinya tetap menepuk dada—tepat di atas lambang Garuda.
Pagi itu, kopi hitam tak lagi terasa pahit, melainkan hambar, seperti semangat yang perlahan memudar. Kekalahan terakhir menutup perjalanan panjang itu. Indonesia gagal lolos ke Piala Dunia 2026, dan bersama itu, hilang sudah momentum bersejarah yang selama ini kita tunggu.
Baca Juga: Belum Move On dengan STY
Lapangan yang tadi riuh kini sunyi. Di tengahnya, Jay berdiri mematung. Tidak ada bahasa yang cukup untuk menjelaskan luka semacam itu. Ia bukan sekadar kecewa karena kalah, tapi karena merasa belum cukup memberi. Di dadanya, Garuda tampak seperti ikut menunduk—mungkin juga menangis.

Pemain Timnas Indonesia, Jay Idzes.
Jay datang dari jauh, dari dunia yang lebih tertata dan terlatih. Namun di negeri ini, ia menemukan sesuatu yang tidak ada dalam strategi atau data statistik: cinta yang keras kepala. Cinta yang membuatnya tetap berlari meski lutut bergetar, cinta yang menahannya untuk tidak berpaling meski harapan retak. Ia belajar mencintai bangsa ini seperti seseorang mencintai kopi: meski dingin, tetap diminum; meski pahit, tetap dicari.
Pagi itu, di warung-warung kopi dari Jakarta sampai Palu, banyak orang menatap layar dengan pandangan kosong. Ada yang memukul meja, ada yang mematikan televisi, ada yang hanya diam dengan mata menerawang. Di antara asap rokok yang menggantung, seseorang berkata lirih, “Kita sudah sedekat itu dengan sejarah, tapi takdir tak mengizinkan.” Kalimat sederhana itu terasa lebih menusuk daripada komentar di media sosial.
Baca Juga: Menang Meyakinkan 3-1, PSM Poboya Juarai Asnawi Rasyid Cup 2025
Jay Idzes mungkin tidak mengerti sepenuhnya betapa dalam luka bangsa ini ketika gagal di lapangan hijau. Di sini, sepak bola bukan sekadar olahraga—ia adalah ruang harapan, pelarian dari getirnya hidup, simbol kecil dari rasa ingin berarti. Dan pagi itu, harapan itu pecah perlahan, seperti cangkir kopi yang retak tanpa suara.
Ketika kamera menyorot wajahnya, Jay menunduk lama. Air matanya menetes, jatuh tepat di dada tempat Garuda bersarang. Genggamannya pada jersey merah itu begitu erat, seakan ia sedang meminta maaf kepada seluruh negeri. Tapi sebenarnya, justru bangsa inilah yang mungkin harus berterima kasih—karena dari matanya yang asing itu, kita melihat bentuk cinta yang begitu tulus.
Jay telah menjadi cermin bagi kita semua. Ia datang membawa nama asing, tapi pergi meninggalkan rasa yang begitu Indonesia: kecewa, tapi tetap setia. Dari darah yang bukan merah putih, tumbuh kesetiaan yang bahkan tak semua anak negeri mampu memeliharanya. Sebuah ironi yang menyentuh—seperti secangkir kopi yang sudah dingin tapi tetap kita habiskan, karena di situlah kenangan tersisa.
Baca Juga: Dari Cedera ke Cahaya: Dembele dan Pelajaran Politik Kesabaran
Barangkali Tuhan memang sedang menguji bangsa ini—bukan dengan kemenangan, tapi dengan kehilangan. Karena dari kehilanganlah kita belajar untuk menghargai, dari kegagalanlah kita tahu siapa yang benar-benar peduli. Jay Idzes mengajarkan bahwa nasionalisme bukanlah soal tempat lahir, tapi soal keberanian untuk tetap berdiri ketika semua runtuh.
Di politik pun begitu. Banyak yang memegang kekuasaan tanpa air mata, tanpa rasa bersalah ketika rakyatnya terjatuh. Tapi Jay, yang bahkan baru menjejak tanah ini, menangis untuk merah putih. Sementara mereka yang lahir di sini, sering lupa bahwa Garuda di dada bukan sekadar simbol—ia adalah janji.
Momentum bersejarah itu memang hilang, tapi bukan semangatnya. Jay dan rekan-rekannya mungkin kalah, tapi mereka telah meninggalkan sesuatu yang lebih penting: ketulusan. Air mata di dadanya bukan tanda lemah, tapi doa yang tak terucap—agar bangsa ini belajar mencintai dengan cara yang lebih jujur.
Baca Juga: Dari Palu ke New York: Refleksi atas Suara Indonesia di PBB
Dan ketika matahari mulai naik, warung kopi perlahan sepi. Televisi dimatikan, suara komentator lenyap, hanya tersisa sisa kopi dingin di cangkir yang belum sempat dihabiskan. Seorang bapak tua berkata pelan, “Anak itu menangis untuk kita, sementara kita sering lupa menangis untuk negeri ini.” Tak ada yang menjawab, hanya diam panjang yang menyayat.
Sebab di pagi yang kehilangan sejarah itu, Garuda tidak benar-benar kalah. Ia hanya sedang menunduk, menunggu saatnya kembali terbang. Dan air mata Jay Idzes—air mata Garuda di dadanya—akan tetap menjadi pengingat: bahwa mencintai Indonesia tidak selalu berarti menang, tapi berani tetap setia ketika semuanya terasa hancur.
Biarkan aku hancur kehilangan cinta, tapi jangan hancurkan aku dengan kegagalan Indonesia lolos piala dunian tahun depan “SATAKE”. (*)
#ruangfilsuf





