DONGGALA – Setiap pagi di hari sekolah, ada pemandangan yang cukup menyita perhatian di Dusun 7 Bontopangi, Desa Tonggolobibi, Kecamatan Sojol, Kabupaten Donggala.
Anak-anak sekolah di dusun itu, terpaksa mempertaruhkan keselamatan agar bisa ke sekolah.
Sejak jembatan utama di wilayah itu putus, akses menuju SDN 10 Sojol terisolasi. Setiap hari muridnya harus menyeberangi sungai menggunakan rakit kecil.
Baca Juga: Diguyur Hujan Berjam-jam, Palu dan Donggala Terendam Banjir
Ngerinya lagi, sungai tersebut dikenal sebagai habitat buaya.
Warga mengaku, sudah beberapa kali melihat kemunculan buaya di sekitar lokasi penyeberangan. Meski berbahaya, itu menjadi satu-satunya jalur yang bisa ditempuh.
“Semenjak jembatan putus, anak-anak kami harus naik rakit untuk ke sekolah. Yang lebih menakutkan, sungai ini ada buayanya. Tapi mau apalagi, ini satu-satunya jalan,” ujar Risman Yunus, warga setempat baru-baru ini.
Baca Juga: Pimpin ORADO Donggala, Rofandi: Saatnya Domino Naik Kelas
Menurutnya, memang ada jalur darat alternatif. Namun warga harus memutar sekitar tujuh kilometer. Itu pun hanya bisa dilalui kendaraan bermotor.
“Kalau lewat darat harus melingkar jauh. Kemudian, tidak semua orang tua punya kendaraan. Jadi anak-anak tetap pilih rakit walaupun berisiko,” ujarnya pasrah.
Baca Juga: Bupati Vera Laruni Dukung Pembentukan Forum Multi Pihak di Donggala
Putusnya jembatan tak hanya menghambat akses pendidikan, tetapi juga mengganggu aktivitas ekonomi warga setempat. Distribusi hasil kebun dan kebutuhan pokok ikut terdampak.
Masyarakat pun berharap agar Pemerintah Kabupaten Donggala dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, segera memperbaiki jembatan tersebut.
Baca Juga: Bupati Vera Laruni Cari Pejabat yang Tepat Mengisi Pemerintahannya di Donggala
Mereka berharap akses yang aman segera terwujud agar anak-anak tak lagi menyeberangi sungai berbuaya demi menuntut ilmu. (*)





