Bahasa Kaili di Ambang Kepunahan, Nurmiati: Diperkirakan 15-20 Tahun Mendatang

Bahasa Kaili di Ambang Kepunahan, Nurmiati: Diperkirakan 15-20 Tahun Mendatang
Ketua Libu Momi Sulteng, Hj Nurmiati. (Foto: IST).

PALU – Rasa keprihatinan dengan semakin tergerusnya budaya dan bahasa Kaili, menjadi latar belakang terbentuknya Libu Mombine To Kaili (Libu Momi) Provinsi Sulawesi Tengah.

Ketua Libu Momi Sulawesi Tengah, Hj. Nurmiati, S.Pd, M.Si mengungkapkan, saat ini keunikan dan keindahan budaya Kaili perlahan mulai redup di tengah masyarakat, karena maraknya asimilasi budaya yang tidak dapat dihindari.

Bacaan Lainnya

Baca Juga: LIBU MOMI Sulteng Komitmen Menjaga Kelestarian Budaya Kaili

“Pada acara perkawinan masyarakat Kaili, terkadang justru lebih menonjolkan budaya dari daerah lain, ketimbang budaya Kaili itu sendiri. Entah mengapa,” ujarnya saat berbincang dengan wartawan, Rabu (1/4/2026) di Palu.

Dosen Unismuh Palu ini menegaskan, jika kondisi tersebut dibiarkan, maka budaya Kaili sebagai salah satu kekayaan daerah terancam punah.

“Dan bila kita hanya diam, pada akhirnya budaya sebagai salah satu khazanah kekayaan daerah ini akan punah. Padahal begitu banyak budaya Kaili yang harus disosialisasikan, dijaga, dibina, dikembangkan dan dilestarikan,” ujarnya.

Baca Juga: Wagub Reny Lamadjido Harapkan Perempuan Jadi Penggerak Pelestarian Budaya Kaili

Selain budaya, Nurmiati juga menyoroti penggunaan bahasa Kaili yang semakin jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan hasil penelitian, kata dia, bahasa Kaili diperkirakan akan punah dalam kurun waktu 15 hingga 20 tahun mendatang, bila tidak ada upaya pelestarian.

“Masyarakat Kaili lebih banyak menggunakan Bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari di rumah. Akibatnya, anak-anak dan remaja Kaili, banyak yang tidak memahami bahasa Kaili dan tidak bisa menggunakannya,” urainya.

Baca Juga: Di HUT Poso ke-131, Vera Laruni Gaungkan Kepemimpinan Perempuan di Sulteng

Kondisi itulah menjadi dasar terbentuknya Libu Momi. Kehadiran Libu Momi bertujuan lebih memahami, menjaga, mengembangkan, dan melestarikan bahasa serta budaya Kaili agar tidak hilang di tengah arus asimilasi.

“Budaya Kaili memiliki potensi sebagai aset dalam menunjang pertumbuhan pariwisata dan ekonomi daerah berbasis kearifan lokal,” kata Nurmiati.

SAFARI RAMADAN LIBU MOMI

Di Bulan Ramadan 1447 Hijrah kemarin, dalam rangka menjalankan program Budaya Berani Berkah, Libu Momi menggelar Safari Ramadan di sejumlah wilayah.

Kegiatan perdana dilaksanakan pada Sabtu, 21 Februari 2026, bertempat di Masjid Al Takdir, Desa Baliase, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi.

Baca Juga: Ngaji Pemberdayaan Perempuan di Resonara, Momentum Bangun Kesadaran Kolektif

Kegiatan di Desa Baliase dihadiri langsung oleh Hj. Nurmiati.

Selanjutnya, pada 24 Februari 2026, Safari Ramadan berlanjut di Masjid An’naim, Kelurahan Balaroa, Kota Palu.

Libu Momi turut menyerahkan bantuan berupa sarung, baju koko, mukena, gula dan kebutuhan lainnya, serta melaksanakan tarawih bersama masyarakat.

Baca Juga: Dukung Pelestarian Budaya Dokar, Wagub Sulteng Dorong Arena Khusus Dokar Race

Pada malam Nuzulul Qur’an, 17 Ramadan, Libu Momi mengunjungi Masjid Jami yang merupakan masjid tertua di Kota Palu. Kegiatan di masjid tersebut diisi dengan penyerahan bantuan dan tarawih bersama.

Kegiatan kemudian berlanjut pada Jumat, 13 Maret 2026, dengan kunjungan ke Yayasan Miftahul Khairaat. Dalam kesempatan itu, Libu Momi menyalurkan bantuan kepada anak-anak yatim piatu sebagai bentuk kepedulian sosial.

Safari Ramadan ditutup dengan acara buka puasa bersama seluruh pengurus Libu Momi di salah satu restoran di Kabupaten Sigi.

Baca Juga: Wagub Reny Lamadjido Minta Jajarannya Terbuka dan Jujur Saat Diperiksa BPK

“Merawat dan memupuk kebersamaan ini adalah hal yang wajib dalam sebuah komunitas dan organisasi. Tanpa kebersamaan, maka organisasi dan programnya tidak akan terwujud. Inilah yang kami harapkan dalam Safari Ramadan Libu Momi di Ramadan 1447 Hijriah,” kata Nurmiati.

Ia menambahkan, organisasi merupakan wadah bagi mereka yang memiliki komitmen yang sama dalam mencapai tujuan bersama.

Baca Juga: Wagub Sulteng: Penulis Buku Pemimpin Era Globalisasi ala Gen Z Perempuan Hebat

“Sebab organisasi adalah wadah bagi mereka yang memiliki komitmen yang sama dalam kebersamaan. Meramu, merencanakan dan melaksanakan program kerja untuk mencapai tujuan bersama harus didasari rasa tanggung jawab, baik dari diri sendiri maupun bersama,” pungkasnya. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *