Oleh: Thales Lahusaeni
Kita hidup di zaman dimana dunia yang semakin ramai oleh suara, dari hari ke hari manusia begitu semakin jarang mengalami perjumpaan yang sungguh-sungguh.
Percakapan ada di mana-mana, telinga ada dimana-mana, tetapi kehadiran bibir dan telinga terasa langka tak berfungsi. Kita saling berbicara, saling menanggapi, namun tidak selalu saling menghadirkan diri. Seolah-olah suara telah menggantikan makna hadir, dan kata-kata menjadi ukuran kepedulian.
Baca Juga: Air Mata di Pelepuk Mualem (Muzakir Manaf)
Masalahnya bukan pada kurangnya bicara, melainkan pada hilangnya etika dalam mendengar. Dalam banyak percakapan, manusia hadir dengan egonya sendiri yang dengan kata lain ingin didengar, dibenarkan, dan diakui.
Mendengar pun sering berubah menjadi sekadar menunggu giliran berbicara dari kebisingan perjumpaan. Akibatnya, percakapan dua arah kehilangan kedalaman, dan kehadiran direduksi menjadi formalitas. Sampai kapan hal ini kan berakhir.
Menghilangkannya mustahil, tapi meminimalisirnya itu memungkinkan. Mendengarkan adalah seni memahami manusia. Dengan mendengar secara baik, kita bisa terbawa suasana yang sedang dirasakan oleh teman bicara. Sehingga Perjumpaan pun diantara sesama manusia seakan membuat semesta tersenyum.
Imam Al-Ghazali, dalam tradisi pemikiran Islam, menegaskan bahwa penyakit utama manusia terletak pada nafs yang tidak terdidik. Nafsu ingin menonjol, ingin menang, dan ingin diakui, membuat hati sulit tenang dan tertutup dari suara orang lain.
Dalam keadaan seperti ini, mendengar menjadi mustahil, karena hati lebih sibuk dengan dirinya sendiri. Diam, dalam pandangan ini, bukan kelemahan, melainkan latihan penyucian diri—cara menundukkan ego agar hati kembali lapang.
Dari sisi filsafat etika modern, Emmanuel Levinas memandang bahwa perjumpaan dengan orang lain adalah peristiwa moral yang mendasar. Kehadiran “yang lain” menuntut tanggung jawab, bahkan sebelum kita sempat berbicara atau menilai.
Baca Juga: Anwar Hafid: Saya Bahagia Morowali Utara Terus Tumbuh
Mendengar, dalam pengertian ini, bukan sekadar aktivitas komunikasi, melainkan pengakuan atas martabat manusia lain. Menyela atau mengabaikan berarti menolak tanggung jawab tersebut. Pun sebaliknya, Mendengar secara seksama, fokus pada apa yang disampaikan oleh teman bicara berarti telah melaksanakan tanggung jawab moral yang mendasar.
Jika kedua pandangan ini dipertemukan, diam dan mendengar menemukan maknanya yang paling dalam. Diam menjadi cara menahan nafs agar tidak mendominasi, sementara mendengar menjadi sikap etis untuk memuliakan sesama.
Baca Juga: HUT ke-12 Kabupaten Morowali Utara, Gubernur Sulteng Hadir
Di sinilah kehadiran manusia tidak diukur dari banyaknya kata, tetapi dari sejauh mana ia memberi ruang bagi orang lain untuk hadir apa adanya. Itulah tantangan kita bersama untuk membumikan mendengar yang baik.
Penting memberi ruang bagi orang lain untuk hadir apa adanya, tampil berbicara apa adanya, bukankah setiap kata ada nilainya, dan setiap nilai yang didengar oleh telinga merupakan asupan gizi bagi jiwa.
Mendengar yang baik bukan seni memanipulasi manusia, ia adalah termaksut seni memanusiakan manusia. Karena disitu ada nilai care kepedulian, dan penghargaan respek.
Baca Juga: Gubernur Sulteng dan ICECC Bertemu, Jajaki Peluang Penerbangan Tiongkok – Palu
Budaya kita sering memuja suara dan mencurigai diam. Padahal, dalam keheningan yang penuh perhatian, hubungan justru menjadi lebih manusiawi. Mendengar memungkinkan hati bekerja, dan mendengar memungkinkan perjumpaan terjadi. Tanpa keduanya, percakapan hanya menjadi pertukaran kata, bukan pertemuan jiwa.
Dengan demikian Belajar mendengar, bukanlah menjauh dari kehidupan sosial, melainkan kembali ke etika dasar kemanusiaan. Mendengar yang sadar dan mendengar yang tulus adalah bentuk kehadiran yang tidak bising, tetapi bermakna.
Baca Juga: Keindahan Towale Pikat Gubernur Sulteng: Desa Wisata dengan Tenun Donggala Berkelas
Mungkin di tengah dunia yang semakin gaduh, manusia perlu kembali belajar satu hal yang sederhana namun mendasar: menjadi hadir dengan menundukkan ego, agar kehadirannya benar-benar terasa dan didengar. Sebab mendengarkan termasuk seni memahami manusia. (*)





