SIGI – Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (DEMA FTIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu menggelar Dialog Kebangsaan bertajuk “Merawat Kedamaian Bumi Tadulako, Moderasi Beragama Sebagai Penangkal Radikalisme dan Politik Identitas”, di Warkop FEKON di Kampus II UIN Datokarama Palu di Sigi, Kamis (6/11/2025) malam.
Kegiatan yang dimulai pukul 20.00 WITA ini berlangsung hangat dan mendapat antusiasme tinggi dari para peserta.
Baca Juga: Majelis Taklim Datokarama Kirim Doa untuk Presiden Prabowo di Hari Santri
Acara menjadi semakin istimewa dengan kehadiran Prof. Dr. H. Saepudin Mashur, S.Ag., M.Pd.I, Dekan FTIK UIN Datokarama Palu, yang hadir sebagai keynote speaker sekaligus praktisi pendidikan.
Selain itu, turut hadir sejumlah narasumber terkemuka seperti Ray Rangkuti (pengamat politik), Wawan H. Purwanto (pengamat intelijen), dan Muhammad Sadig (pengamat gerakan mahasiswa).
Ketua DEMA FTIK, Ridzki Efendi, menyampaikan harapannya agar kegiatan itu menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memperkuat semangat kebangsaan melalui moderasi beragama.
Baca Juga: Doa dan Zikir Majelis Taklim Datokarama Palu di HUT ke-80 TNI
“Harapan kami, dengan pemateri-pemateri yang luar biasa ini, kita dapat bersama-sama merawat kedamaian dengan moderasi beragama sebagai penangkal dari radikalisme dan politik identitas,” ujarnya.
Ia menambahkan, gerakan mahasiswa harus tetap menjunjung nilai-nilai intelektual dan idealisme.
“Kita bisa menjauhi hal-hal tersebut dengan gerakan-gerakan mahasiswa yang lebih soft, idealistik, dan dengan gerakan-gerakan mahasiswa yang betul-betul mengandalkan isi kepalanya, bukan dengan egonya sendiri,” tambah Ridzki.
Baca Juga: Gubernur Anwar Hafid dan Wali Kota Hadianto Rasyid Makin Akrab di Momen HUT Palu ke-47
Di akhir kegiatan, Ridzki berharap dialog kebangsaan ini dapat menjadi momentum lahirnya ide-ide positif untuk kegiatan mahasiswa ke depan.
“Dan juga, semoga dengan kegiatan ini, kita bisa merancang dan mengusulkan kegiatan yang lebih bermanfaat ke depannya, serta menghindari praktik idealisme dan politik identitas yang dapat memecah belah masyarakat, terutama di Sulawesi Tengah,” tutupnya. (*)





