Oleh : Ari Loru (Penulis Lepas)
REBAHKAN lelah tubuh di tempat tinggi tak berpenghuni, lupakan sejenak masalah duniamu, lembut sang awan kan menyambutmu (Fourtwnty).
Dari rakyat untuk rakyat, dialah suara yang tak pernah padam entah itu saat ucapan manis menjelang pemilu atau hanya halusinasi politikus yang merebut empati rakyat. Faktanya hari ini, lebih tepat kita mengatakan: dari cukong untuk cukong.
Negara agraris katanya, namun nyatanya ada tangis di penghujung pelupuk mata, menanti sanak family berkumpul kembali dalam tawa dan bahagia. Keserakahan jiwa diri bangsa adalah musuh terbesar bagi anak cucu negeri ini.
Baca Juga: Belum Move On dengan STY
Ibu Pertiwi kembali berduka. Di tengah polemik ijazah palsu yang belum berkesudahan, episodenya begitu panjang, mengingatkan kita pada sinetron Tukang Bubur Naik Haji. Apakah harus kita ubah judul sinetron itu menjadi Reruntuhan Kayu Menyapu Pemukiman Warga?
Setiap pohon tumbang adalah doa yang kita robek dari langit. Alam pernah menjadi rumah, kini ia hanya menjadi korban ambisi. Banjir sejatinya tidak turun dari langit; ia lahir dari tanah yang dirampas. Air keruh bukan karena hujan, tetapi karena kebijakan yang kering.
Sumatera adalah salah satu pulau terbesar di Indonesia, kaya akan sejarah dan alamnya. Hamparan hutan tropis menjadi rumah bagi harimau dan gajah. Hari ini, kita melihat keindahan alam itu berubah menjadi luka dalam mozaik alam.
Baca Juga: Sumpah Pemuda dan Negeri Agraris
Banjir bandang melanda tiga provinsi sekaligus; ini tentunya menguyah hati kita bersama. Tak ketinggalan juga sosok stoikisme idola Gen-Z, Fery Irwandi, YouTuber yang dikenal dengan konten edukatif tentang pendidikan, ekonomi, politik, stoikisme, dan fenomena sosial.
Fery Irwandi, selain YouTuber, ia juga CEO sekaligus pendiri Malaka Project yang diluncurkan pada tanggal 20 Oktober. Pria kelahiran Jambi tahun 1980 ini merupakan lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), jurusan Akuntansi. Tidak berhenti di tingkat S1, Fery juga melanjutkan studi magister di Central Queensland University (Australia).
Pada tahun 2022, Fery Irwandi mengejutkan publik dengan memutuskan pensiun dari Kementerian Keuangan setelah 10 tahun mengabdi sebagai ASN. Pensiun bukan karena usia, melainkan mengundurkan diri untuk memilih jalan sebagai konten kreator sekaligus aktivis.
Baca Juga: FALDY BHUCEK, King Tarkam dari Sigi
Di balik keputusan yang terlihat sederhana itu, ada keberanian yang jarang dimiliki banyak orang. Fery memilih berjalan di jalur sunyi yang tidak dijanjikan dengan gaji tetap maupun kenyamanan birokrasi. Ia mempertaruhkan stabilitas hidup demi suara nurani yang menggerakkan langkahnya.
Kepergian dari Kemenkeu bukan sekadar perpindahan profesi, melainkan pernyataan sikap bahwa integritas lebih mahal dari jabatan. Di titik itulah, publik mulai melihat Fery bukan hanya sebagai konten kreator, tetapi sebagai wajah baru perlawanan moral generasi muda.
Setelah resign dari ASN Kemenkeu, Fery Irwandi langsung tancap gas melalui platform YouTube dan Malaka Project, dengan mimpi mewujudkan masyarakat baru yang mampu berpikir kritis dan analitis.
Benturan keras dalam politik telah dilewati pria berkacamata ini dengan khusnul khotimah. Berapa kali upaya membungkam suaranya agar diam membisu ketika ketimpangan sosial politik terjadi? Masih segar di ingatan kita tentang #IndonesiaGelap Fery Irwandi hadir sebagai benteng idealisme anak muda.
Baca Juga: Air Mata Garuda di Pelupuk Mata Jay Idzes
“Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.” Tan Malaka
Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya. Fery Irwandi adalah bukti kontan integritas dari masyarakat. Hanya dalam waktu 24 jam, nilai integritas dari 87 ribu masyarakat Indonesia kepada saudara-saudara kita di Sumatera mencapai 10,3 miliar rupiah.
Di tengah sumpeknya diskursus publik saling sindir dan saling menyalahkan antar pejabat negarajustru menambah luka bagi mereka yang berduka. Kalimat mulia toubatan nasuha hanya terdengar seperti dongeng di siang bolong.
Masyarakat bukan lagi objek hari ini; mereka telah menjadi subjek perubahan dalam mimpi Malaka Project. Keadilan akan mencari jalannya sendiri.
Baca Juga: Dari Palu ke New York: Refleksi atas Suara Indonesia di PBB
Pada akhirnya, sejarah selalu menulis dengan tinta kejujuran. Mereka yang merusak akan tenggelam bersama ambisinya, mereka yang merawat akan tumbuh menjadi cahaya bagi generasi berikutnya.
Fery Irwandi hanyalah satu suara, tapi suara yang memilih untuk tidak padam ketika yang lain memilih diam. Dan di tengah reruntuhan kebijakan, di tengah banjir yang merenggut mimpi, kita belajar satu hal: negeri ini tidak kekurangan bencana, yang ia butuhkan adalah keberanian untuk berdiri di atas kebenaran.
Sebab pada akhirnya, keadilan bukan sekadar kata ia adalah jalan panjang yang tetap akan menemukan pemiliknya. (*)





