Oleh: Ari Loru
Rabb yang kita sembah tetaplah Rabb yang sama, baik di bulan suci Ramadan maupun di luar Ramadan. Allah, Dzat Yang Maha Besar dengan segala kekuasaan-Nya, adalah pemilik langit dan bumi. Dia Maha Esa, dan seluruh kehidupan makhluk-Nya berada dalam kehendak-Nya.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Ayat ini menegaskan bahwa ibadah bukan hanya milik Ramadan, tetapi menjadi tujuan hidup sepanjang waktu.
Baca Juga: Sajadah di Penghujung Ramadan
Kalimat ini seakan menampar kesadaran kita, bahwa peribadatan tidak boleh terputus hanya di bulan Ramadan. Ia adalah miftah (kunci) bagi setiap hamba yang ingin menggapai ampunan serta derajat taqwa di sisi-Nya.
Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa berpuasa Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menjadi penguat bahwa Ramadan adalah ladang ampunan bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh.
Para ulama pun mengingatkan, seperti yang disampaikan oleh Imam Ibn Rajab Al-Hanbali, bahwa tanda diterimanya amal di bulan Ramadan adalah istiqamahnya seorang hamba dalam ketaatan setelah Ramadan berlalu.
Baca Juga: Ramadan Telah Pergi, Semoga Kita Bukan Termasuk Orang yang Celaka
Kini Ramadan tinggal menghitung jam. Ia akan pergi, membawa seluruh amal kebajikan yang telah kita ukir. Waktu berlalu begitu cepat, seakan baru kemarin kita menyambutnya dengan penuh harap.
Di sisa menit dan detik ini, biarkan kita berkhela napas, meresapi perpisahan yang pasti terjadi. Ia akan kembali, namun kita belum tentu diberi kesempatan untuk bersua kembali dengannya.
Baca Juga: Ramadan: Madrasah Kita Menghadapi Krisis Dunia
Para perindu ampunan Allah melepasnya dengan ketaatan dan air mata. Bibir mungkin tak berucap, tetapi hati bergemuruh lirih penuh harap dan cemas akan nasib amal yang telah dilakukan.
Di sisi lain, gema takbir mulai berkumandang. Sanak keluarga berkumpul, mengenakan pakaian rapi dan baju baru, wajah-wajah penuh kebahagiaan menyambut hari kemenangan.
Namun di balik senyum itu, hati kecil berbisik, “Ya Allah, apakah kami termasuk orang-orang pilihan-Mu yang Engkau ampuni dan Engkau anugerahi taqwa?”
Baca Juga: Memaknai Puasa sebagai Perjalanan Eksistensial
Pulang dengan kemenangan adalah harapan setiap insan beriman kembali dalam keadaan suci, sebagaimana bayi yang baru dilahirkan, menghadap Rabb saat kumandang takbir 1 Syawwal bergema.
Ya Allah, terimalah sujud kami, tilawah kami, qiyamullail kami, serta bakti kami kepada dua insan mulia di muka bumi Ayah dan Bunda.
Di hari yang fitri ini, kami pun saling mengucap: Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang kembali kepada fitrah.
Baca Juga: Gaungkan Ramadan Dengan Berdoa, Karena Doa Adalah Intisari Ibadah
Semoga jejak Ramadan yang telah kita lalui menjadi saksi, bahwa kita pernah bersungguh-sungguh dalam mendekat kepada-Nya. Dan semoga kita dipertemukan kembali dengan Ramadan di masa akan datang dalam keadaan yang lebih baik. (*)





