MOROWALI UTARA — Sektor hunian kos-kosan (indekos) di Kabupaten Morowali Utara, Provinsi Sulawesi Tengah, menyimpan potensi ekonomi yang besar.
Sebagai kabupaten penghasil nikel (penggalian dan pengolahan/industri), Morowali Utara juga menjadi daerah tujuan para pencari kerja.
Baca Juga: DPRD Morowali Utara Sahkan APBD 2026
Berdasarkan catatan redaksi, dengan estimasi sekitar 7.000 kamar kos dan rata-rata sewa Rp1 juta per bulan, perputaran uang di sektor ini diperkirakan mencapai Rp7 miliar setiap bulan. Atau diperkirakan sekitar Rp84 miliar per tahun.
Angka tersebut menggambarkan kuatnya kontribusi ekonomi informal bagi daerah, terutama di kawasan permukiman pekerja. Seperti di Kecamatan Petasia, Petasia Timur, Bungku Utara, Mamosalato, hingga Lembo Raya.
Baca Juga: Ketua DPRD Morut Tinjau Penimbunan Tanggul Pelangi
Besarnya perputaran dana ini juga menegaskan perlunya regulasi dan penataan yang lebih baik. Mulai dari pendataan, perizinan, hingga peningkatan standar fasilitas.
Potensi pajak daerah dari usaha kos-kosan pun dinilai masih bisa dimaksimalkan oleh Pemda Morowali Utara. Keuntungan cuan (uang) dari bisnis ini begitu menjanjikan.
Baca Juga: Kajati Sulteng Apresiasi Capaian Kejari Morowali Utara
Hingga kini, belum ada data resmi mengenai jumlah pasti kamar kos di wilayah Morowali Utara. Karena sebagian besar dikelola masyarakat secara mandiri.
Namun, estimasi terbaru ini memberi gambaran jelas tentang skala ekonomi yang bergerak di sektor satu ini. (*)





