SEDIKITNYA 25 jurnalis perwakilan masing-masing media dari empat kota di Indonesia Timur, diundang Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ke Makassar akhir pekan kemarin.
Kantor Perwakilan LPS III Makassar melaksanakan media gathering 2025 di Kota Daeng. Kegiatannya berlangsung mulai tanggal 14 hingga 16 November 2025.
Jum’at sore hingga malam, para jurnalis sudah berdatangan di Makassar. Teman-teman dari Kendari tiba lebih awal. Disusul Manado, Palu, dan ditutup tim Sorong. Penerbangan dari Palu dan Sorong sempat delay beberapa jam, sehingga waktu kedatangan tidak bersamaan.
Baca Juga: Aman Menabung di Bank, LPS Jamin Hingga Rp2 Miliar per Nasabah

Peserta media gathering LPS III Makassar saat berwisata ke Rammang-Rammang, Kabupaten Maros.
Malam pembukaan media gathering, rekan-rekan media dijamu langsung Kepala Kantor Perwakilan LPS III Makassar, Fuad Zaen. Jamuan selamat datang berlangsung di kantornya, gedung Graha Pena Fajar.
Malam itu, Fuad mengajak media dari wilayah tugas LPS III tersebut untuk bersinergi. Ia paham sekali peran media dalam memberi edukasi positif ke masyarakat.
“Literasi tentang keuangan terus menerus kami sampaikan ke masyarakat, sejak kantor kami hadir di Makassar mulai 17 Mei 2024. Wilayah kerja kami mencakup Sulawesi, Maluku dan Papua yang kami sebut Sulampua. Peran teman-teman media kami butuhkan,” harap Fuad.
Baca Juga: Cerita dari Tanah Timur: Media Gathering LPS Dihadiri 25 Media dari Empat Kota
Ia tidak ingin, setelah ada peristiwa besar dan seksi tentang keuangan, barulah LPS tampil di media. Bukan ujuk-ujuk seperti itu.
Media dan LPS perlu membangun kolaborasi dalam menyebarluaskan informasi di bidang keuangan, supaya masyarakat tidak terjebak dengan hal-hal yang merugikan diri mereka sendiri.
Secara umum, Fuad juga menjelaskan peran LPS sebagai lembaga yang menjamin simpanan nasabah di bank. Ada dua syarat yang LPS cover kata dia. Pertama, ada bentuk simpanannya. Apakah itu tabungan, deposito, atau giro. Kedua, ada lembaga tempat menyimpan, dalam hal ini bank.
Baca Juga: Selamat Bertugas, Presiden Lantik Dewan Komisioner LPS Periode 2025–2030
Jika dua syarat itu terpenuhi, pastinya masuk dalam cover LPS. Dan semua bank di Indonesia adalah peserta LPS.
“Ketika bank tersebut dicabut izinnya (likuidasi) oleh OJK, disitulah peran LPS. LPS langsung bekerja melakukan pengembalian uang nasabah. Batas penjaminan kami maksimal Rp2 miliar. Dalam lima hari kerja, kami sudah mengembalikan uang nasabah,” terang Fuad.
Bagaimana jika nominal simpanan nasabah lebih dari Rp2 miliar? Sisanya menunggu proses likuidasi rampung. Jika penjualan aset bank memadai, sisanya akan dikembalikan. Begitupun sebaliknya.
Jurnalis dari empat kota di Indonesia juga menanyakan sejumlah problem keuangan yang melibatkan nasabah dengan pihak perbankan. Seperti nominal simpanan di bank tiba-tiba berkurang jumlahnya. Kemudian potensi hacker yang dapat menguras saldo, serta kejahatan lainnya di era digital.
Baca Juga: Ditunjuk sebagai Plt Ketua Dewan Komisioner LPS, Masa Jabatan Didik Madiyono hingga 24 September
Ada juga jurnalis yang mengeluhkan kurangnya narasumber yang berbicara isu keuangan di daerah, hingga meminta kesediaan LPS menjadi narasumber berita jika ada informasi tentang keuangan.
“Makin malam, makin asyik nih diskusinya. Untuk fraud (kasus keuangan) di bank, harus dilaporkan ke pihak bank bersangkutan. Perlu ada investigasi kenapa saldonya tiba-tiba berkurang atau menghilang. Mungkin ada transaksi dari keluarga nasabah sendiri yang tidak diketahui, atau kartu ATM dicuri dan kode PIN-nya ketahuan. Atau potensi kemungkinan-kemungkinan lainnya,” sanggah Fuad menjawab pertanyaan rekan-rekan media.
“Wewenang itu masih ada di pihak bank. LPS hadir menyalurkan klaim simpanan nasabah, ketika OJK sudah mencabut izin bank tersebut. Jadi, tugas atau kewenangan LPS sangat jelas,” tambahnya.
Kepada rekan media, LPS III Makassar menyatakan kesiapan mereka untuk sharing tentang literasi keuangan.
Baca Juga: IMK Turun Tipis, Masyarakat Tetap Optimis Menabung
Malam pun makin larut. Sharing keuangan di malam pertama ditutup hampir pukul 23.00 WITA. Teman-teman pun balik ke hotel untuk beristirahat dan akan melanjutkan kegiatan esoknya.
MELIHAT PEGUNUNGAN KARST
Sabtu pagi, 15 November 2025, peserta media gathering berkunjung ke salah satu objek wisata di Kabupaten Maros. Di Maros, bukan hanya wisata air terjun Bantimurung yang tersohor, namun objek wisata Rammang-Rammang juga terkenal.
Dari Makassar, butuh waktu sekitar 1 jam perjalanan naik bus ke tempat ini.
Objek wisata Rammang-Rammang terletak di Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa. Kawasan karst seluas sekitar 45.000 hektar itu, terdiri dari pegunungan kapur (karst), lembah hijau, lembah air, serta gua-gua alami.
Baca Juga: Pesan Terakhir
Di dalam kawasan wisata Rammang-Rammang, terdapat jejak peradaban prasejarah. Secara administratif, Rammang-Rammang bagian dari Geopark Maros-Pangkep.
Pada 2017, objek wisata Rammang-Rammang resmi ditetapkan sebagai Global Geopark oleh UNESCO.
Keindahan alamnya sangat menarik. Peserta media gathering LPS berdecak kagum. Pagi itu, para jurnalis menyusuri sungai sepanjang dua kilometer lebih dengan perahu tradisional, yang dilengkapi satu buah mesin diesel.
Baca Juga: Hijau Adalah Masa Depan
Para pewarta juga menikmati panorama lanskap pegunungan karst yang spektakuler. Foto-foto dan video, pastinya tidak terlewatkan.
Sayangnya, berhubung cuaca tidak mendukung alias hujan, peserta media gathering tidak sempat menjelajahi gua dan tracking di pegunungan karst.
Naik perahu tradisional untuk sekali trip (pulang-pergi), harganya berkisar Rp200-300 ribu. Yang mengemudikan perahu masyarakat setempat. Mereka dicover oleh BumDes untuk melayani kunjungan wisatawan.
Baca Juga: Air Mata Garuda di Pelupuk Mata Jay Idzes
Kunjungan ke wisata Rammang-Rammang berakhir sore hari. Sebelum balik kanan ke Makassar, ngopi tipis dulu. Ada pisang goreng dan ubi goreng plus sambal terasi, menjadi santapan sambil menikmati panorama pegunungan karst.
DINNER DI KAPAL PINISI
Setelah beristirahat sejenak di hotel, sore hari menjelang malam, peserta media gathering melanjutkan perjalanan ke tepian Kota Makassar di Tanjung Bunga.
Sebuah makan malam dan pesta kembang api, digelar di atas Kapal Pinisi yang berlayar tenang di perairan Tanjung Bunga.
Selama beberapa tahun terakhir, Pinisi memang telah menjadi ikon wisata bahari di kawasan itu. Dan pengalaman menyantap makan malam di atas Pinisi sembari menyaksikan sunset dan panorama laut, menjadi daya tarik tersendiri bagi para tamu.
Baca Juga: Nafas Baru PSI Sigi Bersama Adi Kabarani Repadjori (AKR)
Harga paket kapal Pinisi sistem charter, mulai Rp279.000 per orang hingga Rp600.000 per orang. Waktu berlayar diperkirakan sekitar 2-3 jam.
Kapal yang digunakan malam itu adalah KLM Malayeka, salah satu Pinisi terbesar yang beroperasi di Tanjung Bunga. Kapasitasnya hingga 100 orang. Konon, pembuatan kapal kayu ini bisa menghabiskan miliaran rupiah.
Di atas geladak, peserta ditemani musik akustik. Petikan gitar akustik di KLM Malayeka seolah membelah perairan Tanjung Bunga malam itu.
Sajian makanannya juga khas Makassar banget. Ada nasi putih, ikan goreng, sayur mayur woku, dan sambal. Ada juga kue-kue khas Makassar. Dan satu lagi, ada kolak manis pisang sebagai menu penutup. Tak lupa kopi dan teh.
Baca Juga: Sumpah Pemuda dan Negeri Agraris
“Silakan dinikmati. Makassar juga dikenal dengan kota makanan enak. Tabe ki,” ujar Fathur mempersilakan, pemandu wisata KLM Malayeka.
Tidak hanya dinner dan pesta kembang api, para peserta media gathering juga diperdengarkan cerita tentang Pinisi oleh pemandu kapal yang bernama Fadel.
Kapal yang dinaiki malam itu merupakan Pinisi modifikasi tipe Lambo. Dalam tradisinya, ada dua jenis kapal Pinisi: Pinisi Lambo dan Pinisi Palari.
Khusus Pinisi Palari, bentuknya hingga 80 persen menyerupai Pinisi asli yang diwariskan para leluhur.
Sebagai kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan, Pinisi lahir di Kabupaten Bulukumba, daerah yang hingga kini menjadi pusat pembuatan kapal kayu legendaris tersebut.
Lebih jauh, Fadel menerangkan makna filosofis yang melekat pada desain Pinisi. Dua tiang utama kapal dimaknai sebagai dua kalimat syahadat, sedangkan tujuh layarnya -tiga di depan, dua di tiang tengah, dan dua di tiang belakang, melambangkan tujuh ayat dalam Surah Al-Fatihah.
Baca Juga: Vihara Karuna Dipa Diresmikan Setelah 30 Tahun, Prof Zainal: Ini Perayaan Kerukunan Sulteng
Ia juga menjelaskan alasan mengapa UNESCO menetapkan Pinisi sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2017 lalu. Kenapa bukan sebagai warisan budaya benda.
Alasannya, proses pembuatan Pinisi tidak hanya mengandalkan keahlian teknis, tetapi juga rangkaian prosesi adat yang harus dilalui. Salah satunya adalah prosesi pemotongan lunas, kayu panjang yang menjadi bagian pertama dari tubuh kapal, membentang dari haluan hingga buritan.
Baca Juga: Gubernur Sulteng Serahkan SK 1.103 PPPK Pemprov, Didominasi Tenaga Guru
Cerita kemudian bergeser pada lahirnya wisata bahari Pinisi di Makassar. Menurut Fadel, semuanya berawal dari tujuh anak muda yang melihat potensi besar pesisir dan gugusan pulau-pulau kecil di Makassar.
“Dari udara, formasi pulau-pulaunya memiliki bentuk unik, “mirip bentuk sperma,” ujarnya, sembari meminta maaf atas perumpamaan itu.
Makassar memang bukan hanya kaya kuliner. Pulau-pulaunya yang indah menjadi magnet bagi wisatawan, terutama bagi tamu yang ingin menikmati pengalaman laut tanpa perlu perjalanan panjang. (*)