BALI tidak hanya terkenal dengan pesona wisatanya yang berkelas dunia. Toleransi antarumat beragama di Pulau Dewata itu juga patut diacungi jempol.
Dua pesona yang terus terawat: wisata dan toleransi.
Merasakan shalat Jumat di Bali memberi kesan tersendiri. Pengalaman ini akan diingat sepanjang hayat. Sama seperti saat menjelajahi destinasi wisatanya yang bakalan sulit dilupakan.
Baca Juga: Ivana Berliana, Putri Wisata Indonesia 2025 asal Morut yang Bercita-cita Jadi ASN
Di provinsi dengan mayoritas pemeluk Hindu itu, toleransi beragama dijaga. Toleransi jadi sesuatu yang istimewa. Karenanya terus dirawat, tidak dibiarkan terkoyak atau terpecah belah.
Yang mayoritas melindungi minoritas. Sebaliknya, yang minoritas menghargai mayoritas.
Moderasi beragama tumbuh dan terpelihara dengan baik di Bali. Aktivitas keagamaan berlangsung aman dan nyaman bagi setiap pemeluk agama.
Baca Juga: Dikepung Banjir: Jakarta Sedang Tidak Baik-baik
Para tamu atau wisatawan merasakan hal sama. Kehadiran mereka dilindungi.
Pada Jumat (23/1/2026) kali ini, saya berkesempatan shalat Jum’at di Bali. Saya memilih Masjid Nurul Yatim di Jalan Merdeka Raya IX, Abian Base, Kuta, Bali. Lokasinya tidak jauh dari tempat saya menginap.
Sekitar 10 menit kalau berjalan kaki. Atau 3–4 menit menggunakan sepeda motor.
Cuaca di kawasan Kuta hari ini mendung. Sejak pagi hingga siang, matahari malu-malu menampakkan diri. Awan putih bercampur gelap menghiasi langit Bali.
Baca Juga: Aktor di Balik Kesepakatan Damai Warga Laranggarui – PT CPM
Berbeda dengan Jakarta yang dilanda banjir, kondisi Bali tidak separah itu. Meski hujan turun hampir setiap hari sejak sepekan terakhir, aktivitas warga tetap berjalan normal.
Sekitar pukul 12.25 WITA, pengeras suara Masjid Nurul Yatim barulah aktif. Namun azan belum dikumandangkan. Lantunan tilawah dari rekaman tipe recorder terdengar sayup dan pelan, sebagaimana lazimnya masjid-masjid di Indonesia sebelum shalat didirikan.
Nanti 10 menit kemudian, tepat pukul 12.35 WITA, muadzin mengumandangkan azan. Menurut jamaah, hal itu sudah menjadi kebiasaan di Bali sebagai bentuk toleransi.
Baca Juga: Anggota DPRD Golkar Morut Ikut Bimtek Kebencanaan di Jakarta
Pengeras suara masjid tidak dibunyikan terlalu lama. Apalagi kalau jamaah belum berdatangan. Bunyi pengeras suara maksimal radius 50-60 meter.
Masjid Nurul Yatim, tempat saya shalat Jumat, tergolong sederhana. Kapasitasnya menampung sekitar 100-an jamaah saja.
Selain menjadi tempat ibadah, masjid ini juga digunakan untuk kegiatan TPQ bagi warga muslim Bali. Letaknya berada dalam kompleks perumahan.
Baca Juga: Bertemu Kepala BP BUMN, Seskab Teddy Bahas Percepatan Hunian Bencana Sumatera
Karena daya tampung masjid terbatas, sebagian jamaah Shalat Jumat menggelar karpet di tengah jalan, tepat di samping masjid. Paranet dipasang sebagai peneduh di atasnya.
Bahkan ada jamaah yang shalat di teras rumah warga sekitar. Pemilik rumah sama sekali tak keberatan.
Jamaah Jumat hari itu sebagian wisatawan lokal dari berbagai daerah, termasuk saya sendiri. Sebagiannya lagi diaspora (perantau) yang sudah menetap di Bali.
Baca Juga: Cerita dari Tanah Timur: Media Gathering LPS Dihadiri 25 Media dari Empat Kota

Penulis saat di Masjid Nurul Yatim, Bali.
Khutbah Jumat di Masjid Nurul Yatim Bali mengangkat tema: meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Khatib mengajak umat untuk terus berbuat baik terhadap sesama, menjaga akhlak dan shalat, serta menunaikan zakat.
Tepat pukul 13.00 WITA, khutbah berakhir. Imam kemudian maju ke depan untuk memimpin shalat Jumat. ***
Penulis: Icam Djuhri, Pemred Selebesmedia.com





