Oleh: Ari Loru
“Tidak ada kawan atau musuh abadi dalam politik, yang ada hanyalah kepentingan abadi” (Lord Palmerston)
Politik, apakah memang harus kita sebut sebagai dunia panggung sandiwara. Ritmenya naik turun, kadang tenang, kadang menghentak seperti leed gitar Paul Gilbert dalam lagu Just Take My Heart milik band legendaris 90-an, Mr. Big. Semakin diselami, semakin menghanyutkan imaji dan logika siapa pun yang mengikuti dinamikanya.
Baca Juga: ‘Naik Turun’ Hubungan Irwan Lapatta – Rizal Intjenae di Golkar Sigi, Batal Fight di Musda IV
Meski kontestasi elektoral masih beberapa tahun lagi, aromanya sudah terasa. Di sudut-sudut warung kopi hingga ruang-ruang diskusi publik di Sulawesi Tengah, percakapan politik mulai menghangat. Isu bergerak cepat, opini berkelindan, dan spekulasi mulai menemukan panggungnya.
Mesin partai tidak lagi dingin. Konsolidasi dari tingkat wilayah hingga akar rumput mulai dirapikan. Struktur diperkuat, komunikasi diintensifkan, dan peta kekuatan perlahan dibaca ulang.
Baca Juga: Kader Alkhairaat Pimpin Hanura Kota Palu
Dalam setiap dinamika itu, selalu ada yang bertahan dan ada yang berpindah. Politik memang bukan ruang statis. Ia adalah arena kalkulasi, loyalitas, dan momentum.
Di tengah pusaran tersebut, satu nama kembali mencuat. Namanya nyaris tak pernah absen dalam percakapan publik. Bahkan terasa kurang lengkap membahas arah politik daerah tanpa menyebut dirinya.
Dialah Mohammad Irwan. Mantan Bupati Sigi dua periode, yang rekam jejaknya masih membekas dalam ingatan publik. Sosok yang dikenal memiliki basis sosial yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Baca Juga: Yaristan Akui, Kesolidan Golkar Sulteng Sudah Dicontoh Golkar Morut
Kini, langkah politiknya bersama sayap Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), yaitu Satria. Ini menjadi babak baru yang menyita perhatian. “Baju putih” kembali menjadi simbol yang sarat tafsir, sekaligus penanda reposisi dalam konstelasi kekuatan.
Kembalinya Irwan bukan sekadar perpindahan perahu. Ini adalah pesan politik. Bahwa menjelang 2029, peta kekuatan belum benar-benar terkunci.
Basis militansi yang selama ini mengiringinya bukan sekadar klaim. Ia telah teruji dalam berbagai pertarungan. Loyalitas itu tumbuh dari kedekatan dan konsistensi, bukan dari momentum sesaat.
Baca Juga: Tes Ombak Pilgub di DPRD; Saling Sindir Ali – Anwar
Bagi lawan politik, kemunculan kembali Irwan jelas bukan kabar biasa. Setiap langkahnya diperhitungkan. Setiap manuvernya dianalisis.
Di era media online, dinamika seperti ini bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Opini publik terbentuk dalam hitungan jam. Narasi dibangun dan dipertarungkan dalam ruang digital yang tanpa batas.
Irwan memahami bahwa politik hari ini bukan hanya soal struktur partai, tetapi juga soal persepsi publik. Dan persepsi adalah kekuatan.
Baca Juga: Rolling Pejabat Sulteng Tak Untungkan Posisi Politik Gubernur Anwar Hafid
Apakah ini nostalgia politik? Ataukah awal konsolidasi besar menuju pertarungan yang lebih menentukan? Pertanyaan itu kini menggantung di ruang publik.
Satu hal yang pasti, konstelasi politik Sulawesi Tengah sedang bergerak. Dan ketika dinamika mulai menghangat, satu pesan terdengar jelas:
Mohammad Irwan is back. (*)





