Pendiri Pussy Riot Nadya Tolokonnikova Masuk Daftar Buronan Rusia, Konflik Lama dengan Kremlin Kembali Memanas

Pendiri Pussy Riot Nadya Tolokonnikova Masuk Daftar Buronan Rusia, Konflik Lama dengan Kremlin Kembali Memanas
instagram/@nadya

RUSIA – Nadya Tolokonnikova, salah satu pendiri kolektif punk aktivis Pussy Riot, kembali menjadi sorotan internasional setelah dilaporkan didakwa dan dimasukkan ke dalam daftar buronan federal Rusia.

Kabar ini memperpanjang sejarah panjang benturan antara sang seniman perlawanan dengan pemerintah Rusia, yang selama lebih dari satu dekade telah menjadikan Pussy Riot simbol perlawanan budaya dan politik.

Bacaan Lainnya

Baca Juga: Big Match! Barcelona Tantang Atletico Madrid di Metropolitano, Duel Panas Penentu Jalur Juara La Liga, 5 April 2026

Tolokonnikova, yang dikenal sebagai figur vokal dalam dunia seni protes, sebelumnya telah diberi label sebagai “agen asing” oleh Kementerian Kehakiman Rusia pada 2021.

Kini, status tersebut kembali menyeretnya ke pusaran hukum setelah Komite Investigasi Rusia membuka penyelidikan baru terhadapnya pekan ini.

Menurut pernyataan perwakilan Pussy Riot, Tolokonnikova dituduh melanggar undang-undang “agen asing” Rusia, sebuah regulasi kontroversial yang kerap digunakan untuk menekan aktivis, jurnalis independen, dan tokoh oposisi. Akibat tuduhan itu, namanya kini resmi masuk dalam daftar buronan federal.

Baca Juga: 7 Makanan yang Disebut Dokter Bisa Bantu Turunkan Gula Darah, Nomor 1 Favorit Banyak Orang!

Laporan tersebut menyebut Tolokonnikova dijerat dengan Bagian 2 Pasal 330.1 KUHP Rusia, yang memungkinkan hukuman hingga dua tahun penjara bagi individu berstatus “agen asing” yang dianggap melanggar kewajiban administratif.

Pelanggaran yang dimaksud termasuk gagal mendaftarkan diri secara benar atau tidak mencantumkan label “agen asing” pada unggahan media sosial dan materi publikasi.

Kasus ini bukan yang pertama. Pada 2024, Tolokonnikova diketahui dua kali dinyatakan bersalah atas pelanggaran administratif terkait aturan serupa oleh Pengadilan Krai Krasnoyarsk.

Baca Juga: Kemenaker akan Investigasi Dugaan Pelanggaran Hak Pekerja di Morowali Utara

Saat itu, ia berada di luar Rusia, namun tetap dituduh menyebarkan materi melalui platform perpesanan tanpa mencantumkan penanda bahwa konten tersebut berasal dari seorang “agen asing”.

Perkembangan terbaru ini datang hanya beberapa minggu setelah Pussy Riot kembali turun ke jalan lewat aksi protes di luar kantor pusat perusahaan teknologi AS, Ubiquiti, di Manhattan.

Dalam aksinya, kelompok ini menuding perusahaan tersebut “mendukung kejahatan perang Rusia”, memperlihatkan bahwa semangat konfrontatif dan politis mereka masih sama kerasnya seperti dulu.

Baca Juga: Head to Head Mengerikan! Prediksi Skor Angers vs Lyon: Les Gones Incar Kebangkitan, 5 April 2026

Nama Pussy Riot sendiri melejit ke panggung dunia pada 2012 lewat aksi protes ikonik mereka, “A Punk Prayer”. Pertunjukan tersebut menjadi respons langsung terhadap tuduhan kecurangan dan manipulasi dalam pemilihan ulang Vladimir Putin.

Aksi itu berujung pada pemenjaraan Tolokonnikova dan Maria Alyokhina, menjadikan mereka simbol global perlawanan seni terhadap otoritarianisme.

Meski keduanya akhirnya dibebaskan lebih awal lewat undang-undang amnesti menjelang Olimpiade Musim Dingin 2014 di Rusia, hubungan antara Pussy Riot dan Kremlin tak pernah benar-benar mereda.

Kini, dengan Tolokonnikova kembali diburu secara hukum, kisah lama itu tampaknya memasuki babak baru yang lebih tegang—dan sekali lagi menempatkan musik, seni, dan aktivisme dalam satu garis api.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *