Perempuan di Rio Mukti Ikut Pelatihan Pengelolaan Ternak Babi

Perempuan di Rio Mukti Ikut Pelatihan Pengelolaan Ternak Babi
Kelompok perempuan di Rio Mukti, Kecamatan Rio Pakava, Donggala, dilatih secara profesional mengelola peternakan babi. (Foto: IST).

DONGGALA – Kelompok Perempuan Maju Jaya Desa Rio Mukti, Kecamatan Rio Pakava, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), memperoleh dukungan penguatan kapasitas melalui kegiatan pelatihan dan penyuluhan terkait pengelolaan ternak.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program penguatan kelompok dalam mengembangkan usaha peternakan.

Bacaan Lainnya

Baca Juga: Sulteng Jajaki Kolaborasi Internasional untuk Pelestarian Hutan

Hal tersebut disampaikan Rizal dari Relawan untuk Orang dan Alam (ROA), Rabu (8/4/2026).

“Melalui kegiatan ini kami melibatkan Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tengah, untuk memperkuat Kelompok Perempuan Maju Jaya agar lebih memahami pola beternak yang lebih baik. Sekalipun anggota kelompok sudah memiliki pengalaman dalam mengelola ternak, mereka masih membutuhkan pengetahuan yang lebih mendalam terkait tata kelola peternakan sesuai standar yang baik sehingga dapat menghasilkan ternak yang berkualitas,” ujarnya.

Ia menambahkan, kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari dukungan PT Mamuang yang sebelumnya telah membantu penyediaan bibit ternak pada Maret 2026 kepada Kelompok Tani Maju Jaya.

Baca Juga: Nilai Transaksi Hasil Hutan Rp20 M, Sulteng Peringkat Lima Nasional

Penyerahan bantuan tersebut diterima langsung oleh Nengah Wantri dan disaksikan oleh anggota kelompok, Pemerintah Desa Rio Mukti, serta manajemen PT Mamuang.

“Pada pelatihan ini peserta mendapatkan materi mengenai teknik penggemukan ternak, keterampilan manajemen pakan dan pemeliharaan, serta pengendalian penyakit ternak. Materi disampaikan oleh Zainal Effendi, S.Pt., M.P. dan Irfan Rengga, S.Pt. dari Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tengah,” jelas Rizal.

Baca Juga: Fakultas Kehutanan Untad–ROA Kuatkan Riset dan Aksi Lapangan

Dalam pemaparannya, Zainal Effendi menjelaskan bahwa usaha peternakan babi memiliki potensi ekonomi yang cukup besar.

Hal ini karena permintaan pasar yang tinggi di beberapa daerah, harga jual yang relatif stabil, serta cenderung meningkat pada momen hari besar atau kegiatan adat.

“Perputaran modal dalam usaha ternak babi juga cukup cepat karena babi potong dapat dipanen dalam waktu sekitar 5 hingga 7 bulan. Selain itu, babi memiliki tingkat reproduksi yang tinggi, di mana dalam satu kali melahirkan bisa menghasilkan 8 hingga 12 anak sehingga populasi dapat berkembang cepat apabila manajemennya baik,” ungkapnya.

Baca Juga: DPRD Morowali Utara Sahkan APBD 2026

Sementara itu, Irfan Rengga yang juga memandu pelatihan mendapat berbagai pertanyaan dari peserta, salah satunya mengenai pakan serta cara mengantisipasi penyakit pada ternak babi. Wayan, salah satu peserta, menyampaikan bahwa penyakit pada babi terkadang sulit diobati dan dapat menyebabkan kematian ternak.

Menanggapi hal tersebut, Irfan menjelaskan bahwa pakan ternak babi relatif fleksibel. Namun peternak perlu memperhatikan komposisi pakan dengan memberikan bahan yang mengandung protein serta memanfaatkan bahan lokal seperti dedak, daun ubi, konsentrat, dan jagung yang telah diolah.

Pengaturan pakan yang tepat juga dapat membantu menekan biaya produksi.

Baca Juga: Dinas Kehutanan Evaluasi Pendampingan Program Perhutanan Sosial di Sulteng

Ia juga mengingatkan adanya tantangan penyakit ternak, salah satunya African Swine Fever (ASF) yang sebelumnya pernah menyebabkan kematian massal ternak babi di beberapa daerah.

“Oleh karena itu, kebersihan kandang harus selalu dijaga untuk mencegah penyakit. Selain itu, penting melakukan vaksinasi serta menghindari kontak antara ternak sehat dengan hewan yang sakit,” jelasnya.

Irfan juga mengingatkan peserta untuk memperhatikan ciri-ciri ternak yang sehat, seperti aktif dan lincah, memiliki nafsu makan yang baik, serta tidak mengalami diare.

Baca Juga: Perkuat Layanan Air Bersih, Bupati Donggala – Dirjen Cipta Karya Teken MoU

“Ibu-ibu juga harus memberikan pakan secara teratur. Misalnya jika pakan diberikan pukul 07.00 pagi, maka keesokan harinya juga diberikan pada waktu yang sama agar ternak tidak stres yang dapat mengganggu pertumbuhannya,” pesannya.

Pelatihan ini tidak hanya diikuti oleh anggota Kelompok Perempuan Maju Jaya, tetapi juga dihadiri perwakilan Pemerintah Desa Rio Mukti, Ketua BPD Tangkas, serta Fathur yang mewakili manajemen PT Mamuang. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *