Oleh: Ari Loru
“Jangan malu untuk berubah, karena surga dipenuhi oleh bekas pendosa yang bertobat”
(Gus Baha).
Ramadan baru dimulai. Kita masih berada di awal perjalanan. Belum di pertengahan, apalagi di penghujung. Nafasnya masih segar. Langkahnya masih ringan.
Ibarat seorang musafir yang tengah menempuh perjalanan panjang, mungkin begitulah kita di bulan ampunan ini. Kita sedang berjalan menuju satu tujuan: ridha Allah SWT.
Baca Juga: Marhaban Yaa Ramadan: Pelukan Allah untuk Hamba yang Ingin Kembali
Waktu di Ramadan seperti pedal gas seorang pengemudi; ia terus melaju tanpa pernah bertanya apakah kita siap atau tidak. Ia tak menunggu yang lalai, dan tak memperlambat langkah bagi yang tertinggal.
Karena ini masih awal, jangan sampai api semangat yang menyala di hari pertama mulai redup di hari-hari berikutnya. Jangan kendor hanya karena merasa perjalanan masih panjang.
Dalam Islam, ada bulan-bulan yang Allah agungkan. Namun Ramadan memiliki kedudukan istimewa, karena di dalamnya cahaya petunjuk pertama kali diturunkan ke bumi.
Baca Juga: Memaknai Puasa sebagai Perjalanan Eksistensial
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 185: “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang hak dan yang batil…”
Dalam Tafsir Al-Karim Ar-Rahman karya Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, dijelaskan bahwa Allah memilih bulan Ramadan karena kemuliaannya. Al-Qur’an adalah hudan petunjuk yang membimbing manusia dari gelap menuju cahaya.
Maka pertanyaannya kini sederhana namun dalam: apakah kita sedang mendekat atau justru berbalik arah? Apakah mushaf masih kita genggam, walau hanya selembar dalam sehari?
Baca Juga: Kedepankan Toleransi Sikapi Penetapan Awal Ramadan 1447 Hijriah
Para ulama terdahulu memberi teladan. Al-Imam Asya’fii dikenal mengkhatamkan Al-Qur’an berkali-kali dalam Ramadan. Bahkan disebutkan beliau mampu mengkhatamkan puluhan kali dalam sebulan, karena seluruh waktunya dipenuhi tilawah dan tadabbur.
Begitu pula Utsman ibn Affan, sahabat mulia yang dikenal sangat dekat dengan Al-Qur’an. Riwayat menyebutkan beliau pernah mengkhatamkan Al-Qur’an dalam satu rakaat shalat malamnya. Itu bukan tentang angka, tetapi tentang cinta yang begitu dalam kepada kalam Allah.
Kita mungkin tak mampu seperti mereka. Namun setidaknya, di awal Ramadan ini, jangan sampai mushaf kita tertutup rapat. Jangan sampai hari-hari berlalu tanpa satu ayat pun menyentuh hati.
Baca Juga: SEMMI Sulteng Dukung Polri Cegah Potensi Gangguan Keamanan Selama Ramadan
Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan menundukkan ego, memperbaiki hati, dan meluruskan niat. Dan latihan itu dimulai sejak hari pertama, bukan menunggu sepuluh malam terakhir.
Perlombaan ini baru dimulai, perlombaan menuju stempel takwa sebagaimana janji Allah: “la‘allakum tattaqun” (agar kamu bertakwa). Maka jangan biarkan di pertengahan nanti kita justru melambat atau kehilangan arah.
Ramadan adalah momentum yang mungkin tak terulang. Kita masih di garis start. Jangan kendor. Jangan berbalik arah.
Baca Juga: Takjil Ketua DPRD Morowali Utara Dibagikan Setiap Jumat di Depan Rujab
Karena surga, sebagaimana kata Gus Baha bilang, dipenuhi oleh bekas pendosa yang berani bertobat. Dan bisa jadi, perubahan besar itu dimulai dari awal Ramadan ini dari langkah kecil yang kita jaga dengan istiqamah. (*)





