SIGI — Upaya memperkuat pengelolaan kawasan konservasi berkelanjutan terus dilakukan Taman Hutan Raya (Tahura) Sulawesi Tengah. Salah satunya melalui Sosialisasi Dokumen Rencana Pengelolaan Tahura Sulteng yang digelar di Kabupaten Sigi, Kamis (19/12/2025).
Kegiatan ini diikuti 57 peserta dari unsur masyarakat dan komunitas yang selama ini berinteraksi langsung dengan kawasan Tahura.
Baca Juga: Semarak 17 Agustus Dishut Sulteng Berakhir di Kawasan Wisata Tahura Kapopo
Sosialisasi bertujuan meningkatkan pemahaman publik terkait arah dan strategi pengelolaan kawasan.
Selain itu, forum ini juga menjadi ruang dialog antara pengelola Tahura, akademisi, dan masyarakat. Partisipasi warga dinilai penting agar rencana pengelolaan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan di lapangan.
Kepala UPTD Tahura Dinas Kehutanan Provinsi Sulteng, Edhy Sitorus, SP., M.Si, hadir sebagai pemateri. Ia memaparkan visi, kebijakan, serta tantangan pengelolaan Tahura ke depan.
Baca Juga: Warga Palu Tanam Pohon Cendana di Tahura Kapopo, Wujudkan Bumi Hijau dan Langit Biru
Edhy menegaskan, pengelolaan kawasan konservasi tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi lintas pihak menjadi kunci keberhasilan.
“Tahura tidak bisa dikelola hanya oleh pemerintah. Diperlukan keterlibatan aktif masyarakat, komunitas, akademisi, dan pemangku kepentingan agar fungsi ekologis, sosial, dan ekonomi berjalan seimbang,” ujarnya.
Baca Juga: Kunjungi KPH Lalundu, Kadishut Sulteng: Ketersediaan Data Bukti Keberhasilan Kerja
Tahura Sulteng mengusung visi Mewujudkan Taman Hutan Raya sebagai Kawasan Koleksi Flora dan Fauna Andalan yang Menjadi Kebanggaan Masyarakat Sulawesi Tengah.
Visi ini, kata dia, menempatkan Tahura tidak hanya sebagai kawasan konservasi, tetapi juga pusat pendidikan lingkungan, penelitian, dan wisata alam berbasis konservasi.
Perspektif akademik disampaikan Dosen Kehutanan Universitas Tadulako, Dr. Sudirman Dg. Massiri, S.Hut., M.Sc. Ia menekankan pentingnya pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan data dalam perencanaan pengelolaan hutan.
Baca Juga: Raih Penghargaan, Penyelenggara Penyuluhan Kehutanan Sulteng Terbaik VII Nasional
Menurut Sudirman, terdapat tiga pilar utama pengelolaan Tahura Sulteng. Pertama, tata kelola yang kokoh melalui sinergi kebijakan lintas sektor.
Kedua, ekosistem yang sehat dan terlindungi dengan pemulihan kawasan kritis dan pelestarian keanekaragaman hayati. Dan yang ketiga, masyarakat yang berdaya dan sejahtera melalui pengembangan usaha produktif berbasis konservasi.
Ia juga menyoroti pentingnya mengintegrasikan kearifan lokal agar pengelolaan Tahura lebih adaptif dan berkelanjutan.
Baca Juga: Sulteng Jajaki Kolaborasi Internasional untuk Pelestarian Hutan
Melalui sosialisasi tersebut, diharapkan terbangun sinergi multipihak yang kuat. Kolaborasi menjadi fondasi pengelolaan Tahura Sulteng yang inklusif, berkelanjutan, serta berpihak pada kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat sekitar. (*)





