PALU – Usia kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid dan Reny Lamadjido, genap setahun pada 20 Februari 2026.
Momentum itu ditandai Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Pemprov Sulteng) dengan menggelar zikir dan buka puasa bersama di Masjid Baitul Khairaat, Minggu (22/6/2026).
Di saat yang sama, Pemprov Sulteng memaparkan capaian ekonomi selama tahun pertama duet yang dikenal dengan slogan “BERANI” tersebut. Sepanjang 2025, ekonomi Sulteng tumbuh 8,47 persen yang menempatkan provinsi ini di posisi kedua secara nasional.
Baca Juga: Setahun Kepemimpinan Anwar-Reny, Ini Capaian dan Obsesi Ke Depan
Pemprov mengklaim capaian itu ditopang implementasi program unggulan, terutama Berani Cerdas dan Berani Sehat.
Namun jika ditarik ke belakang, pertumbuhan tinggi bukan hal baru bagi Sulteng. Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam lima tahun sebelum era Anwar-Reny (2020–2024), daerah ini konsisten berada di papan atas pertumbuhan ekonomi nasional.
Pada 2022 misalnya, ekonomi Sulteng melesat 15,22 persen, lalu 11,91 persen pada 2023, dua tahun berturut-turut berada di posisi kedua nasional. Artinya, laju ekonomi yang kencang sudah terbentuk sebelum kepemimpinan Anwar – Reny.
Baca Juga: Kemarahan Anwar Hafid soal Pohon Rujab Ditebang seperti ‘Senjata Makan Tuan’
Meski demikian, tren pertumbuhan menunjukkan perlambatan dalam tiga tahun terakhir. Dari 15,22 persen (2022), turun menjadi 11,91 persen (2023), lalu 9,89 persen (2024), dan berlanjut ke 8,47 persen pada 2025 di tahun pertama kepemimpinan Anwar Hafid dan Reny Lamadjido.
Gambaran yang lebih kompleks terlihat pada indikator kemiskinan. Pada Maret 2024, angka kemiskinan tercatat 11,77 persen, lalu turun menjadi 11,04 persen pada September 2024.
Tren penurunan berlanjut di 2025, masing-masing menjadi 10,92 persen (Maret) dan 10,52 persen (September).
Baca Juga: Rolling Pejabat Sulteng Tak Untungkan Posisi Politik Gubernur Anwar Hafid
Namun jika dibandingkan secara kalender tahunan, penurunan kemiskinan pada 2024 tercatat lebih tajam dibanding tahun pertama pemerintahan Anwar-Reny.
Di sektor ketenagakerjaan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) turun tipis dari 2,94 persen pada 2024 menjadi 2,92 persen pada 2025. Hingga Agustus 2025, sekitar 49,7 ribu orang masih mencari kerja.
Secara persentase memang membaik, tetapi secara jumlah absolut justru bertambah 1,27 ribu orang dibanding 2024.
Baca Juga: Tes Ombak Pilgub di DPRD; Saling Sindir Ali – Anwar
Struktur ekonomi Sulteng pun belum banyak berubah. Sepanjang 2020–2024, industri pengolahan menjadi penopang utama ekonomi daerah. Pada 2025, sektor ini menyumbang 41,24 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
Di bawahnya, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan berkontribusi 16,36 persen, disusul pertambangan dan penggalian sebesar 15,22 persen.
Dengan komposisi tersebut, basis ekonomi Sulteng masih bertumpu pada industri ekstraktif dan padat modal, bukan sektor padat karya.
Baca Juga: Gubernur Anwar Hafid di PTUN-kan, Jejak Hukum saat Bupati Morowali Terkuak
Industri pengolahan seperti smelter nikel telah lama menjadi motor penggerak utama, jauh sebelum Anwar-Reny memegang tampuk pemerintahan. (*)
PERTUMBUHAN EKONOMI SULTENG:
• 2020: 4,86%
• 2021: 11,68%
• 2022: 15,22%
• 2023: 11,91%
• 2024: 9,89%
• 2025: 8,47%
DATA KEMISKINAN SULTENG:
• Maret 2024: 11,77%
• September 2024: 11,04%
• Maret 2025: 10,92%
• September 2025: 10,52%
SUMBER: BPS





