Oleh: Ari Loru
DAN akhirnya kita sampai di puncak ibadah di bulan Ramadan. Etape ketiga bukan hanya sekadar tempat melepas lelah, melepas penat, dan melepas dahaga. Ia adalah seruan kesungguhan dalam menggapai ampunan.
Sepuluh malam terakhir datang dengan suasana yang berbeda. Ramadan yang sejak awal kita sambut dengan penuh harapan, kini perlahan berjalan menuju perpisahan. Hari-harinya terasa semakin cepat, seakan waktu berlari meninggalkan kita tanpa menoleh ke belakang.
Baca Juga: Ramadan: Madrasah Kita Menghadapi Krisis Dunia
Ada rasa haru yang sulit dijelaskan ketika menyadari bahwa tamu agung ini akan segera pergi. Baru saja rasanya kita mengucap Marhaban ya Ramadan, namun kini kita sudah berdiri di ujungnya, menatap detik-detik perpisahan yang tidak bisa kita tunda.
Ramadhan memang akan kembali setiap tahun. Bulan suci ini akan tetap datang membawa cahaya, membawa panggilan ibadah, dan membawa kesempatan ampunan bagi manusia. Namun pertanyaannya menusuk ke dalam hati: apakah kita masih diberi umur untuk bertemu dengannya tahun depan?
Tidak ada yang memiliki jaminan tentang umur yang tersisa. Bisa jadi ini adalah Ramadhan terakhir dalam hidup kita. Bisa jadi tahun depan kita hanya tinggal nama yang dikenang, sementara Ramadan tetap datang kepada generasi yang lain.
Baca Juga: Memaknai Puasa sebagai Perjalanan Eksistensial
Karena itu sepuluh malam terakhir bukan sekadar penutup Ramadan. Ia adalah kesempatan terakhir yang Allah bentangkan bagi hamba-hamba-Nya untuk kembali. Kesempatan terakhir untuk menumpahkan air mata taubat, memperbanyak istighfar, dan mengetuk pintu langit dengan doa.
Para ulama salaf memandang Ramadan dengan perasaan yang sangat dalam. Mereka tidak hanya bergembira ketika ia datang, tetapi juga diliputi kesedihan yang mendalam ketika ia pergi. Bagi mereka, kehilangan Ramadhan adalah kehilangan kesempatan besar untuk meraih ampunan Allah.
Ulama besar tabi’in Hasan al-Basri pernah berkata, “Sesungguhnya Allah menjadikan bulan Ramadhan sebagai medan perlombaan bagi hamba-hamba-Nya dalam ketaatan. Maka ada kaum yang berlomba dan mereka menang, dan ada pula yang tertinggal lalu mereka merugi.”
Baca Juga: Gaungkan Ramadan Dengan Berdoa, Karena Doa Adalah Intisari Ibadah
Kalimat itu terasa begitu tajam bagi hati yang mau merenung. Ramadhan adalah perlombaan iman. Ada yang keluar darinya sebagai pemenang dengan dosa yang diampuni, namun ada pula yang keluar darinya dengan tangan kosong karena menyia-nyiakan waktu.
Seorang ulama besar lainnya, Ibn Rajab al-Hanbali, menuliskan bahwa para salaf dahulu berdoa kepada Allah selama enam bulan agar dipertemukan dengan Ramadan, dan setelah Ramadhan berlalu mereka kembali berdoa selama enam bulan agar amal-amal mereka diterima.
Betapa dalam rasa cinta mereka kepada bulan suci ini. Mereka takut jika Ramadan berlalu sementara amal mereka tidak diterima. Mereka khawatir jika ibadah yang dilakukan hanya menjadi rutinitas tanpa makna di sisi Allah.
Baca Juga: Palu dan Politik Reposisi Citra
Kesedihan ini semakin terasa ketika kita mengingat sebuah peringatan yang mengguncang hati. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa malaikat Jibril berdoa, “Celakalah seseorang yang mendapati bulan Ramadhan tetapi dosa-dosanya tidak diampuni.” Doa itu kemudian diaminkan oleh Muhammad SAW.
Betapa berat doa itu. Doa malaikat yang diaminkan oleh Rasulullah SAW. Maka sebelum Ramadan benar-benar pergi, marilah kita manfaatkan sepuluh malam terakhir ini dengan sungguh-sungguh. Bangunlah di sepertiga malam, walau hanya sebentar. Angkat kedua tangan, dan biarkan hati berbicara kepada Allah dengan penuh harap.
Baca Juga: Ramadan Baru Dimulai, Jangan Kendor Apalagi Berbalik Arah
Jika kelak Ramadhan benar-benar berpamitan, semoga ia tidak meninggalkan kita dalam keadaan merugi. Semoga kita bukan termasuk orang yang disebut dalam doa malaikat itu. Dan semoga ketika Ramadan pergi, ia membawa kabar gembira bahwa dosa-dosa kita telah diampuni oleh Allah. (*)





