PALU— Kiprah dan jejak perjuangan Sayyid Idrus bin Salim Aljufri atau yang dikenal sebagai Guru Tua, terus menjadi inspirasi dalam pengembangan pendidikan dan dakwah Islam di Indonesia, khususnya di kawasan timur Nusantara.
Pendiri Perguruan Islam Alkhairaat itu dikenal sebagai sosok yang telaten dan sabar dalam membina, mendidik, serta mengajar para muridnya. Dedikasi tinggi tersebut menjadi fondasi kuat dalam melahirkan generasi yang berilmu dan berakhlak.
Baca Juga: FKUB Sulteng Siapkan Posko Makan Minum Gratis di Haul Guru Tua ke-58, Ini Lokasinya
Rais Syuriyah PBNU, KH Zainal Abidin, Selasa (31/3) siang, menegaskan bahwa keikhlasan Guru Tua dalam mengembangkan pendidikan dan dakwah di tengah masyarakat patut menjadi teladan. Menurutnya, perjuangan Guru Tua tidak hanya berfokus pada aspek keilmuan, tetapi juga menyentuh nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.
“Beliau sangat menghargai dan menghormati budaya serta kearifan lokal, kemudian menyesuaikannya dengan ajaran Islam. Jika ditemukan hal yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam, maka diluruskan dengan cara yang bijak,” ujarnya.
Baca Juga: Haul Guru Tua ke-58 Dilaksanakan 1 April 2026, Persiapan Terus Dimatangkan
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa sikap toleransi Guru Tua terhadap berbagai kalangan juga sangat menonjol. Bahkan, dalam praktik pendidikan di Alkhairaat, Guru Tua pernah mengangkat seorang guru aljabar (matematika) non-Muslim untuk mengajar, serta secara rutin menanyakan perkembangan proses belajar di kelas tersebut.
“Ini menunjukkan betapa beliau menjunjung tinggi sikap saling menghargai dan menghormati, termasuk kepada tokoh lintas agama,” tambahnya.
Baca Juga: Jelang Haul Guru Tua ke-58, Yayasan Masjid Al-Khairaat Temui Wali Kota Palu
Semangat rela berkorban demi kemajuan pendidikan dan dakwah Islam menjadi ciri khas perjuangan Guru Tua. Nilai-nilai inilah yang dinilai perlu terus diaktualisasikan, khususnya dalam setiap momentum peringatan haul Guru Tua, sebagai upaya mendorong kemajuan pendidikan, dakwah, serta berbagai kegiatan sosial di tengah masyarakat.
“Warisan pemikiran dan perjuangan Guru Tua hingga kini tetap hidup dan menjadi pedoman bagi generasi penerus dalam membangun peradaban yang berilmu, toleran, dan berakhlak mulia” pungkasnya. (*)





