Damai yang Dipermainkan: Ketika Iran dan Amerika Sama-sama Tak Mau Kalah

Damai yang Dipermainkan: Ketika Iran dan Amerika Sama-sama Tak Mau Kalah
Amerika dan Iran seolah mempermainkan perdamaian. (Foto: IST).

Oleh : Ari Loru

PERUNDINGAN Iran-Amerika itu gagal bukan karena terlalu sulit, melainkan karena terlalu banyak gengsi yang duduk di kursi utama.

Bacaan Lainnya

Mereka datang bukan untuk sepakat. Mereka datang untuk tidak terlihat kalah. Dan itu dua hal yang sangat berbeda.

Ini bukan diplomasi, ini adu keras kepala.

Baca Juga: 2030 Milik Gen-Z, Diam atau Ambil Alih Politik Daerah?

Amerika datang dengan daftar tuntutan. Iran datang dengan daftar penolakan. Sederhana dan justru di situlah masalahnya.

Tidak ada yang benar-benar ingin bertemu di tengah. Dalam politik global, “tengah” sering dianggap sebagai bentuk kekalahan yang diperhalus.

Amerika berbicara tentang kontrol dengan bahasa “keamanan global”. Iran berbicara tentang kebebasan dengan bahasa “kedaulatan”. Keduanya terdengar benar, dan keduanya sama-sama keras kepala.

Baca Juga: MOHAMMAD IRWAN IS BACK

Setiap kali perundingan seperti ini gagal. Dunia selalu bereaksi dengan pola yang sama: terkejut, menyesal, lalu berharap ada kelanjutan.

Padahal, jika jujur, semua orang sudah tahu ke mana arah akhirnya.

Ini bukan kejadian pertama. Pola lama terus berulang: ketegangan meningkat, perundingan digelar, harapan dibangun, lalu kegagalan diumumkan. Seperti serial tanpa episode terakhir.

Di tengah semua itu, sempat ada gencatan senjata dua minggu. Terdengar seperti niat baik.

Baca Juga: Air Mata di Pelepuk Mualem (Muzakir Manaf)

Namun kenyataannya, itu lebih menyerupai jeda promosi sebelum konflik masuk ke babak berikutnya. Gencatan senjata bukan solusi, melainkan jeda yang ditata rapi.

Dan jeda tidak pernah menyelesaikan masalah. Ia hanya menunda ledakan.

Kata ahli: ini bukan soal sepakat, tapi soal posisi.

Dalam perspektif hubungan internasional, kegagalan ini bukan sesuatu yang mengejutkan.

Baca Juga: Fery Irwandi, Suara Yang Tak Pernah Padam

Sebagaimana disampaikan Teuku Rezasyah, konflik semacam ini lebih didorong oleh kepentingan strategis jangka panjang daripada keinginan damai dalam jangka pendek.

Sementara Connie Rahakundini Bakrie menilai bahwa negosiasi antarnegara besar kerap menjadi instrumen tekanan, bukan ruang kompromi yang setara.

Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Rizal Mallarangeng yang menekankan bahwa dalam politik global, negara bertindak rasional untuk menjaga kepentingan dan citra kekuasaan. Dalam kerangka ini, kegagalan bukanlah anomali melainkan bagian dari strategi itu sendiri.

Siapa yang sebenarnya rugi? Bukan Amerika. Bukan pula Iran.

Baca Juga: Sajadah di Penghujung Ramadan

Yang benar-benar menanggung dampaknya adalah negara-negara kecil di sekitarnya, stabilitas ekonomi global, dan rakyat biasa yang bahkan tidak pernah tahu apa isi perundingan itu.

Keputusan besar selalu diambil oleh segelintir orang, namun konsekuensinya dibayar oleh jutaan lainnya.

Damai itu sebenarnya sederhana kalau mereka mau.

Masalahnya bukan karena tidak ada solusi. Masalahnya adalah: tidak ada yang bersedia menjadi pihak pertama yang terlihat mengalah.

Baca Juga: Senyum Chiki Fawzi Penalar Luka Tamiang

Dalam politik, mengalah sering dimaknai sebagai kelemahan. Padahal dalam kehidupan nyata, mengalah justru bisa menjadi jalan untuk menyelamatkan banyak hal.

Namun, ini bukan sekadar kehidupan nyata. Ini adalah panggung kekuasaan.

Pada akhirnya, kita hanya bisa menonton. Melihat dua negara besar memainkan tarik-ulur kepentingan, sementara dunia berharap mereka akan berubah.

Baca Juga: Air Mata Garuda di Pelupuk Mata Jay Idzes

Namun jika kita jujur, mereka tidak sedang mencari damai mereka sedang mengatur posisi.

Dan selama posisi lebih penting daripada solusi, setiap perundingan akan berakhir dengan pola yang sama: datang dengan harapan, pulang dengan alasan. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *