Waktu Membuktikan Xabi Alonso Benar, Krisis Real Madrid Bukan Salah Pelatih

Waktu Membuktikan Xabi Alonso Benar, Krisis Real Madrid Bukan Salah Pelatih
Xabi Alonso, mantan pelatih Real Madrid. (instagram/@realmadrid)

SPANYOL – Tekanan besar yang sempat menumbangkan Xabi Alonso di kursi pelatih, kini mulai berbalik arah.

Dalam hitungan hari, Real Madrid justru terperosok ke dalam krisis yang lebih dalam, dan perlahan membuktikan bahwa masalah utama bukanlah sang pelatih, melainkan fondasi tim itu sendiri.

Bacaan Lainnya

Serangkaian hasil buruk menjadi bukti nyata. Kekalahan dari Mallorca, tumbang di tangan Bayern Munchen, hingga hasil imbang melawan Girona, membuat Los Blancos kehilangan arah.

Dampaknya langsung terasa, gelar LaLiga praktis meluncur ke tangan FC Barcelona. Sementara Madrid terjebak dalam kekacauan internal. Yang ironis, semua ini terjadi setelah kepergian Alonso.

Baca Juga: Kajati Sulteng Bertemu Insan Pers, Dorong Peran Edukasi dan Pencegahan

Sudah Diperingatkan

Saat masih menjabat, Xabi Alonso sebenarnya sudah memberi sinyal bahaya. Pelatih asal Tolosa itu berulang kali menyoroti ketidakseimbangan skuad, terutama di lini belakang dan tengah.

Namun, peringatannya tak benar-benar ditindaklanjuti. Manajemen yang dipimpin Florentino Perez, justru lebih fokus pada solusi jangka pendek, tanpa benar-benar memperbaiki struktur tim. Kini, kelemahan itu terbuka lebar di saat yang paling krusial.

Skuad Real Madrid terlihat tidak memiliki kedalaman yang cukup. Ketika pemain inti tampil di bawah standar atau absen, tak ada pelapis yang mampu menjaga level permainan tetap stabil.

Baca Juga: Empat Raperda Strategis Dibahas DPRD Morut di Paripurna, Berikut Nama-namanya

Di Era Arbeloa

Penunjukan Alvaro Arbeloa sebagai pelatih interim sempat memberi harapan baru. Namun, optimisme itu tak bertahan lama.

Masalah yang sama kembali muncul: pertahanan rapuh, lini tengah kehilangan kontrol, dan serangan yang tak terorganisir. Ini menjadi bukti kuat bahwa problem Madrid bersifat struktural, bukan sekadar taktik pelatih.

Apa yang dulu dianggap sebagai kegagalan Alonso kini justru terlihat sebagai diagnosis yang tepat.

Baca Juga: Brady Ebert Klaim ‘Pembelaan Diri’ dalam Kasus Tabrak Ayah Vokalis Turnstile

Mbappe Jadi Sorotan

Salah satu aspek paling kontroversial dalam krisis ini adalah performa Kylian Mbappé. Bintang asal Prancis itu justru dikaitkan dengan penurunan performa tim sejak kembali ke starting XI.

Statistik mencolok menunjukkan bahwa Madrid sempat meraih lima kemenangan beruntun, bahkan menghancurkan Manchester City, saat Mbappe tidak bermain. Sebaliknya, kembalinya sang superstar justru beriringan dengan penurunan hasil di berbagai kompetisi.

Meski kualitas individunya tak diragukan, kontribusi defensif Mbappé dinilai minim dan memengaruhi keseimbangan tim secara keseluruhan. Baik Alonso maupun Arbeloa sama-sama belum menemukan cara untuk mengintegrasikan perannya secara optimal.

Baca Juga: Gubernur Sulteng Apresiasi Halal Bihalal, Harapkan Haul Guru Tua ke-58 di Morut Lebih Semarak

Skuad Tak Seimbang

Di balik semua hasil buruk ini, satu benang merah semakin jelas: komposisi skuad yang tidak seimbang.

Real Madrid memang memiliki banyak pemain bintang, tetapi tidak semua memiliki profil yang sesuai untuk kebutuhan taktis tim. Kurangnya pemain dengan karakter pekerja keras dan disiplin membuat tim mudah goyah saat menghadapi tekanan.

Bahkan dengan kualitas individu tinggi, tanpa struktur yang solid, Madrid terlihat rapuh—terutama saat tertinggal.

Baca Juga: 5 Cara Efektif Mengecilkan Lemak di Pinggang, Rahasia Sederhana dari Dokter

Pemecatan Alonso Kini Dipertanyakan
Seiring waktu berjalan, keputusan memecat Xabi Alonso mulai menuai kritik. Banyak pihak kini menilai langkah tersebut terlalu tergesa-gesa, hanya untuk meredam tekanan publik tanpa menyentuh akar masalah sebenarnya.

Real Madrid kini tertinggal jauh dari Barcelona, dan ancaman musim tanpa trofi semakin nyata. Dalam situasi seperti ini, narasi mulai berubah: Alonso bukan biang masalah, melainkan pelatih yang terlalu cepat dikorbankan.

Lebih dari Sekadar Ganti Pelatih

Kondisi saat ini menjadi alarm keras bagi manajemen. Mengganti pelatih saja tidak cukup jika masalah mendasar—kualitas, keseimbangan, dan mentalitas skuad—tidak diperbaiki.

Real Madrid membutuhkan evaluasi menyeluruh, bukan sekadar perubahan di pinggir lapangan. Jika tidak, siapa pun pelatihnya akan menghadapi masalah yang sama. ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *