Menjadi Gooners Adalah Hal Terberat dalam Hidup

Menjadi Gooners Adalah Hal Terberat dalam Hidup
Arsenal dan Mikel Arteta. (Foto: IST).

Oleh: Ari Loru

KATA Dilan, rindu itu berat biar dia saja. Tapi kalau Dilan berdiri di depanku hari ini, mungkin akan kusampaikan satu hal: ada yang lebih berat dari rindu. Menjadi fans Arsenal.

Bacaan Lainnya

Bagi Gooners, rindu bukan lagi sekadar perasaan. Ia berubah jadi halusinasi panjang menanti trofi yang tak kunjung datang.

Selama 204 hari memuncaki klasemen Premier League, bahkan sempat unggul 10 poin dari sang guru Pep Guardiola bersama Manchester City, harapan itu sempat terasa nyata. Arsenal seperti berjalan mulus menuju takhta.

Baca Juga: Arsenal: Rumah Lama, Luka Baru, Pertarungan Menuju Masa Depan

Namun seperti kisah-kisah sebelumnya, mereka kembali tergelincir di momen paling krusial.

Kekalahan di laga big match di Etihad Stadium pekan lalu bukan sekadar hasil buruk. Itu adalah pukulan telak yang meremukkan hati para Gooners. Laga itu adalah gerbang menuju gelar yang lagi-lagi tertutup.

Sudah 20 tahun sejak era Arsenal Invincibles, para Gooners hanya bisa dininabobokan oleh status runner-up. Dalam istilah percintaan Gen-Z: menjaga jodoh orang lain.

Baca Juga: Manchester United Gaspol, Tawaran Fantastis untuk Morgan Rogers

Mikel Arteta sang arsitek tim bahkan sempat disebut “kepala batu” oleh Justinus Lhaksana. Sejak awal, Coach Justin sudah menunjukkan keraguannya terhadap mantan kapten Arsenal itu. Dan hari ini, keraguan itu seolah menjalar, dirasakan oleh Gooners di mana-mana termasuk di Indonesia.

Kini pertanyaannya bukan lagi “mampukah Arsenal juara?”, tapi “sampai kapan cerita ini akan terus berulang?”. Harapan yang dibangun tinggi selalu runtuh dengan cara yang sama menyakitkan dan perlahan.

Jika Arsenal kembali gagal musim ini, maka harga mati: Arteta harus hengkang, angkat koper dari Emirates Stadium. Tidak ada lagi ruang untuk alasan, tidak ada lagi waktu untuk eksperimen yang berujung penyesalan.

Baca Juga: Dari Harapan Berubah Petaka: Pau Cubarsi Jadi Sorotan Kekalahan Barcelona

Karena ini bukan sekadar soal proses. Ini tentang hasil. Klub sebesar Arsenal tidak bisa terus hidup dari kata “hampir”. Meski begitu, secercah harapan masih tersisa.

Arsenal masih berlaga di semifinal UEFA Champions League panggung tertinggi sepak bola Eropa.

Namun justru di sanalah ujian sesungguhnya. Apakah mereka mampu bangkit dan menulis sejarah, atau kembali menjadi cerita lama yang berulang?

Jika Arteta mampu membawa Arsenal melangkah lebih jauh, bahkan meraih trofi Eropa, maka semua kritik akan berubah menjadi pujian.Tapi jika tidak, maka tekanan akan berubah menjadi vonis.

Baca Juga: Michael Carrick Terancam! Manchester United Mulai Cari Pengganti

Menjadi Gooners memang bukan tentang kebahagiaan instan. Ini tentang kesetiaan yang diuji tanpa henti, tentang percaya meski berkali-kali dikhianati oleh harapan.

Dan mungkin benar menjadi Gooners adalah salah satu hal terberat dalam hidup. Tapi entah kenapa, selalu ada alasan untuk tetap bertahan. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *