Paskah Nasional Sukses Dilaksanakan, Bukti Nyata Manifestasi Toleransi di Sulteng

Persiapkan Diri di Bulan Syaban untuk Sambut Ramadhan
Prof. Zainal Abidin. (Foto: IST).

PALU – Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, Prof Zainal Abidin, menilai keberhasilan pelaksanaan Paskah Nasional V di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng), menjadi bukti kuat terjaganya toleransi antarumat beragama di daerah ini.

Menurutnya, kesuksesan tersebut tidak lepas dari kerja sama berbagai pihak. Sinergi itu menjadi modal penting, sehingga perayaan dapat berlangsung aman, damai, dan tertib.

Bacaan Lainnya

Baca Juga: Paskah Nasional di Sigi Perkuat Tali Persaudaraan Lintas Keberagaman

“Kesuksesan ini patut diapresiasi. Semua pihak terlibat dan bekerja sama dengan baik,” ujar Prof Zainal Abidin di Palu, Selasa (28/4/2026).

Diketahui, puncak kegiatan Paskah Nasional di Sigi dilaksanakan pada Minggu (26/4/2026). Kegiatannya berjalan lancar dan dihadiri ribuan orang umat Kristiani dari seluruh penjuru Indonesia.

Prof Zainal yang juga Ketua FKUB Sulteng menambahkan, kelancaran acara menunjukkan bahwa Sulteng merupakan daerah yang rukun dengan tingkat toleransi yang tinggi.

Baca Juga: Wabup Sigi Ketua Panitia Paskah 2026, Gubernur Bangga Sulawesi Tengah Tuan Rumah

Ia menegaskan, kondisi tersebut harus terus dijaga bersama. Kerukunan, keamanan, dan kedamaian dinilai sebagai fondasi penting dalam mendorong percepatan pembangunan, baik di tingkat nasional maupun daerah.

“Kerukunan adalah kunci untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan,” katanya.

Prof Zainal menilai, perayaan Paskah Nasional tahun ini mencerminkan kedewasaan masyarakat di tingkat akar rumput. Perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk saling menghormati, melainkan menjadi kekuatan yang memperkaya identitas bangsa.

Baca Juga: Prof Zainal Abidin Sampaikan Moderasi Beragama Lewat Analogi Cantik–Ganteng

Ia berharap, semangat kebersamaan itu tidak hanya muncul saat perayaan hari besar keagamaan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai sesama ciptaan Tuhan, lanjutnya, umat beragama memiliki tanggung jawab untuk menebar kebaikan dan memperkuat kerja sama.

Baca Juga: Masyarakat dan Agama dalam Perspektif Ketua MUI Palu Prof Zainal Abidin

“Biarlah perbedaan keyakinan tetap ada. Setiap orang memiliki cara berdoa masing-masing. Kemuliaan Tuhan bisa disuarakan dalam berbagai bahasa. Yang terpenting, kita semua mencari rahmat-Nya,” tutupnya. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *