Ayah Pembohong, Tentang Sakit yang Disembunyikan Demi Kehidupan

Ayah Pembohong, Tentang Sakit yang Disembunyikan Demi Kehidupan
Ilustrasi foto seorang ayah sebagai pejuang keluarga. (Foto: AI).

Oleh : Ari Loru

Di banyak keluarga, ada satu kebohongan yang terus diulang pelan, halus, dan nyaris tak terasa. Bukan kebohongan besar yang melukai. Justru sebaliknya, kebohongan yang menjaga semuanya tetap utuh.

Bacaan Lainnya

Kebohongan itu datang dari seorang ayah.

Ia bilang, “Ayah nggak capek.” Padahal punggungnya terasa seperti akan patah.

Baca Juga: Damai yang Dipermainkan: Ketika Iran dan Amerika Sama-sama Tak Mau Kalah

Ia bilang, “Semua aman.” Padahal isi dompetnya tinggal sisa keberanian.

Ia bilang, “Ayah baik-baik saja.” Padahal dunia di luar rumah baru saja menghajarnya tanpa ampun.

Seorang ayah adalah pembohong yang paling jujur. Ia berbohong bukan untuk menipu, tapi untuk melindungi. Menjaga agar rumah tetap terasa hangat, meski ia sendiri kedinginan di luar sana.

Kehidupan tidak selalu ramah padanya. Pekerjaan menuntut lebih, memberi kurang. Tanggung jawab terus bertambah, tanpa pernah bertanya apakah ia siap atau tidak.

Baca Juga: 2030 Milik Gen-Z, Diam atau Ambil Alih Politik Daerah?

Tapi setiap kali pintu rumah dibuka, ia harus berubah. Menjadi versi terbaik dari dirinya ayah yang kuat, yang tenang, yang seolah tidak pernah kalah.

Padahal di luar sana, ia sudah berkali-kali kalah.

Di ujung malam, saat semua sudah terlelap, ia duduk sendiri. Menghitung hal-hal yang tidak bisa ia ceritakan.

Tagihan. Kebutuhan. Dan rasa takut yang tak punya tempat untuk pulang.

Baca Juga: Italia yang Pernah Besar, Kini Tersesat di Gerbang Dunia

Lalu ia berdoa.

Seperti bisikan dari lagu Titik-Titik di Ujung Doa milik Sal Priadi: “Ada titik-titik di ujung doa-doa keselamatan penutup malam…”

Di titik-titik itu, seorang ayah tidak hanya menuliskan nama keluarganya. Ia juga menyembunyikan semua rasa sakit yang tak ingin mereka tahu.

Ia tidak pernah berdoa untuk dirinya terlalu banyak. Seolah-olah ia sudah menerima bahwa hidupnya memang harus sedikit lebih berat.

Ada hari-hari ketika ia ingin jujur. Mengatakan bahwa ia lelah. Bahwa ia takut. Bahwa ia tidak selalu kuat.

Baca Juga: Senyum Chiki Fawzi Penalar Luka Tamiang

Tapi ia urungkan.

Karena ia tahu, sekali saja ia runtuh, rumah itu mungkin ikut goyah.

Maka ia memilih berbohong lagi.

“Tidak apa-apa.” “Masih bisa.” “Nanti juga selesai.”
Kebohongan-kebohongan kecil itu menjadi fondasi yang tak terlihat. Menopang kehidupan yang berjalan di atasnya.

Dan seperti potongan lirik lain yang terasa begitu dekat: “Hari ini aku coba merakitnya lagi…”

Baca Juga: Fery Irwandi, Suara Yang Tak Pernah Padam

Seorang ayah melakukan itu setiap hari. Merakit dirinya dari sisa-sisa tenaga, dari harapan yang hampir habis, dari mimpi yang mungkin sudah lama ia kubur sendiri.

Hasilnya tidak selalu sempurna. Kadang rapuh. Kadang aneh. Tapi tetap ia pakai demi mereka yang ia cintai.

Seorang ayah mungkin adalah pembohong. Tapi dari semua kebohongan di dunia, miliknya adalah yang paling penuh cinta.

Karena di balik setiap “aku baik-baik saja”, ada luka yang ia sembunyikan.

Baca Juga: Air Mata di Pelepuk Mualem (Muzakir Manaf)

Di balik setiap senyum yang ia berikan, ada beban yang ia tahan sendirian.

Dan di balik setiap doa yang ia panjatkan, mungkin terselip satu harapan sederhana yang tidak pernah ia ucapkan:

Semoga, suatu hari nanti, ada yang cukup peka untuk melihat kebenaran di balik semua kebohongannya. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *