Oleh: M Ridha Saleh
HARI Bumi lahir dari gerakan lingkungan tahun 1960-an atas kesadaran kerusakan lingkungan hidup makin membahayakan kelangsungan bumi dan mengancam kehidupan umat manusia. Saat-saat itu telah ada percakapan tentang dampak negatif antropogenik terhadap planet ini.
“Silent Spring” pada tahun 1962, memicu kesadaran ekologi serta moment penting pembuka jalan gerakan lingkungan untuk menjangkau kesadaran publik.
Baca Juga: Momentum Hari Kartini, AKP Siti Elminawati Komitmen Lindungi Perempuan dan Anak
Pada tahun 1970, Barry Communer biolog terkemuka ikut mengeskalasi kesadaran krtis public tersebut melalui restrukturisasi ekonomi agar sesuai dengan prinsip-prinsip ekologis.
Buku Rachel Carson, Silent Spring, menarik perhatian pada bahaya pestisida. Di halaman buku Closing Circle karya Barry Commoner menentang pandangan bahwa kelebihan penduduk, khususnya di Dunia Ketiga, bertanggung jawab atas semakin menipisnya sumber daya alam dunia.
Baca Juga: Komnas HAM Sulteng Kritik Kehadiran Aparat di Perkebunan Sawit PT KLS Taronggo
Bagi Communer, masalah ekologi karena negara-negara kaya mengonsumsi sebagian besar sumber daya dunia secara tidak proporsiona. Sementara foto-foto pertama Bumi dari luar angkasa membantu menggarisbawahi betapa rapuhnya planet ini kata Steve Cohen, direktur Program Penelitian Kebijakan dan Manajemen Keberlanjutan di Earth Institute, Universitas Columbia.
Majalah Time menyebut Commoner sebagai “Paul Revere-nya ekologi,” dan ia mengikuti jejak Rachel Carson sebagai aktivis lingkungan modern paling terkemuka di Amerika. Namun, tidak seperti Carson, Commoner memandang krisis lingkungan sebagai gejala dari sistem ekonomi dan sosial yang pada dasarnya cacat.
Baca Juga: Komitmen Lingkungan Balai POM Palu di HUT ke-25
Sebagai seorang ahli biologi dan ilmuwan peneliti, ia berpendapat bahwa keserakahan korporasi, prioritas pemerintah yang salah arah, dan penyalahgunaan teknologi menyebabkan terkikisnya kesesuaian yang terjalin rapi antara kehidupan dan lingkungannya.
Commoner menghubungkan isu-isu lingkungan dengan visi yang lebih luas tentang keadilan sosial dan ekonomi. Ia menyoroti kesamaan antara gerakan lingkungan, hak-hak sipil, buruh, dan perdamaian, serta menghubungkan krisis lingkungan dengan masalah kemiskinan, ketidakadilan, rasisme, kesehatan masyarakat, keamanan nasional, dan perang.
Hari Bumi dirayakan setiap tahun pada tanggal 22 April, tonggaknya pada tahun 1970 sebagai respons terhadap meningkatnya kekhawatiran lingkungan selama masa industrialisasi yang pesat dan pengabaian terhadap ekologis.
Baca Juga: Debu Tambang Nikel Bukan Soal Sepele, Warga Datangi DPRD Morowali Utara
Gerakan ini dipelopori oleh Senator AS Gaylord Nelson, yang berupaya membawa isu-isu lingkungan ke garis depan kesadaran publik, terinspirasi oleh energi luas dari protes anti-perang yang terhubung dengan kesadaran sebagian besar sikap militan kaum muda menentang perang di Vietnam, kemiskinan, dan diskriminasi rasial.
Testimoni Profesor hukum lingkungan Michael Gerrard saat itu, baru saja menjadi mahasiswa tahun kedua ketika ia meliput Hari Bumi pertama untuk Columbia Spectator.
Baca Juga: Lawan Kerusakan Lingkungan di Donggala, Warga Pomolulu Tanam Mangrove dan Konsultasi Hukum
Artikelnya yang diterbitkan di halaman depan surat kabar tersebut, merinci rencana untuk demonstrasi, diskusi, dan pawai di kampus. Mahasiswa Universitas Columbia termasuk di antara 20 juta warga Amerika atau sekitar 10 persen dari populasi saat itu yang ikut serta dalam demonstrasi Hari Bumi pertama.
Peristiwa bersejarah ini memicu perubahan kebijakan yang signifikan, tidak hanya di Amerika tapi juga dibelahan dunia yang lain.
Saat ini, Hari Bumi berfungsi sebagai seruan global untuk bertindak, mengingatkan kita akan pentingnya melindungi planet kita untuk generasi mendatang.
Baca Juga: Nilai Manusia Diukur dari Dampak Positif yang Dirasakan Sekitarnya
Tema Hari Bumi 2026 adalah Kekuatan Kita, Planet Kita (Our Power, Our Planet) penerapannya mencerminkan kondisi ekonomi, lingkungan, dan kemasyarakatan global saat ini. Kekuatan Kita. Planet Kita, mengacu pada peran masyarakat dan komunitas di seluruh dunia dalam menjaga perlindungan lingkungan yang memengaruhi biaya hidup, kesehatan masyarakat, keandalan infrastruktur, dan stabilitas jangka panjang.
Kondisi lingkungan memengaruhi sistem pangan, ketersediaan air, akses energi, risiko bencana, dan ketahanan ekonomi di semua wilayah.
Selamat Hari Bumi. (*)





