Buya Subi Festival 2026 Dibuka, Wagub Sulteng Dorong Tenun Donggala Mendunia

Buya Subi Festival 2026 Dibuka, Wagub Sulteng Dorong Tenun Donggala Mendunia
Reny Lamadjido Ajak Generasi Muda Bangga Gunakan Tenun Donggala

DONGGALA – Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, dr. Reny A. Lamadjido, Sp.PK., M.Kes., secara resmi membuka Buya Subi Festival 2026 yang mengusung tema “Handmade for the Earth” di Pantai Towale, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, Selasa (7/7/2026).

Festival budaya tersebut menjadi ajang untuk memperkenalkan sekaligus mengangkat potensi tenun khas Donggala sebagai warisan budaya bernilai tinggi yang memiliki peluang besar menembus industri fesyen nasional hingga pasar internasional.

Bacaan Lainnya

Baca Juga: HUT Banggai ke-66, Gubernur Dorong Kolaborasi Percepat Pembangunan Daerah

Dalam sambutannya, Wakil Gubernur menegaskan Buya Subi Festival bukan sekadar agenda budaya tahunan, tetapi juga menjadi pernyataan kepada dunia bahwa Sulawesi Tengah memiliki kekayaan tenun tradisional yang sarat nilai filosofi, berkualitas tinggi, dan layak bersaing di industri fashion berkelanjutan.

Menurutnya, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah berkomitmen menjaga kelestarian tenun Donggala melalui berbagai langkah strategis, termasuk membahas pembukaan jurusan khusus tenun di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai upaya mencetak generasi baru perajin.

Langkah tersebut dinilai penting mengingat sebagian besar penenun saat ini berasal dari kalangan usia lanjut sehingga regenerasi harus segera dilakukan agar warisan budaya tetap lestari.

Baca Juga: 5 Fakta Menarik Argentina vs Mesir: Rekor Messi dan Comeback Spektakuler

“Jangan sampai tenun kita hilang karena para pengrajinnya didominasi generasi yang sudah lanjut usia. Regenerasi harus dilakukan agar warisan budaya ini tetap hidup dan berkembang,” ujar Reny.

Ia menegaskan festival budaya harus memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat, bukan hanya menjadi ajang pameran. Karena itu, masyarakat didorong untuk membeli, mengenakan, dan mempromosikan produk tenun lokal agar mampu meningkatkan pendapatan para pengrajin.

Reny juga menilai tenun khas Donggala memiliki keunggulan dari sisi warna, motif, hingga kualitas serat kain yang mampu bersaing dengan produk tekstil tradisional lainnya.

Baca Juga: Gugatan Hak Cipta terhadap Taylor Swift Ditolak, Pengadilan Nilai Klaim Terlalu Absurd

Meski demikian, ia mendorong para perajin untuk terus meningkatkan kualitas produk dan menghadirkan desain-desain yang mengikuti perkembangan tren tanpa meninggalkan identitas budaya lokal.

“Pemerintah ingin kualitas terus meningkat dengan desain yang lebih modern, tetapi tetap mempertahankan identitas budaya Donggala,” katanya.

Selain pelestarian budaya, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah juga menjadikan pengembangan ekonomi kreatif sebagai salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi daerah.

Baca Juga: Lionel Messi Ukir Rekor Buruk di Piala Dunia 2026 Usai Gagal Penalti Lawan Mesir

Wakil Gubernur mengajak generasi muda agar semakin bangga menggunakan produk lokal sebagai bentuk dukungan terhadap karya para perajin sekaligus memperkuat identitas budaya Sulawesi Tengah.

Melalui Buya Subi Festival 2026, pemerintah berharap lahir berbagai kerja sama strategis yang mampu memperkuat promosi pariwisata, memberdayakan pelaku UMKM, sekaligus membuka akses pasar internasional bagi produk unggulan Sulawesi Tengah.

Kehadiran CEO Eco Fashion Week Australia (EFWA), Zuhal Kuvan Mills, disebut menjadi peluang besar untuk memperkenalkan tenun khas Donggala kepada pasar global dan memperluas jaringan industri fesyen berkelanjutan.

“Mari jadikan festival ini sebagai ruang belajar, ruang berkarya, ruang berkolaborasi, sekaligus ruang membangun masa depan ekonomi kreatif Sulawesi Tengah yang inklusif dan berkelanjutan,” tutupnya.***

Biro Administrasi Pimpinan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *