Oleh: Ari Loru
MEMBACA berita tentang nakhoda baru BGN, alangkah paripurnanya dengan aroma Kopi Bintang. Pekat, manis, dan menyisakan jejak rasa yang panjang. Barangkali begitulah politik. Ia tidak selalu bisa ditebak dari rasa pertama. Kadang pahit di awal, manis di ujung. Kadang pula sebaliknya.
Ketika gema pesta La Furia Roja sebagai juara dunia 2026 belum sepenuhnya reda, pasang mata kembali tertuju pada sikon bongkar pasang pembantu Presiden. Pergantian Nanik oleh Sudaryono di kursi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) pun segera memantik spekulasi politik.
Nanik S. Deyang baru saja dilantik sebagai Kepala BGN pada 8 Juni 2026. Belum lama menikmati amanah itu, ia mengundurkan diri pada 22 Juli 2026 dengan alasan kesehatan. Pada hari yang sama, Sudaryono dilantik menggantikannya.
Baca Juga: Saat Mantan Wartawan Senior Jabat Kepala Badan Gizi Nasional (BGN)
Pergantian yang berlangsung dalam waktu singkat, tentu membuat publik menoleh. Bukan berarti semua harus dicurigai. Tetapi dalam politik, pergantian kursi selalu membawa cerita yang ingin dibaca lebih dalam.
Sudaryono sendiri bukan nama yang tiba-tiba muncul dari ruang kosong. Lahir di Grobogan, Jawa Tengah, pada 23 Januari 1985, perjalanan politiknya kemudian membawanya semakin dekat dengan Partai Gerindra dan Prabowo Subianto.
Ia dipercaya menempati posisi strategis di tubuh partai, termasuk memimpin Gerindra Jawa Tengah. Dari panggung politik, langkahnya kemudian berlanjut ke pemerintahan ketika ia dipercaya sebagai Wakil Menteri Pertanian. Kini, dari urusan pertanian dan ketahanan pangan, ia berpindah ke lembaga yang pekerjaannya bersentuhan langsung dengan piring makanan anak-anak Indonesia.
Baca Juga: Siapa Tersangka Dugaan Korupsi MBG Berikutnya? Kejagung Tahan 3 Eks Pejabat Badan Gizi Nasional
Di titik inilah perjalanan Sudaryono menjadi menarik untuk dibaca. Dari seorang kader politik, masuk ke lingkar pemerintahan, kemudian mengurusi sektor pertanian dan pangan, kini ia berdiri di depan sebuah program besar yang ingin menjadikan makanan bergizi sebagai bagian dari masa depan generasi Indonesia.
Barangkali, pengalaman itulah yang menjadi salah satu pertimbangan Presiden Prabowo ketika memberikan tongkat estafet BGN kepadanya. Tetapi jabatan selalu memiliki dua sisi: ia adalah kepercayaan sekaligus ujian.
Kita tahu, politik tidak pernah benar-benar tidur. Ia berjalan di balik pintu-pintu kekuasaan, berbisik di lorong-lorong pemerintahan, lalu tiba-tiba muncul ke ruang publik dalam bentuk keputusan. Dari sini spekulasi boleh saja tumbuh. Tetapi jangan sampai kita lupa pada persoalan yang jauh lebih besar.
BGN bukan sekadar tentang siapa yang menjadi kepala. Di balik lembaga itu, ada anak-anak yang setiap pagi pergi ke sekolah, ada anak yang mungkin berangkat dengan perut kosong, dan ada keluarga yang berharap negara benar-benar hadir di meja makan mereka.
Baca Juga: Kasus Keracunan MBG di Sulteng, Longki Djanggola Nyatakan SOP Dilanggar
Sudaryono datang bukan ke sebuah kapal yang sedang berlayar di laut yang tenang. Ia datang ketika Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sedang menghadapi tantangan besar. Program sebesar ini tentu membutuhkan sistem yang kuat. Makanan harus aman. Distribusi harus tepat. Anggaran harus dijaga. Pengawasan harus berjalan. Dan yang tidak kalah penting, program ini harus benar-benar menyentuh mereka yang membutuhkan, bukan hanya terlihat besar dalam angka dan laporan.
Kita sering lupa bahwa angka-angka dalam laporan pemerintah memiliki wajah. Di balik jutaan penerima manfaat, ada wajah seorang anak. Ada tangan kecil yang menerima kotak makanan. Ada seorang guru yang melihat anak didiknya makan.
Kemudian, ada orang tua yang bertanya dalam hati: apakah makanan yang diberikan negara benar-benar aman untuk anak saya? Karena itu, setiap rupiah yang digunakan untuk program ini harus dapat dipertanggungjawabkan dengan jernih.
Baca Juga: Nama AHY Dikaitkan Kasus BGN, ART: Jangan Terlalu Cepat Menghakimi!
BGN harus dipandang lebih dari sekadar lembaga birokrasi. Ia adalah salah satu pintu tempat negara bertemu langsung dengan rakyat. Negara tidak selalu hadir dalam bentuk pidato. Kadang negara hadir dalam sesuatu yang sederhana: makanan yang datang tepat waktu ke sekolah, lauk yang cukup, makanan yang aman, dan seorang anak yang pulang ke rumah dalam keadaan kenyang.
Di sinilah pekerjaan Sudaryono dimulai. Ia tidak cukup hanya meneruskan apa yang sudah ada. Ia harus berani melihat apa yang belum beres. Kalau ada sistem yang lemah, perbaiki. Kalau pengawasan kurang, perkuat. Kalau ada keluhan di lapangan, dengarkan. Sebab program sebesar MBG tidak boleh hanya bagus dari Jakarta. Ia harus terasa sampai ke pelosok negeri, sampai ke sekolah-sekolah yang namanya mungkin tidak pernah masuk televisi.
Kita tidak ingin setiap persoalan di negeri ini selesai hanya dengan mengganti orang. Hari ini pejabat A, besok pejabat B. Kursi berganti, tetapi masalah tetap duduk di tempat yang sama.
Baca Juga: Sri Lalusu: Masyarakat Bangkep Jangan Terprovokasi Kasus Karacunan MBG
Pergantian pemimpin memang penting, tetapi yang lebih penting adalah apakah cara kerjanya ikut berubah? Apakah sistemnya menjadi lebih baik? Apakah rakyat merasakan perbedaannya?
Sudaryono akan diuji bukan dari panjangnya pidato, tetapi dari pendeknya jarak antara kebijakan dan kenyataan. Sebab, bagi seorang anak di pelosok, keberhasilan MBG bukanlah angka yang tercetak di atas kertas. Keberhasilan itu adalah ketika makanan benar-benar sampai ke tangannya. Ketika makanan itu layak dimakan. Ketika gizinya benar-benar diperhatikan. Sesederhana itu.
Pergantian Nanik oleh Sudaryono tentu tidak bisa dilepaskan dari dimensi politik. Kita tidak hidup di ruang hampa. Setiap keputusan pemerintah selalu memiliki konteks. Tetapi publik juga berhak menunggu pembuktian. Apakah pergantian ini hanya bagian dari dinamika pemerintahan, atau benar-benar menjadi momentum untuk memperbaiki BGN?
Waktu yang akan menjawabnya. Biarkan kinerja yang berbicara. Biarkan waktu yang menjadi hakim.
Baca Juga: Santap Saus Ikan Tuna MBG, Siswa di Bangkep Diduga Keracunan Massal
Dari secangkir kopi, kita belajar satu hal sederhana: rasa tidak bisa dipaksakan. Kopi membutuhkan waktu untuk diseduh. Politik pun membutuhkan waktu untuk dibaca. Kita tidak perlu terburu-buru membuat kesimpulan. Sebab pada akhirnya, publik tidak hanya akan mengingat siapa yang duduk di kursi Kepala BGN. Publik akan mengingat apakah di bawah kepemimpinannya, anak-anak Indonesia benar-benar merasakan kehadiran negara.
Sudaryono kini memasuki babak baru. Nanik telah meninggalkan kursi itu, dan sebuah nama baru datang membawa harapan sekaligus beban. Publik tentu akan melihat dan menilai. Bukan dengan kebencian, bukan pula dengan pujian yang berlebihan. Sebab pada akhirnya, pergantian Kepala BGN bukanlah inti dari semuanya. Yang paling penting adalah anak-anak Indonesia.
Baca Juga: Warga Palu Ramai-ramai “Bully” Menu MBG, Nama Wali Kota dan Gubernur Ikut Terseret
Mereka menunggu sepiring makanan bergizi. Mereka yang tidak tahu apa-apa tentang politik. Mereka hanya tahu bahwa hari ini, ada makanan di hadapan mereka. Dan mungkin, di situlah ukuran paling jujur tentang bagaimana negara bekerja. Karena di balik semua bongkar pasang pembantu Presiden, ada satu hal yang seharusnya tidak pernah berubah: keberpihakan kepada rakyat. (*)
Data & Sumber Informasi
Sekretariat Negara Republik Indonesia: informasi mengenai pengunduran diri Nanik S. Deyang karena alasan kesehatan dan pelantikan Sudaryono sebagai Kepala BGN pada 22 Juli 2026.
Badan Gizi Nasional: dokumentasi pelantikan Nanik S. Deyang sebagai Kepala BGN pada 8 Juni 2026.
ANTARA: Informasi mengenai pelantikan Sudaryono sebagai Kepala BGN dan berakhirnya jabatan Sudaryono sebagai Wakil Menteri Pertanian.





