AMERIKA – Perseteruan hukum antara mega bintang pop dan mantan performer Las Vegas, Maren Wade, semakin panas.
Sidang terbaru di Los Angeles mengungkap perdebatan sengit soal dugaan “reverse confusion” atau kebingungan terbalik terkait penggunaan judul album The Life Of A Showgirl.
Baca Juga: Nasib Johann Zarco Memprihatinkan, LCR Honda Update Cedera Mengejutkan
Kasus ini bermula dari gugatan yang diajukan Wade pada Maret lalu. Ia menuding Swift dan UMG Recordings sengaja mengabaikan merek dagang miliknya, Confessions Of A Showgirl, yang telah didaftarkan secara federal sejak 2014.
Dalam gugatan tersebut, Wade menuduh adanya pelanggaran merek dagang, penamaan palsu, hingga persaingan usaha tidak sehat.
Ia juga meminta ganti rugi serta larangan penggunaan nama album yang telah sukses mendominasi tangga lagu internasional itu.
Baca Juga: Satgas PKH Dipersoalkan, ART Kritik Keras Praktisi Hukum Ari Yusuf
Sidang yang digelar di pusat kota Los Angeles pada Rabu (27/5) menjadi ajang adu argumen kedua kubu.
Tim hukum Swift menilai tuntutan Wade bertentangan dengan Amandemen Pertama dan tidak masuk akal secara hukum.
Pengacara Swift menegaskan bahwa The Life Of A Showgirl merupakan karya artistik yang bersifat ekspresif dan dilindungi hukum kebebasan berekspresi.
Baca Juga: Sering Ada di Dapur, Tomat Ternyata Bisa Bantu Cegah Alzheimer
Mereka juga menyebut sangat kecil kemungkinan publik mengira karya Wade berkaitan langsung dengan Swift.
“Saya tidak melihat bagaimana itu bisa terjadi. Untuk memenangkan gugatan ini, skenario tersebut terasa tidak realistis,” ujar tim hukum Swift dalam persidangan.
Namun kubu Wade punya pandangan berbeda. Mereka menyoroti bahwa Kantor Paten dan Merek Dagang Amerika Serikat sebelumnya telah menolak permohonan merek dagang Swift karena dianggap terlalu mirip dengan Confessions Of A Showgirl.
Baca Juga: Xabi Alonso Minta Florian Wirtz, Chelsea Siap Pecahkan Rekor Transfer Klub
Menurut pengacara Wade, kini muncul fenomena “kebingungan terbalik”, di mana identitas merek yang lebih kecil justru tenggelam akibat dominasi nama besar Swift.
“Merek dagang itu telah mengidentifikasi satu sosok selama lebih dari satu dekade. Kini ketika orang mengetik nama tersebut di Google, hasil otomatis justru mengarah ke Taylor Swift,” ungkap pengacara Wade.
Pihak Wade juga menilai ada banyak kesamaan antara kedua figur tersebut. Keduanya sama-sama artis solo wanita, tampil di atas panggung, memproduksi hiburan rekaman, dan membawa estetika dunia showgirl dalam karya mereka.
Baca Juga: Merasa Prihatin, Ko Cui Rogoh Dana Pribadi Perbaiki 2,5 Km Jalan Rusak di Tolitoli
Selain itu, Wade disebut tidak memiliki kekuatan pemasaran sebesar Swift. Pengacaranya menegaskan bahwa klien mereka hanya memiliki satu identitas merek utama yang telah dibangun selama 12 tahun terakhir.
“Dia tidak memiliki portofolio merek besar, dukungan perusahaan raksasa, ataupun mesin promosi global bernilai miliaran dolar,” tegas pihak Wade.
Sebaliknya, tim Swift menuding Wade hanya mencoba memanfaatkan popularitas album tersebut demi keuntungan komersial. Mereka menilai gugatan ini muncul setelah Wade melihat besarnya perhatian publik terhadap album Swift.
Baca Juga: Ingin Kulit Cerah Alami? Coba Tambahkan 8 Bahan Ini ke Smoothie Anda
Meski begitu, kubu Wade membalas bahwa merek yang telah dibangun bertahun-tahun kini “ditelan” oleh kekuatan industri musik global yang dimiliki Swift dan label besarnya.
Hakim dalam sidang tersebut belum memberikan keputusan final. Namun ia memastikan putusan tertulis akan segera diumumkan dalam waktu dekat.
Album The Life Of A Showgirl sendiri dirilis pada Oktober 2025 dan langsung menjadi fenomena global.
Album itu tercatat sebagai album terlaris di Inggris sepanjang tahun 2025, sekaligus membuat Taylor Swift mencetak sejarah baru sebagai artis pertama sejak pada 1977 yang memiliki album terlaris dalam dua tahun berturut-turut dengan rilisan berbeda.***





