KESEHATAN – Listeria atau Listeria monocytogenes merupakan bakteri yang dapat ditemukan di tanah, air, tumbuhan yang membusuk, hingga hewan. Yang membuat bakteri ini berbahaya adalah kemampuannya bertahan hidup bahkan pada suhu lemari pendingin.
Ketika seseorang mengonsumsi makanan yang terkontaminasi, ia berisiko mengalami listeriosis, infeksi serius yang dapat memicu demam, nyeri otot, gangguan pencernaan, hingga komplikasi berbahaya pada kelompok rentan seperti ibu hamil, lansia, bayi baru lahir, dan orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah.
Baca Juga: Ketua DPRD Morut Buka Turnamen Domino Pas-Pas, Dukung Kebersamaan Komunitas Ojek
Lalu, makanan apa saja yang paling sering dikaitkan dengan infeksi Listeria? Berikut daftarnya.
1. Susu dan Keju yang Tidak Dipasteurisasi
Produk susu mentah menjadi salah satu sumber utama kontaminasi Listeria. Proses pasteurisasi berfungsi membunuh bakteri berbahaya melalui pemanasan suhu tinggi.
Karena itu, susu mentah dan berbagai jenis keju lunak yang tidak dipasteurisasi seperti brie, camembert, maupun queso fresco memiliki risiko lebih tinggi membawa bakteri berbahaya.
Baca Juga: Blink-182 Rayakan 25 Tahun Album Ikonik dengan Vinyl Eksklusif dan Lagu Rahasia
2. Es Krim dan Yogurt Non-Pasteurisasi
Tidak hanya susu dan keju, produk olahan susu lainnya seperti es krim dan yogurt yang tidak melalui proses pasteurisasi juga dapat menjadi media berkembangnya Listeria.
Masyarakat disarankan memastikan produk yang dibeli telah melalui proses pengolahan yang aman dan memenuhi standar keamanan pangan.
3. Buah dan Sayuran Mentah
Buah dan sayuran dikenal sebagai makanan sehat, tetapi jika tidak dicuci dengan benar, keduanya bisa menjadi jalur masuk berbagai bakteri, termasuk Listeria.
Baca Juga: Jose Mourinho Ingin Revolusi Pertahanan Madrid, Nama Tomas Araujo Mencuat
Sebelum dikonsumsi, buah dan sayuran segar sebaiknya dicuci di bawah air mengalir untuk mengurangi risiko kontaminasi.
4. Hot Dog dan Daging Olahan
Daging olahan seperti hot dog, ham, sosis, hingga berbagai jenis deli meat termasuk dalam daftar makanan yang sering dikaitkan dengan wabah Listeria.
Selain itu, salad siap santap seperti salad kentang, coleslaw, salad ayam, dan salad tuna juga berpotensi terkontaminasi jika proses penyimpanannya tidak tepat.
Baca Juga: Gubernur Sulteng Ubah CSR Tambang Jadi Kekuatan Baru Pembangunan Infrastruktur
5. Ikan Asap dan Produk Makanan Laut
Salmon asap, ikan asap kemasan, hingga beberapa produk makanan laut siap santap memiliki risiko lebih tinggi apabila tidak diproses dan disimpan sesuai standar keamanan pangan.
Karena tidak selalu melalui proses pemanasan ulang sebelum dikonsumsi, bakteri dapat tetap bertahan pada produk tersebut.
6. Kecambah Mentah
Kecambah mentah sering menjadi pelengkap salad dan sandwich karena teksturnya yang renyah. Namun, lingkungan lembap yang dibutuhkan untuk proses perkecambahan juga menjadi tempat ideal bagi pertumbuhan bakteri.
Baca Juga: Jangan Salah Simpan! Ini Cara Menjaga Buah Tetap Manis, Segar, dan Awet
Mengonsumsi kecambah yang dimasak hingga matang dapat membantu mengurangi risiko infeksi.
7. Melon yang Sudah Dipotong
Buah melon yang telah dipotong dan dibiarkan pada suhu ruangan terlalu lama dapat menjadi sarang pertumbuhan bakteri.
Para ahli mengingatkan agar melon yang sudah dipotong tidak dibiarkan lebih dari dua jam di tempat terbuka, terutama saat cuaca panas.
Baca Juga: FGD Untad Bahas Ancaman Narkoba, FKUB Sulteng Dorong Peran Aktif Tokoh Agama
8. Makanan dari Salad Bar dan Prasmanan
Prasmanan dan salad bar memang menawarkan banyak pilihan makanan, tetapi kondisi penyimpanan yang kurang optimal bisa meningkatkan risiko kontaminasi bakteri.
Makanan yang dibiarkan terlalu lama tanpa pengaturan suhu yang tepat berpotensi menjadi tempat berkembangnya Listeria.
9. Unggas yang Kurang Matang
Ayam, kalkun, dan unggas lainnya harus dimasak hingga benar-benar matang sebelum dikonsumsi.
Baca Juga: Cek Kesiapan Menjadi Peserta Pemilu, KPU-Bawaslu Sambangi Kantor PSI Sulteng
Bagian daging yang masih berwarna merah muda menandakan proses pemasakan belum sempurna dan dapat meningkatkan risiko paparan bakteri berbahaya, termasuk Listeria.
Kelompok yang Harus Lebih Waspada
Meski siapa saja bisa terinfeksi, risiko komplikasi serius akibat listeriosis jauh lebih tinggi pada ibu hamil, bayi baru lahir, lansia berusia di atas 65 tahun, serta individu dengan daya tahan tubuh yang lemah.
Gejala awal biasanya berupa demam, nyeri otot, mual, diare, dan kelelahan. Jika gejala tersebut muncul setelah mengonsumsi makanan berisiko, segera konsultasikan dengan tenaga medis.
Baca Juga: Hyundai i20 2026 Makin Modern, Layar Ganda dan Desain Crossover Jadi Senjata Baru
Kunci Utama: Kebersihan dan Pengolahan yang Tepat
Para ahli menegaskan bahwa langkah terbaik untuk mengurangi risiko listeriosis adalah menjaga kebersihan makanan, mencuci bahan pangan segar sebelum dikonsumsi, menyimpan makanan pada suhu yang tepat, serta memastikan makanan matang sempurna sebelum disantap.
Dengan menerapkan kebiasaan keamanan pangan yang baik, risiko paparan bakteri berbahaya dapat ditekan secara signifikan dan kesehatan keluarga tetap terjaga.***





