KESEHATAN – Diet tinggi protein semakin populer karena dinilai efektif membantu menurunkan berat badan, membentuk massa otot, dan memberikan rasa kenyang lebih lama.
Tak heran, banyak orang mulai memperbanyak konsumsi daging, telur, ikan, hingga suplemen protein.
Baca Juga: Haaland Jadi Pahlawan! 5 Fakta Menarik Kemenangan Norwegia atas Pantai Gading
Namun, para ahli mengingatkan bahwa mengonsumsi protein secara berlebihan juga dapat memicu berbagai masalah kesehatan.
Protein memang merupakan nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh untuk membangun dan memperbaiki jaringan, menjaga massa otot, serta mendukung berbagai fungsi organ.
Akan tetapi, pola makan yang terlalu berfokus pada protein dan mengabaikan nutrisi lain justru bisa membawa dampak negatif.
Baca Juga: Praperadilan Ditolak, Penyidikan Kasus Pencabulan Anak di Buol Dinilai Sah
Menurut Chris Mohr, PhD, RD, keseimbangan tetap menjadi kunci dalam pola makan sehat.
“Protein harus disesuaikan dengan kebutuhan tubuh dan gaya hidup. Mengonsumsi lebih banyak belum tentu lebih baik jika dilakukan secara berlebihan,” jelasnya.
Berapa Banyak Protein yang Dibutuhkan Tubuh?
Secara umum, orang dewasa membutuhkan sekitar 0,8 gram protein per kilogram berat badan setiap hari.
Baca Juga: Metallica Tunjukkan Kepedulian Sosial Lewat Donasi Besar untuk Cardiff Foodbank
Sementara itu, atlet, orang yang aktif berolahraga, lansia, atau mereka yang sedang dalam masa pemulihan dapat membutuhkan sekitar 1,2 hingga 2 gram protein per kilogram berat badan.
Jika konsumsi protein melebihi angka tersebut secara terus-menerus, tubuh dapat mulai menunjukkan beberapa tanda berikut.
1. Ginjal Bekerja Lebih Berat
Salah satu organ yang paling terdampak akibat konsumsi protein berlebihan adalah ginjal.
Baca Juga: Euforia Paraguay! Presiden Umumkan Libur Nasional Setelah Kalahkan Jerman
Protein menghasilkan limbah metabolisme yang harus disaring oleh ginjal. Jika asupannya terlalu tinggi dalam jangka panjang, beban kerja ginjal dapat meningkat, terutama pada orang yang sudah memiliki gangguan fungsi ginjal.
Beberapa penelitian terbaru bahkan menunjukkan bahwa pola makan tinggi protein berpotensi meningkatkan risiko munculnya penyakit ginjal kronis pada sebagian orang.
2. Mudah Mengalami Dehidrasi
Asupan protein yang tinggi dapat membuat tubuh lebih sering buang air kecil karena ginjal bekerja lebih keras membuang sisa metabolisme protein.
Baca Juga: Mengira Makan Sehat? Ini 5 Tanda Tubuh Kelebihan Asupan Serat
Akibatnya, tubuh kehilangan lebih banyak cairan sehingga risiko dehidrasi meningkat apabila tidak diimbangi dengan konsumsi air putih yang cukup.
Karena itu, orang yang menjalani diet tinggi protein dianjurkan memperhatikan kebutuhan cairan setiap hari.
3. Risiko Penyakit Jantung Meningkat
Tidak semua sumber protein memberikan manfaat yang sama.
Baca Juga: Wagub Reny Tegur Kepala OPD, Realisasi Dana Dekonsentrasi APBN Baru 25 Persen
Jika sebagian besar protein berasal dari daging merah atau daging olahan, kandungan lemak jenuh dan kolesterol yang tinggi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.
Beberapa penelitian juga menemukan bahwa konsumsi protein dalam jumlah sangat tinggi berkaitan dengan meningkatnya risiko aterosklerosis, yaitu penyempitan pembuluh darah akibat penumpukan plak.
4. Tubuh Kekurangan Nutrisi Penting
Protein memang mengenyangkan, tetapi jika porsinya terlalu dominan, seseorang cenderung mengurangi konsumsi makanan bergizi lainnya.
Baca Juga: Comeback Spektakuler Brasil saat Singkirkan Jepang 2-1
Akibatnya, tubuh dapat kekurangan serat, vitamin, mineral, serta lemak sehat yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan pencernaan, sistem imun, dan metabolisme.
Pola makan seimbang tetap menjadi pilihan terbaik dibanding hanya berfokus pada satu jenis nutrisi.
5. Gangguan Pencernaan
Kelebihan protein juga dapat memengaruhi sistem pencernaan.
Baca Juga: BAZNAS Sulteng Resmikan Masjid Darurat Al Muhajirin untuk Korban Gempa di Sigi
Beberapa orang mengalami sembelit karena kurang serat, sementara yang lain justru mengalami diare, mual, perut tidak nyaman, atau gangguan pencernaan lainnya.
Risiko ini semakin tinggi apabila diet tinggi protein tidak diimbangi dengan konsumsi buah, sayur, dan air putih yang cukup.
6. Bau Mulut
Salah satu tanda yang sering tidak disadari adalah munculnya bau mulut.
Baca Juga: Sensasi Besar di Piala Dunia! Paraguay Hentikan Langkah Jerman Lewat Adu Penalti
Saat tubuh memecah protein dalam jumlah besar, akan terbentuk senyawa seperti amonia yang dapat menyebabkan aroma napas menjadi kurang sedap.
Kondisi ini juga lebih sering terjadi pada orang yang menjalani diet rendah karbohidrat sehingga tubuh memasuki kondisi ketosis.
Keseimbangan Tetap Menjadi Kunci Pola Makan Sehat
Protein tetap merupakan nutrisi penting yang tidak boleh diabaikan. Namun, mengonsumsinya secara berlebihan bukan berarti tubuh akan menjadi lebih sehat.
Baca Juga: Brasil Lolos 16 Besar, Gol Kemenangan Diciptakan Pemain Pengganti
Para ahli menyarankan untuk memenuhi kebutuhan protein sesuai usia, berat badan, dan tingkat aktivitas fisik, sambil tetap mengonsumsi karbohidrat kompleks, lemak sehat, buah, sayuran, serta air putih dalam jumlah cukup.
Dengan pola makan yang seimbang, manfaat protein dapat diperoleh tanpa meningkatkan risiko gangguan kesehatan.***





