Oleh: Ari Loru
MEMORI “Gol Tangan Tuhan” kembali mengetuk pintu sejarah.
Secangkir kopi hitam hari ini, terasa sedikit lebih pahit dari biasanya. Mungkin karena semalam dunia menyaksikan Prancis harus mengakhiri mimpinya setelah dihentikan Spanyol di semifinal Piala Dunia 2026.
Uap kopi masih mengepul, tetapi panggung sepak bola belum benar-benar sunyi. Kini, perhatian dunia beralih pada satu laga yang selalu melampaui sekadar pertandingan: Argentina melawan Inggris.
Baca Juga: Jalan Sunyi Spanyol Menuju Final
Ini bukan hanya perebutan satu tiket menuju final menghadapi Spanyol. Ini adalah perjumpaan dua negara yang telah puluhan tahun menulis sejarah di panggung Piala Dunia. Setiap kali Argentina dan Inggris bertemu, yang dipertaruhkan bukan hanya kemenangan, tetapi juga harga diri, kenangan, dan warisan sejarah yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Inggris datang membawa kebanggaan sebagai negeri kelahiran sepak bola modern. Mereka pernah menjadi juara dunia pada 1966 setelah mengalahkan Jerman Barat 4-2 di Wembley. Namun, sejak malam bersejarah itu, trofi Piala Dunia tak pernah lagi singgah ke tanah Inggris. Generasi demi generasi datang dengan harapan besar, tetapi selalu pulang dengan cerita yang belum selesai.
Argentina memiliki kisah yang berbeda. Negeri Tango berkali-kali melahirkan pemain yang mengubah sejarah sepak bola dunia. Dari Mario Kempes, Diego Armando Maradona, hingga Lionel Messi, Argentina selalu memiliki sosok yang mampu memikul mimpi jutaan rakyatnya. Bagi mereka, sepak bola bukan sekadar olahraga, tetapi bagian dari identitas bangsa.
Baca Juga: Semifinal Piala Dunia 2026: Panggung Para Pewaris Takhta
Tidak ada kisah yang lebih melekat dalam rivalitas ini selain perempat final Piala Dunia 1986 di Meksiko. Diego Maradona mencetak gol kontroversial yang kemudian dikenal sebagai “Hand of God” atau “Gol Tangan Tuhan”. Hingga hari ini, momen itu masih menjadi salah satu perdebatan terbesar dalam sejarah sepak bola dan terus membayangi setiap pertemuan Argentina dengan Inggris.
Namun hanya beberapa menit kemudian, Maradona membungkam semua perdebatan lewat sebuah karya agung. Ia menggiring bola melewati sejumlah pemain Inggris sebelum menaklukkan Peter Shilton. Gol itu kemudian dikenang sebagai “Goal of the Century”, bukti bahwa dalam satu pertandingan, sepak bola mampu melahirkan kontroversi sekaligus keindahan yang tak lekang oleh waktu.
Drama belum berhenti. Pada Piala Dunia 1998 di Prancis, kedua tim kembali bertemu dan bermain imbang 2-2 hingga babak tambahan. Kala itu, Inggris kehilangan David Beckham akibat kartu merah, sementara Argentina melaju setelah memenangkan adu penalti.
Empat tahun berselang, Inggris membalas melalui penalti Beckham pada fase grup Piala Dunia 2002. Sejak saat itu, setiap pertemuan keduanya selalu membawa aroma sejarah.
Baca Juga: Hasil Semifinal Piala Dunia 2026: Spanyol Bungkam Prancis, Tiket Final Berhasil Diamankan
Kini, dua puluh empat tahun setelah pertemuan terakhir mereka di Piala Dunia, generasi baru kembali dipanggil untuk melanjutkan kisah lama. Maradona telah tiada, Messi bukan lagi pusat permainan, tetapi semangat Argentina tetap sama. Di sisi lain, Inggris datang dengan generasi berbakat yang ingin mematahkan penantian panjang sejak 1966.
Di atas kertas, kekuatan kedua tim terlihat begitu seimbang. Inggris memiliki kedalaman skuad dan energi pemain muda. Sedangkan Argentina datang dengan mental juara dan pengalaman menghadapi pertandingan-pertandingan besar. Semifinal seperti ini sering kali tidak dimenangkan oleh tim yang paling indah bermain, tetapi oleh tim yang paling tenang menghadapi tekanan.
Pertandingan diperkirakan berlangsung ketat sejak menit pertama. Kedua pelatih tentu memahami bahwa satu kesalahan kecil bisa mengubur mimpi tampil di final. Karena itu, kehati-hatian kemungkinan akan lebih dominan dibanding permainan yang terlalu terbuka.
Baca Juga: Inggris Dapat Suntikan Tenaga, Declan Rice Dipastikan Fit Hadapi Argentina
Bila tak ada tim yang mampu memecahkan kebuntuan dalam 90 menit, babak tambahan bahkan adu penalti bukanlah skenario yang mustahil. Sejarah pertemuan kedua negara menunjukkan bahwa mereka kerap menghadirkan drama hingga detik-detik terakhir.
Siapa pun yang keluar sebagai pemenang akan menghadapi Spanyol di partai final. Sementara itu, tim yang kalah harus menerima kenyataan bahwa perjalanan panjangnya berakhir hanya selangkah sebelum panggung terakhir.
Sepak bola memang memiliki cara yang unik dalam menjaga ingatan manusia. Wembley 1966, Meksiko 1986, Prancis 1998, hingga Jepang-Korea 2002 bukan sekadar catatan statistik, melainkan bab-bab penting yang membentuk rivalitas Argentina dan Inggris menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah Piala Dunia.
Baca Juga: Pakar Ungkap Bek Inggris Dinilai Mampu Redam Messi di Semifinal Piala Dunia 2026
Ketika secangkir kopi hitam itu akhirnya tandas, sejarah belum tentu menemukan pemenangnya. Sebab sejarah tidak pernah mencetak gol. Ia hanya menunggu seseorang yang cukup berani untuk menulis bab baru.
Malam ini, atau dini hari waktu Indonesia, Argentina dan Inggris kembali diberi kesempatan melakukan itu. Entah Tango kembali menari atau Singa Inggris akhirnya mengaum, dunia akan sekali lagi menjadi saksi bahwa di Piala Dunia sejarah boleh dikenang, tapi masa depan hanya dimiliki oleh mereka yang berani memperjuangkannya. (*)





