6 Makanan dan Minuman yang Diam-Diam Bisa Tingkatkan Risiko Demensia

6 Makanan dan Minuman yang Diam-Diam Bisa Tingkatkan Risiko Demensia
Pexels

KESEHATAN – Kasus demensia diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa dekade ke depan. Para dokter di Amerika Serikat bahkan memperkirakan jumlah kasus baru demensia bisa meningkat dua kali lipat pada tahun 2060.

Kondisi ini membuat para ahli semakin menekankan pentingnya menjaga kesehatan otak sejak dini. Selain rutin berolahraga, tidur cukup, dan melatih otak dengan aktivitas seperti membaca atau bermain teka-teki, pola makan juga menjadi faktor penting yang tak boleh diabaikan.

Bacaan Lainnya

Baca Juga: Bayern Munchen Temukan Calon Pengganti Luis Diaz, Wonderkid Ajax Jadi Target Panas

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa makanan tertentu dapat membantu melindungi fungsi otak. Namun di sisi lain, ada pula beberapa jenis makanan yang justru dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia dan penurunan fungsi kognitif.

Berikut enam makanan dan minuman yang menurut penelitian ilmiah berpotensi meningkatkan risiko demensia jika dikonsumsi berlebihan.

1. Daging Olahan
Daging olahan seperti sosis, bacon, ham, dan salami sudah lama diketahui kurang baik bagi kesehatan jantung karena kandungan sodium dan lemak jenuhnya yang tinggi.

Baca Juga: Kunjungan Jaksa Agung ke Sulteng, Jadi Suntikan Semangat dan Profesionalitas Insan Adhyaksa

Namun penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Neurology pada Januari 2025 menemukan fakta lain yang lebih mengkhawatirkan: konsumsi daging olahan juga dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia.

Penelitian yang melibatkan lebih dari 133 ribu orang dewasa di AS selama 40 tahun menemukan bahwa mereka yang rutin mengonsumsi seperempat porsi atau lebih daging merah olahan setiap hari memiliki risiko 13 persen lebih tinggi mengalami demensia dibandingkan mereka yang jarang mengonsumsinya.

Para peneliti menjelaskan bahwa kandungan natrium tinggi dapat memicu tekanan darah dan gangguan pembuluh darah yang berdampak pada otak. Selain itu, nitrat dan nitrit pada daging olahan juga dapat memicu stres oksidatif dan peradangan yang merusak neuron otak.

Baca Juga: Kylian Mbappe Jadi Sorotan: PSG Justru Bersinar Setelah Kepergiannya ke Real Madrid

2. Makanan Ultra Olahan
Makanan ultra olahan atau ultra-processed foods merupakan makanan yang telah mengalami banyak proses industri dan biasanya mengandung tambahan gula, pewarna, pengawet, serta bahan kimia lainnya.

Contohnya meliputi:
• mi instan,
• snack kemasan,
• sereal manis,
• nugget,
• minuman kemasan,
• hingga makanan cepat saji.

Sebuah studi tahun 2022 yang diterbitkan di JAMA Neurology menemukan bahwa konsumsi makanan ultra olahan dalam jumlah tinggi berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif yang lebih cepat.

Baca Juga: Jaksa Agung Kunker di Sulteng, Kejari Tolitoli Enggan Tahan Tersangka Penggelapan Rp3,5 Miliar

Peneliti menemukan bahwa orang yang mendapatkan lebih dari 20 persen asupan kalorinya dari makanan ultra olahan mengalami penurunan kemampuan kognitif 25 persen lebih cepat dibanding mereka yang lebih banyak mengonsumsi makanan alami.

Semakin tinggi konsumsi makanan ultra olahan, semakin besar pula dampaknya terhadap kemampuan berpikir dan daya ingat.

3. Makanan Terlalu Pedas
Makanan pedas memang menjadi favorit banyak orang. Namun sebuah penelitian tahun 2019 dalam jurnal Nutrients menemukan adanya hubungan antara konsumsi cabai berlebihan dengan penurunan fungsi kognitif.

Baca Juga: Prodi Ilmu Administrasi Negara Unismuh Palu Raih Akreditasi Unggul, Wadek III FISIP: Berkat Kerja Kolektif

Penelitian terhadap hampir 5.000 orang dewasa lanjut usia di Tiongkok menunjukkan bahwa mereka yang mengonsumsi lebih dari 50 gram cabai per hari memiliki risiko penurunan kognitif hampir dua kali lipat dibandingkan mereka yang jarang mengonsumsi cabai.

Menariknya, efek tersebut terlihat lebih kuat pada individu dengan indeks massa tubuh rendah dan mereka yang aktif secara fisik.

Meski begitu, para peneliti menegaskan bahwa penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memahami hubungan antara makanan pedas dan kesehatan otak secara menyeluruh.

Baca Juga: Jennie BLACKPINK Resmi Jadi Headliner Festival Musik Raksasa di Polandia

4. Alkohol
Konsumsi alkohol berlebihan ternyata tak hanya berdampak pada hati dan kesehatan jantung, tetapi juga otak.

Penelitian yang dipublikasikan di JAMA Network Open pada 2023 melibatkan hampir empat juta orang di Korea Selatan dan menemukan bahwa konsumsi alkohol dalam jumlah tinggi dapat meningkatkan risiko demensia.

Peserta yang mengonsumsi tiga gelas atau lebih per hari mengalami peningkatan risiko demensia sebesar delapan persen.

Baca Juga: 5 Trik Simpel dari Ahli Gizi untuk Membuat Makanan Lebih Sehat Tanpa Diet Ketat

Sebaliknya, konsumsi alkohol ringan hingga sedang ditemukan memiliki risiko yang lebih rendah. Namun para ahli mengingatkan bahwa banyak orang sering tidak menyadari ukuran konsumsi alkohol mereka sebenarnya jauh lebih besar dari yang diperkirakan.

Karena itu, membatasi konsumsi alkohol tetap menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan otak jangka panjang.

5. Minuman dengan Pemanis Buatan
Minuman diet atau rendah gula sering dianggap lebih sehat dibanding soda biasa. Namun penelitian tahun 2017 dalam jurnal Stroke menemukan hubungan yang cukup mengkhawatirkan.

Baca Juga: City Mulai Waspada, Real Madrid Ingin Bajak Bek Andalan Pep Guardiola

Orang yang mengonsumsi setidaknya satu minuman dengan pemanis buatan setiap hari ditemukan memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami stroke dan demensia dibanding mereka yang tidak mengonsumsinya.

Meski penelitian tersebut bersifat observasional dan belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung, para ahli menilai temuan ini tetap perlu diperhatikan.

Penelitian lanjutan masih dibutuhkan untuk mengetahui bagaimana pemanis buatan memengaruhi kesehatan otak dalam jangka panjang.

Baca Juga: Ditresnarkoba Polda Sulteng Amankan Terduga Pengedar Sabu di Jalur Trans Sulawesi

6. Gula Tambahan
Gula tambahan menjadi salah satu komponen makanan yang paling sering dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan, termasuk diabetes dan obesitas.

Kini, penelitian juga menunjukkan kaitannya dengan kesehatan otak.

Ahli diet Erin Palinski-Wade menjelaskan bahwa konsumsi gula berlebihan dapat memicu resistensi insulin, kondisi yang dikaitkan dengan penurunan fungsi kognitif dan peningkatan risiko demensia.

Baca Juga: Gubernur Rekomendasi Izinnya Dicabut, Ketua DPRD Morut Pimpin RDP PT KLS

Sebuah studi tahun 2021 menemukan bahwa konsumsi minuman manis secara rutin berkaitan dengan peningkatan risiko demensia, Alzheimer, dan stroke.

Risiko tersebut bahkan lebih tinggi pada orang yang mengonsumsi lebih dari tujuh porsi minuman manis per minggu.

Makanan yang Dianjurkan untuk Menjaga Kesehatan Otak
Selain mengurangi makanan berisiko, para ahli menyarankan untuk memperbanyak konsumsi makanan utuh atau whole foods seperti:

Baca Juga: Anwar Hafid Mencalonkan Lagi Ketua Demokrat Sulteng

• buah-buahan,
• sayuran,
• kacang-kacangan,
• biji-bijian utuh,
• ikan berlemak,
• lentil,
• dan buncis.

Makanan tersebut kaya serat, vitamin, antioksidan, dan lemak sehat yang membantu melindungi otak dari stres oksidatif dan peradangan kronis dua faktor utama yang berkontribusi terhadap demensia dan Alzheimer.

Pola makan sehat juga membantu menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah, yang sangat berpengaruh terhadap fungsi otak.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *