FIFA Kian Memanas! CEO Minta Seluruh Anggota Tolak Rencana Gianni Infantino

FIFA Kian Memanas! CEO Minta Seluruh Anggota Tolak Rencana Gianni Infantino
Kevin Lamour tolak rencana Gianni Infantino jual saham Piala Dunia (instagram/@gianni_infantino)

AMERIKA – Krisis internal di tubuh FIFA memasuki babak baru. CEO FIFA Kevin Lamour secara terbuka meminta seluruh asosiasi sepak bola dunia untuk menolak proposal Presiden FIFA Gianni Infantino terkait penjualan sebagian saham komersial Piala Dunia FIFA kepada investor swasta.

Pernyataan tersebut menjadi kritik paling keras yang pernah disampaikan oleh pejabat tertinggi FIFA terhadap presidennya sendiri sejak polemik ini mencuat beberapa hari terakhir.

Bacaan Lainnya

Baca Juga: 7 Makanan Terbaik untuk Melawan Flu, Bantu Pulih Lebih Cepat Secara Alami

Dalam pernyataan yang dikutip BBC Sport, Lamour menyebut proposal tersebut bukanlah kebijakan organisasi, melainkan murni gagasan pribadi Gianni Infantino.

“Ini adalah proyek satu orang. Proyek ini tidak hanya tidak boleh dilanjutkan, tetapi sekaranglah saatnya para pemimpin sepak bola mengajukan pertanyaan yang tepat dan mengambil keputusan yang benar.”

Lamour bahkan mengaku siap menerima konsekuensi apa pun, termasuk kehilangan jabatannya, karena memilih menyampaikan pandangan yang menurutnya penting demi masa depan sepak bola.

Baca Juga: Carlo Ancelotti Tegas! Tiga Veteran Brasil Tak Masuk Rencana Masa Depan

“Jika itu berarti saya kehilangan pekerjaan, biarlah. Saya akan memahami dan menghormati keputusan itu. Setidaknya saya bisa tidur nyenyak di malam hari.”

Menurut Lamour, seorang presiden FIFA seharusnya mampu menyatukan seluruh elemen organisasi, bukan justru menciptakan perpecahan melalui keputusan yang dianggap sepihak.

Ia menilai kondisi internal FIFA kini semakin sulit karena banyak keputusan penting diambil tanpa melibatkan tim secara menyeluruh.

Baca Juga: Jalan Hidup Hendly Mangkali: Jurnalis, Relawan, Mantan Napi dan Aksi Sosialnya

Lamour juga mengungkapkan bahwa proposal tersebut tetap dipaksakan meskipun sebelumnya mendapat penolakan dari sejumlah pejabat internal FIFA.

Dalam pernyataan lanjutannya, ia menggambarkan suasana kerja di markas FIFA yang disebut semakin tidak kondusif.

“Apa yang diumumkan dalam beberapa hari terakhir dan apa yang terjadi di balik layar selama beberapa bulan terakhir benar-benar di luar dugaan. Administrasi FIFA semakin sulit menjalankan misinya dalam kondisi seperti ini.”

Baca Juga: The Beatles Hidupkan Kembali ‘Rubber Soul’, Demo Rahasia John Lennon Akhirnya Dirilis

Ia menambahkan bahwa banyak pegawai FIFA mulai kehilangan kebanggaan bekerja di organisasi sepak bola dunia tersebut.

“Kami semua ingin bangga bekerja untuk FIFA. Namun hari ini, sayangnya, saya merasa hal itu tidak lagi dirasakan oleh banyak rekan saya.”

Gelombang tekanan terhadap Gianni Infantino juga terus bertambah dari luar organisasi. Sebelumnya, UEFA, Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA), serta Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) telah lebih dulu menyampaikan penolakan terhadap rencana penjualan saham komersial Piala Dunia.

Baca Juga: Gianni Infantino Dikepung Penolakan: 55 Anggota UEFA Ancam Boikot Piala Dunia FIFA

UEFA bahkan mengancam tidak akan mengikuti kompetisi FIFA apabila proposal tersebut tetap dijalankan tanpa perubahan.

Di tengah meningkatnya kontroversi, kubu Gianni Infantino kembali mendapat pukulan setelah penasihatnya, Carlos Cordeiro, dikabarkan mengundurkan diri dari jabatannya.

Situasi ini membuat tekanan terhadap kepemimpinan Infantino semakin besar menjelang batas waktu persetujuan proposal oleh seluruh asosiasi anggota FIFA.

Baca Juga: Penyegaran Organisasi, Polda Sulteng Rotasi Ratusan Personel dan Isi Formasi Polres Balut

Jika mayoritas anggota menolak rencana tersebut, proyek yang digadang-gadang akan mengubah model bisnis FIFA itu berpotensi gagal total.

Pernyataan terbuka Kevin Lamour menjadi sinyal bahwa polemik di tubuh FIFA kini bukan lagi sekadar kritik dari luar, tetapi juga berasal dari jajaran internal organisasi. Keputusan para anggota FIFA dalam beberapa pekan ke depan akan menentukan arah masa depan tata kelola sepak bola dunia.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *