Gianni Infantino Dikepung Penolakan: 55 Anggota UEFA Ancam Boikot Piala Dunia FIFA

Gianni Infantino Dikepung Penolakan: 55 Anggota UEFA Ancam Boikot Piala Dunia FIFA
Konflik FIFA vs UEFA memanas, 55 federasi bersatu tolak proposal kontroversial (instagram/@gianni_infantino)

EROPA – Dunia sepak bola kembali diguncang polemik besar. Seluruh 55 asosiasi anggota UEFA dikabarkan sepakat mengambil sikap tegas terhadap rencana Presiden FIFA Gianni Infantino yang ingin membuka kepemilikan komersial Piala Dunia FIFA kepada investor swasta.

Dalam pertemuan darurat yang digelar pada Kamis (30/7), seluruh anggota UEFA disebut mencapai kesepakatan bulat untuk tidak mendukung kompetisi yang diselenggarakan FIFA apabila proposal tersebut benar-benar diberlakukan.

Bacaan Lainnya

Baca Juga: Penyegaran Organisasi, Polda Sulteng Rotasi Ratusan Personel dan Isi Formasi Polres Balut

Langkah ini menjadi eskalasi terbaru dari konflik antara UEFA dan FIFA yang sebelumnya telah memicu kritik dari sejumlah federasi sepak bola Eropa.

Menurut laporan, Gianni Infantino berencana mengumpulkan dana hingga US$20 miliar melalui penjualan sebagian kepemilikan perusahaan yang mengelola hak komersial berbagai turnamen FIFA.

Dalam surat yang dikirim kepada 211 asosiasi anggota FIFA, setiap federasi disebut akan menerima US$40 juta apabila mendukung proposal tersebut. FIFA juga menetapkan batas waktu hingga 19 September untuk memperoleh persetujuan mayoritas anggotanya.

Baca Juga: Prediksi Timor Leste vs Indonesia: Garuda Bidik Kemenangan Kedua

Namun, UEFA menilai langkah tersebut mengancam masa depan tata kelola sepak bola dunia.

Dalam pernyataan resminya, UEFA menegaskan bahwa seluruh anggotanya bersatu menolak rencana tersebut.

“UEFA dan 55 asosiasi anggotanya bersatu. Kami dengan suara bulat dan tanpa ragu menolak proposal FIFA untuk mentransfer kepemilikan saham di Piala Dunia dan kompetisi FIFA lainnya kepada investor swasta.”

Baca Juga: Banyak Orang Kekurangan Vitamin D, Ini Cara Aman Memenuhi Kebutuhan Harian

UEFA juga menegaskan bahwa Piala Dunia bukanlah aset bisnis yang dapat diperjualbelikan.

“Piala Dunia tidak dapat diperlakukan sebagai produk investasi. Ini adalah salah satu warisan terbesar sepak bola dunia. Tidak ada bagian darinya yang boleh diserahkan kepada investor swasta. Piala Dunia tidak untuk dijual.”

Tak berhenti sampai di situ, konfederasi sepak bola Eropa tersebut juga menyampaikan ultimatum yang sangat keras kepada FIFA.

Baca Juga: Tutup Karier Internasional! Neymar Ungkap Alasan Pensiun dari Timnas Brasil

UEFA menyatakan tidak akan memberikan legitimasi terhadap model kepemilikan swasta dalam kompetisi sepak bola internasional.

Bahkan, mereka mengancam seluruh tim nasional anggota UEFA tidak akan mengikuti kompetisi FIFA selama proposal tersebut masih berlaku, kecuali FIFA mencabut rencana itu sepenuhnya dan memberikan jaminan mengikat bahwa kebijakan serupa tidak akan kembali diajukan pada masa mendatang.

Sebagai penutup, UEFA kembali menegaskan sikapnya dengan kalimat yang menjadi sorotan dunia sepak bola.

Baca Juga: Lebih dari 30 Tahun Berlalu, Misteri ‘Heart Shaped Box’ Nirvana Akhirnya Terkuak

“Beberapa hal memang terlalu penting untuk dijual. Piala Dunia FIFA adalah milik sepak bola. Akan selalu begitu.”

Ancaman tersebut tentu menjadi tekanan besar bagi FIFA. Meski UEFA hanya mewakili sekitar 25 persen dari total anggota FIFA, negara-negara Eropa merupakan kekuatan dominan di panggung dunia dengan koleksi 13 gelar Piala Dunia dari total 23 edisi yang telah digelar, termasuk gelar juara terbaru.

Kini perhatian dunia tertuju pada langkah FIFA menjelang batas waktu pengambilan keputusan pada September.

Baca Juga: Gelombang Penolakan Meluas! UEFA Kini Didukung Inggris dan Prancis Lawan FIFA

Jika kedua pihak tidak menemukan titik temu, polemik ini berpotensi menjadi salah satu krisis tata kelola terbesar dalam sejarah sepak bola modern.

Sikap tegas UEFA memperlihatkan besarnya penolakan terhadap wacana privatisasi hak komersial Piala Dunia. Kini, keputusan berada di tangan FIFA untuk menentukan apakah proposal tersebut akan diteruskan atau justru ditarik demi menghindari konflik yang lebih besar.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *