AMERIKA – Kontroversi seputar rencana Presiden FIFA Gianni Infantino untuk menjual sebagian saham komersial Piala Dunia FIFA kepada investor swasta terus memanas.
Setelah sebelumnya mendapat kecaman dari UEFA, kini Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) dan Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) ikut menyuarakan penolakan terhadap proposal tersebut.
Baca Juga: Anwar Hafid Gandeng KPK Benahi Sektor Pertanahan, Konflik Agraria Jadi Sorotan
Menurut berbagai laporan, Infantino telah memberikan tenggat waktu hingga 19 September kepada seluruh asosiasi anggota FIFA untuk memberikan dukungan terhadap rencana pembentukan perusahaan komersial baru bernama Football Forward Enterprise.
Melalui skema tersebut, FIFA berencana menjual saham minoritas perusahaan yang mengelola hak-hak komersial, termasuk hak siar, sponsor, lisensi, hingga penjualan tiket Piala Dunia. Langkah itu ditargetkan mampu menghimpun dana sekitar US$4,2 miliar.
Namun, proposal tersebut justru memicu kekhawatiran di kalangan federasi-federasi sepak bola besar.
Baca Juga: Parigi Moutong Perkuat Moderasi Beragama, FKUB Akan Dibentuk di 23 Kecamatan
Dalam pernyataan resminya, FA Inggris mengaku sama sekali tidak mendapatkan informasi maupun rincian proposal sebelum isu tersebut mencuat ke publik.
“Kami sama sekali tidak mengetahui proposal ini dan tidak memiliki detail substantif, termasuk apa sebenarnya isi proposal tersebut maupun syarat-syaratnya. Berdasarkan informasi yang sangat terbatas, kami sangat prihatin terhadap kurangnya proses dan tata kelola yang mengiringi proposal ini.”
FA menegaskan akan memberikan sikap resmi setelah FIFA membuka seluruh rincian proposal secara transparan kepada seluruh anggota.
Baca Juga: Kontroversi Final Piala Dunia 2026, Bek Argentina Buka Fakta Sebenarnya
Senada dengan FA, Presiden Federasi Sepak Bola Prancis (FFF), Philippe Hamidou Diallo, mengaku terkejut karena federasi-federasi anggota tidak pernah dilibatkan dalam pembahasan proyek yang dinilai sangat penting tersebut.
Diallo menilai rencana menghadirkan investor swasta dalam pengelolaan aset komersial FIFA menimbulkan banyak pertanyaan, terutama terkait transparansi dan peran asosiasi anggota dalam proses pengambilan keputusan.
Ia juga mengungkapkan akan segera berkomunikasi dengan para pemimpin federasi besar di Eropa, termasuk Presiden UEFA, guna menyusun langkah bersama dalam menyikapi proposal tersebut.
Baca Juga: Tak Hanya Menambah Energi, Ini 5 Manfaat Luar Biasa Vitamin B12 untuk Tubuh
Sebelumnya, UEFA telah lebih dulu mengkritik keras gagasan tersebut. Konfederasi sepak bola Eropa itu menegaskan bahwa tata kelola sepak bola tidak boleh diperlakukan sebagai aset yang dapat diperjualbelikan demi kepentingan komersial.
Di sisi lain, FIFA tetap mempertahankan argumennya. Organisasi yang dipimpin Gianni Infantino itu menyatakan skema baru tersebut akan meningkatkan pendanaan pengembangan sepak bola menjadi lebih dari US$10 miliar dalam satu siklus empat tahunan Piala Dunia.
Dana tersebut diklaim akan didistribusikan kepada seluruh 211 asosiasi anggota FIFA untuk mendukung pengembangan sepak bola di berbagai negara.
Baca Juga: Gianni Infantino Diterpa Kontroversi Baru, UEFA Pertanyakan Tata Kelola FIFA
Meski demikian, proposal tersebut masih membutuhkan dukungan lebih dari 50 persen anggota FIFA agar dapat disahkan dan mulai dijalankan.
Dengan semakin banyaknya federasi besar yang menyatakan keberatan, perdebatan mengenai masa depan tata kelola dan hak komersial sepak bola dunia diperkirakan akan terus menjadi sorotan hingga proses pemungutan suara dilakukan.
Penolakan dari FA Inggris dan Federasi Prancis menambah tekanan terhadap FIFA menjelang proses pengambilan keputusan. Kini, perhatian dunia sepak bola tertuju pada apakah Gianni Infantino mampu meyakinkan mayoritas anggota FIFA untuk menyetujui rencana kontroversial tersebut.***





