Pergi, Hilang, dan Lupakan CR7

Pergi, Hilang, dan Lupakan CR7
Pemain Timnas Portugal, Cristiano Ronaldo (CR7) berpelukan dengan pemain Spanyol Lamine Yamal usai laga. (Foto: Flashcore/Reuters).

Oleh : Ari Loru

DUA puluh tahun lalu, Piala Dunia 2006 di Jerman menjadi panggung yang tak pernah kami lupakan. Saat itu, kami masih remaja. Rela begadang, rela dimarahi orang tua, hanya demi menyaksikan sepak bola yang begitu kami cintai.

Bacaan Lainnya

Di tengah gemerlap nama-nama mentereng seperti Ronaldo Nazário, Ronaldinho, Francesco Totti, Zinedine Zidane, Thierry Henry, Alessandro Del Piero, Filippo Inzaghi, Miroslav Klose, Michael Ballack. Siapa lagi ya? Andrea Pirlo, Kaká, dan Luís Figo. Kemudian, muncul seorang pemuda Portugal yang belum banyak diperhitungkan.

Tak ada yang tahu, pemuda itu kelak akan mengubah sejarah sepak bola modern. Ia tidak lahir sebagai raja. Ia membangun singgasananya dengan disiplin, kerja keras, dan ambisi yang tak pernah padam.

Baca Juga: Petaka Injury Time, Tiga Pemain Pengganti Spanyol Pulangkan Cristiano Ronaldo dkk

Namanya, Cristiano Ronaldo. Bagi dunia, ia adalah legenda. Bagi kami, ia adalah bagian dari masa muda.

Kami tumbuh bersamanya. Dari rambut yang masih hitam hingga mulai dipenuhi usia. Dari bangku sekolah hingga dunia pekerjaan. Ada satu nama yang selalu menemani perjalanan itu: CR7.

Ia mengajarkan bahwa bakat boleh membuka pintu. Namun hanya kerja keras yang membuat seseorang tetap bertahan di dalamnya.

Dua puluh tahun berlalu begitu cepat. Gol demi gol tercipta. Trofi demi trofi diraih. Rekor demi rekor dipecahkan. Tetapi waktu tetap menjadi lawan yang tak pernah bisa dikalahkan.

Baca Juga: 5 Fakta Menarik Portugal vs Spanyol: Ronaldo Gagal Wujudkan Mimpi Terakhir

Lalu tibalah hari itu. Portugal harus mengakhiri langkahnya setelah takluk dari Spanyol. Kekalahan itu bukan hanya mengakhiri perjalanan sebuah tim, tetapi juga menutup perjalanan Cristiano Ronaldo di panggung Piala Dunia.

Tangis itu bukan semata karena kalah. Tangis itu adalah bahasa yang hanya dimengerti oleh mereka yang telah memberikan seluruh hidupnya untuk sebuah lambang di dada.

Sesudah pertandingan usai, Ronaldo mengonfirmasi bahwa Piala Dunia 2026 adalah Piala Dunia terakhirnya. Sebuah pengakuan yang membuat jutaan penggemar di seluruh dunia terdiam.

Baca Juga: Usia 40 Tahun, Ronaldo Masih Menggila! Rekor Baru Piala Dunia Akhirnya Tercipta

Pergi. Mungkin memang sudah waktunya. Sebab setiap legenda pada akhirnya harus menyerahkan panggung kepada generasi berikutnya.

Hilang. Mungkin suatu hari nanti kita tak lagi melihat nomor tujuh berlari dengan seragam Portugal di Piala Dunia. Stadion akan memiliki pahlawan baru. Dunia akan memiliki idola baru.

Tetapi melupakanmu? Tidak. Sepak bola tidak pernah melupakan mereka yang telah mengubah sejarahnya. Sebab legenda tidak hidup dari usia, melainkan dari warisan yang ditinggalkan.

Baca Juga: 5 Fakta Portugal vs Kroasia: Ronaldo Bersinar, Goncalo Ramos Jadi Pahlawan

Tanggal 7 Juli 2026 mungkin akan dikenang sebagai hari ketika kami untuk terakhir kalinya melihatmu mengenakan seragam Portugal di panggung Piala Dunia. Hari yang berat, tetapi juga hari yang mengajarkan bahwa setiap perjalanan besar pasti memiliki garis akhir.

Terima kasih, CR7. Terima kasih telah menemani masa remaja kami. Terima kasih telah membuat kami percaya bahwa mimpi tidak mengenal batas, selama keberanian dan kerja keras terus menyala.

Baca Juga: Haaland Jadi Pahlawan, 5 Fakta Menarik Kemenangan Norwegia atas Pantai Gading

Pergi jika memang waktu telah memanggilmu. Hilang jika memang panggung telah berganti. Tetapi melupakanmu adalah hal yang mustahil bagi kami. Sebab di setiap teriakan “Siuuu…”, akan selalu ada kenangan tentang seorang anak Madeira yang menaklukkan dunia. Selamat jalan dari panggung Piala Dunia, CR7.

Sejarah telah menuliskan namamu dengan tinta emas, dan hati kami akan terus menyebut namamu, hari ini, esok, dan entah sampai kapan. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *