AMERIKA – Presiden FIFA, Gianni Infantino, resmi membatalkan rencana kontroversial penjualan sebagian saham komersial Piala Dunia FIFA kepada investor swasta.
Keputusan itu diumumkan setelah gelombang penolakan dari berbagai pemangku kepentingan sepak bola dunia, termasuk ancaman boikot dari sejumlah konfederasi.
Baca Juga: AKP Siti Elminawati Harumkan Polda Sulteng, Raih Hoegeng Awards 2026
Melalui unggahan di Instagram Story, Infantino menegaskan bahwa proposal tersebut tidak akan diteruskan karena dinilai telah memicu perpecahan yang bertentangan dengan tujuan awal proyek.
“Proposal tersebut tidak akan dilanjutkan,” tulis Infantino, seraya menegaskan bahwa FIFA ingin tetap menjadi organisasi yang menyatukan seluruh elemen sepak bola dunia.
Menurut Infantino, proyek FIFA Forward Enterprise (FFE) sejatinya dirancang untuk memperkuat pendanaan bagi 211 asosiasi anggota FIFA, khususnya negara-negara yang membutuhkan dukungan lebih besar dalam pengembangan sepak bola.
Baca Juga: LPS Gencarkan Literasi Keuangan di Palu, Edukasi Warga dari CFD hingga Sekolah
“Proyek FIFA Forward Enterprise dimaksudkan untuk memberikan landasan bagi penguatan lebih lanjut Asosiasi Anggota FIFA dan olahraga kita di seluruh dunia, terutama di negara-negara yang paling membutuhkan dukungan.”
Namun, setelah mendengar berbagai masukan dari federasi, konfederasi, hingga pemangku kepentingan lainnya, FIFA menyimpulkan bahwa proyek tersebut justru menciptakan perpecahan yang tidak lagi sejalan dengan tujuan utamanya.
“Setelah mendengarkan dengan saksama semua pandangan, menjadi jelas bahwa proyek ini telah menciptakan perpecahan yang, terlepas dari tingkat dukungannya, tidak lagi sesuai dengan tujuan yang ditetapkan sejak awal.”
Baca Juga: Drama Final Piala Dunia Belum Usai, 6 Pemain Argentina Terancam Hukuman Berat FIFA
Rencana Bernilai US$20 Miliar Akhirnya Dihentikan
Sebelumnya, FIFA berencana membentuk perusahaan komersial baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE) dengan valuasi sekitar US$20 miliar.
Dalam skema tersebut, hingga 20 persen saham perusahaan akan dijual kepada investor eksternal, sementara FIFA tetap mengklaim akan mempertahankan kendali penuh terhadap tata kelola dan seluruh keputusan olahraga.
Meski demikian, gagasan tersebut langsung menuai kritik keras.
Baca Juga: Ketua MUI Palu Dukung Hukuman Mati Koruptor, Sebut Sudah Diatur dalam UU Tipikor
UEFA menjadi pihak pertama yang secara terbuka menolak proposal tersebut, disusul sejumlah federasi besar Eropa. Penolakan kemudian meluas setelah Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dan CONCACAF juga menyatakan keberatan terhadap rencana tersebut.
Tekanan semakin besar ketika sejumlah pejabat senior FIFA ikut mengkritik proyek tersebut. Bahkan, salah satu penasihat khusus Gianni Infantino memilih mengundurkan diri, sementara pejabat senior lainnya secara terbuka menyebut banyak staf FIFA merasa “ditipu” oleh proses penyusunan proposal tersebut.
FIFA Fokus Membangun Konsensus
Meski membatalkan proyek FFE, Infantino memastikan FIFA tidak akan menghentikan upaya meningkatkan pendanaan pengembangan sepak bola global.
Baca Juga: Sid Wilson Dipecat dari Slipknot Setelah 25 Tahun, Ada Apa Sebenarnya?
Ia menyatakan akan menggelar serangkaian pertemuan dengan seluruh pemangku kepentingan dalam beberapa pekan mendatang guna mencari solusi bersama yang dapat diterima semua pihak.
“Ke depannya, niat saya adalah untuk mempertemukan kembali semua pihak yang berkepentingan dengan semangat kepentingan bersama demi terus mengembangkan sepak bola, khususnya di negara-negara yang paling membutuhkan dukungan,” ujar Infantino.
Pembatalan proyek penjualan saham Piala Dunia menjadi salah satu keputusan paling penting FIFA dalam beberapa tahun terakhir.
Kini perhatian dunia sepak bola tertuju pada langkah berikutnya yang akan ditempuh FIFA untuk meningkatkan pendanaan tanpa mengorbankan independensi dan tata kelola kompetisi paling bergengsi di dunia tersebut.***





