Penulis: Abdee Mari
PERAWAKANNYA kurus. Lemah lembut. Cepat akrab, tapi irit bicara.
Begitulah kesan pertama saya pada Basri Marzuki, atau yang akrab disapa Pak Basri, Kaka Ayi, Om Piss, hingga Papa Bena. Di kalangan jurnalis Palu, namanya adalah legenda. Kami mulai bersinggungan sejak dia merintis karir jurnalistiknya di harian Mercusuar sekitar tahun 1999-2000. Saya di radio Nugraha TOP FM, dia di koran.
Singkatnya, ketika kami para reporter radio di Palu “dibajak” oleh Kamil Badrun untuk membentuk Radar Palu yang awalnya berkantor di halaman Harian Mercusuar yang sebelumnya adalah warnet, saya tambah mengenal sosok kurus tersebut.
Baca Juga: Hendly Mangkali, Jurnalis yang Menjaga Kemanusiaan di Tengah Proses Hukum
Hingga akhirnya medio 2001, Mercusuar berpisah dengan Jawa Pos dan pindah ke kantor baru. Kami pun Radar Palu juga ikut pindah. Meski hanya berumur 1 tahun, Radar Palu ditutup dan semua isi redaksi dipindahkan ke radar Sulteng termasuk saya. Disinilah saya akhirnya menjadi dekat dengan BMZ.
Di sinilah, ikatan kami menguat, melampaui sekadar rekan kerja, menjadi guru dan murid.
Pak Basri adalah Redaktur Palu Kota Teluk, atau halaman liputan Kota. Namun, matanya selalu awas pada detail visual. Lewat kamera saku digital Nikon Coolpix berlensa internal, ia melahirkan karya-karya fotografi jurnalistik yang berbicara sangat tajam. Fotonya kerap menghiasi halaman utama (Headline). Dari tangan dinginnyalah, saya – yang saat itu memegang halaman daerah – belajar memegang kamera, membidik momen, hingga menyerap ilmu retouch foto menggunakan Photoshop.
Baca Juga: Gegara Berita Poles-poles Beras Busuk, Tempo Digugat 200 Miliar
Siapa sangka, ketekunan menabung dari gaji pas-pasan diganjar setimpal oleh Allah SWT. Niatnya memiliki gear profesional diijabah lewat hadiah kamera DSLR Nikon dari manajemen Jawa Pos. Kamera saku lamanya? Diwariskan ke saya. Klop sudah. Kami berdua melesat menjadi fotografer yang menembus jaringan agensi berita dunia: beliau di AFP dan Reuters, saya di AP (Associated Press).
Ujian sesungguhnya dari seorang jurnalis lapangan teruji di medan krisis. Ingatan saya melayang pada tragedi ledakan b*m di pasar Tentena, Poso.
Saya mendapat tugas dari AP, didampingi tim dari Jakarta dan fotografer EPA. Kami menyewa mobil Kijang milik Murthalib, kawan di Radar Sulteng. Di luar dugaan, Pak Basri juga ditugaskan oleh AFP. Dengan barang bawaan tim AP yang menggunung—koper perangkat streaming, tas kamera, dan pernak-pernik liputan—bagasi praktis penuh. Ruang tersisa hanya cukup untuk duduk melantai.
Baca Juga: Suara Pers: Menjahit di Lorong Waktu yang Retak
Apa jawaban Pak Basri? “Tidak apa-apa, yang penting sampe Tentena,” ujarnya enteng.
Di lokasi kejadian, kami bertugas layaknya mesin yang menyala (onfire). Semua sudut momentum menjadi santapan lensa. Namun, tantangan terbesar jurnalis daerah era itu adalah transmisi. Belum ada internet apalagi sinyal seluler di Tentena. Tim kami dari AP cukup beruntung karena membawa perangkat satelit yang dipasang di kantor Sinode GKST.
Lantas, apakah Pak Basri menyerah? Tidak. Begitu urusan potret-mempotret selesai, ia memilih menumpang mobil sayur seorang diri menuju Kota Poso, semata-mata demi mengirimkan karya-karyanya ke kantor berita dunia. Militansi macam apa ini? Saya baru tahu cerita heroiknya itu sepekan kemudian setelah kami kembali bertemu di Palu.
Darah militansi itu tidak pernah luntur. Ia mengalir hingga ujung usianya.
Baca Juga: Kajati Sulteng Bertemu Insan Pers, Dorong Peran Edukasi dan Pencegahan
Ketika gempa bumi magnitudo 7,5 mengguncang Palu, Sigi, dan Donggala, prioritas ganda langsung berkelebat di kepalanya. Di satu sisi, ia harus menyelamatkan anak dan istrinya. Di sisi lain, naluri pewarta fotonya menuntut untuk mengabarkan duka dan kebangkitan tanah tempat dia dan keluarganya tinggal. Fotonya berhamburan disiarkan kantor berita ANTARA, merekam jerit kepanikan hingga kemanusiaan.
Bencana demi bencana di Sulawesi Tengah dihadapinya dengan lensa. Termasuk saat gempa 6,7 skala richter mengguncang beberapa hari lalu. Bersama putranya, Banu yang berusia sekira 8 tahun, ia masih sempat turun ke lapangan.
Siapa sangka, liputan tersebut menjadi karya pamungkas sang maestro perekam cahaya. Tiga hari pascagempa, tepatnya 19 Juni 2026, fisiknya yang telah berjuang keras mengirim pesan kepada dunia akhirnya menyerah. Ia dilarikan ke rumah sakit akibat sesak napas, dan satu jam kemudian, matanya tertutup untuk selama-lamanya.
Baca Juga: Gempa Sulteng Magnitudo 6,7: Satu Warga Meninggal, Kerusakan Terparah di Kabupaten Sigi
Takdir Tuhan memang unik. Jurnalisme mendekatkan kami tidak hanya di ruang redaksi, tetapi juga di ruang kehidupan. Almarhum akhirnya menjadi tetangga saya di Kelurahan Palupi. Rumah kami hanya berselisih satu lorong. Belakangan, takdir menyingkap tabir lain: istrinya ternyata masih terhitung keponakan dari istri saya.
Selamat jalan, Papa Bena, Papa Banu, Pak BMZ. Karyamu abadi, dedikasimu menginspirasi kami yang tertinggal. (*)





